"Neng!"
Aku akui aku sudah seperti anak kecil yang langsung berlari begitu melihat Fattah sudah ada di depan rumahku. Pagi ini Fattah menjemput ku di rumah sebagai ganti dari kemarin dia yang tidak bisa mengantarkan aku pulang.
Baik sekali kan pacarku ini?
Dengan senyum seceria mentari pagi, aku melangkah riang memasuki mobilnya. Dia menyambut ku dengan senyum juga walaupun tentu saja tidak selebar senyum yang aku punya.
"Enggak apa-apa kalau aku enggak ketemu sama Papa Mama kamu dulu?" tanyanya sedikit khawatir.
Aku menoleh ke belakang tubuh saat menerima pertanyaan seperti itu. Kepalaku lalu menggeleng.
"Enggak masalah kok. Papa Mama lagi sarapan dan sebentar lagi juga Papa berangkat, jadi kayaknya sekarang Mama lagi sibuk nyiapin bekal buat Papa."
Satu yang spesial dari kedua orang tuaku adalah, sejak mereka pertama menikah hingga sekarang anak bungsunya sudah berumur dua puluh lima tahun, Mama selalu membawakan Papa bekal. Bukan karena mereka pelit, namun karena Papa tidak suka memakan makanan lain selain masakan Mama. Mereka memang se manis itu.
"Oh begitu? Ya sudah kalau memang begitu," balas pacarku itu sambil menyalakan mesin mobil.
Aku memandangi nya dari bangku penumpang. Padahal kemarin siang juga aku bertemu dengan dia, tapi entah kenapa rasanya aku masih saja merindukannya. Ini sebenarnya gawat, karena aku sendiri merasa diriku ini terlalu menyukai Fattah. Tapi aku tidak khawatir, karena aku tahu bahwa Fattah juga sama cintanya denganku.
"Kamu sudah sarapan?" tanyaku.
Fattah menoleh sambil mengangguk.
"Sudah. Kebetulan tadi ada warung baru di depan apartemen, jadi aku sempetin makan dulu di sana. Ternyata buburnya enak, kapan-kapan kamu harus coba."
Aku terkikik. Wajah Fattah yang menceritakan warung bubur baru di depan apartemennya itu lucu sekali.
Oh iya, Fattah memang tinggal sendirian di apartemen karena kedua orang tuanya berada jauh di Singapura. Ayahnya memiliki bisnis di sana sehingga Fattah sudah tinggal sendirian semenjak dia kuliah.
"Kalau begitu, besok aku k apartemen kamu aja pagi-pagi, gimana? Habis itu kita bisa berangkat ke kantor bareng," usul ku.
Fattah langsung mengerutkan keningnya.
"Bukannya itu malah muter-muter? Kalau ke apartemen aku kan arahnya beda sama kantor kamu?"
Aku menyengir, "Ya kan yang penting bisa makan bareng sama kamu dan nyobain bubur yang kamu bilang enak itu."
Pacarku itu tampak tertawa kecil, gemas sekali rasanya aku ingin memeluknya. Sayang, aku masih bisa melihat dengan jelas bahwa pacarku tengah menyetir dan memeluknya secara tiba-tiba sangat tidak disarankan.
"Ya enggak usah begitu. Besok aku jemput kamu lagi aja sambil bawain buburnya. Kan buburnya bisa dibungkus," katanya yang lebih masuk akal daripada saranku yang ribet tadi.
Aku pun tidak membantah dan mengangguk saja.
"Pokoknya kamu enggak akan nyesel. Buburnya memang baru buka seminggu tapi enak dan laris banget. Imel aja kemarin sampai bela-belain datang ke sana buat makan buburnya lagi."
Aku yang semula sedang melihat ke arah luar jendela, langsung menoleh ke arah Fattah.
Mataku mengerjap pelan melihatnya yang masih asik menyetir. Ada sedikit rasa aneh di hatiku setelah tahu bahwa ada yang sudah lebih dulu mencoba bubur ayam di depan apartemen itu daripada aku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Namanya, Kalendra
RomanceAlena tidak pernah menduga jika seorang junior di kantornya yang dia anggap layaknya adik sendiri justru menjadi orang yang paling berjasa dalam menyembuhkan luka hatinya. Namanya Kalendra, pria polos dan kolot yang hanya bersikap seenaknya di depan...