9. Makan malam

7 1 0
                                    


"Pulang naik apa?" tanyaku pada Kale yang masih sibuk menyusut ingus di hidungnya.

Anak itu menoleh, membuat aku meringis melihat betapa merah wajahnya terutama bagian hidungnya itu.

"Naik bus, Mbak," jawabnya parau.

Aku mengangguk. Mengangkat sebelah tangan ku untuk melihat jam berapa sekarang.

Masih jam 18.05 dan janji temu ku dengan Fattah akan terjadi di jam 19.30, jadi aku memutuskan untuk tidak pulang dulu dan langsung menuju ke restoran yang sudah diberitahukan oleh Fattah, karena Fattah yang hendak menjemput ku justru aku larang karena jarak antara kantornya dengan kantorku lumayan jauh.

"Mbak naik bus juga?" ternyata Kale penasaran dengan bagaimana aku akan pulang.

Tapi sayangnya aku tidak akan pulang.

"Enggak sih, kayaknya naik taksi online deh. Soalnya aku enggak pulang tapi ada janji buat ketemu sama Mas Fattah. Mau makan malam," terang ku dengan wajah senang.

Tapi tanggapan dari Kale hanya mengangguk dengan wajah lempeng yang menyebalkan. Anak itu memang tidak pernah tertarik dengan masalah orang lain sehingga baginya cerita tentang aku dan Fattah adalah sama halnya dengan kabar bahwa ada menu baru di kantin kantor kami. Biasa saja.

"Memangnya jam segini masih ada bus?" tanyaku penasaran.

Biasanya kalau menggunakan bus, kami selalu pulang jam lima atau tidak lebih banyak dari itu, tapi sekarang bahkan sudah lebih dari jam enam.

"Enggak tahu, kayaknya sih masih," kata anak itu.

Dia melangkah ke depan, celingukan seakan bus akan terlihat dari tempat kami berdiri, padahal tidak.

"Naik taksi online aja, aku pesenin," tawar ku.

Kasihan juga kalau sampai bus sudah tidak ada dan dia akan kebingungan untuk pulang dalam keadaan tidak enak badan seperti ini.

Kale menoleh padaku, kemudian seperti yang sudah aku duga dia menggeleng, menolak tawaran ku.

"Enggak usah, Mbak. Kalau memang enggak ada bus, saya bisa minta tolong sama adik saya buat jemput."

Keningku berkerut samar mendengar perkataannya. sepanjang aku mengenal anak ini, aku tidak tahu bahwa dia memiliki adik.

"Adik? Kamu punya adik?"

Kale mengangguk. "Punya, dua. Mereka kembar."

Kini mataku membulat takjub. Percaya atau tidak, aku adalah salah satu orang yang menganggap bahwa anak kembar itu menakjubkan dan seperti keajaiban karena mereka memiliki banyak hal mirip satu sama lain, entah itu wajah atau sifat.

"Beneran? Keren! Umur berapa mereka sekarang?"

Aku mendapati Kale yang mengulum senyum geli saat melihat betapa antusiasnya aku.

"Iya bener. Mereka cowok dan sekarang umur tujuh belas tahun, kelas tiga SMA."

"Berarti semua anak Mama Papa kamu, cowok?"

Kale mengangguk. "Makanya Mama sering bawa anak bayi punya tetangga yang perempuan. Katanya, Mama bosan lihat anaknya yang semuanya lelaki. Udah gitu mukanya mirip semua."

Aku tertawa.

"Mereka si kembar juga muka nya mirip kamu?"

Kale mengangguk tanpa ragu.

"Seenggaknya semua orang yang kenal sama kami, bilang begitu."

"Tapi mereka enggak punya prinsip buat enggak pacaran kayak kamu kan?"

Namanya, KalendraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang