10.Satu cup es krim

8 1 0
                                    

Aku masih tidak mengerti mengapa Kale mau-mau saja datang ke tempat yang jauh ini hanya karena satu pesan yang aku kirimkan. Padahal dia bisa saja mengabaikannya. Atau mungkin dia berpikir bahwa aku sedang menangis karena gagal makan malam bersama dengan Fattah sehingga dia merasa kasihan?

"Itu motor punya siapa?" tanyaku.

Aku lebih tertarik dengan penampakan motor itu daripada kehadiran Kale. Karena jika memang bisa mengendarai dan memiliki kendaraan, mengapa dia harus bersusah-payah menunggu bus setiap harinya?

Kale menoleh ke arah motor yang dia bawa, yang dia parkiran di depan restoran.

"Motor saya," jawabnya.

Dia mengambil duduk di sampingku dengan kaki yang berselonjor.

"Kalau kamu punya motor, kenapa juga kamu enggak berangkat kerja naik motor? Kenapa harus naik bus?" tanyaku penasaran.

Kale sempat terdiam selama beberapa saat hingga membuatku ragu, apakah dia mendengarkan pertanyaan ku atau tidak. Pasalnya kami berada di pinggir jalan dimana banyak sekali kendaraan yang lewat di depan kami dan menyebabkan suara bising.

"Karena motornya dipakai adik saya. Dan saya juga lebih suka naik bus."

Ah, ternyata dia mendengar walaupun dia menjawab delay.

"Orang aneh! Padahal lebih fleksibel kalau pakai kendaraan sendiri jadi enggak khawatir kalau harus pulang di jam yang enggak ada bus."

Kale tersenyum tipis. "Enggak apa-apa. Toh adik saya pasti jemput kalau saya minta jemput."

Aku menggeleng pelan. Mengikuti apa yang dia lakukan, aku juga menyelonjorkan kakiku.

"Kenapa pacar Mbak enggak jadi datang?"

Aku tersentak saat pertanyaan itu akhirnya meluncur juga dari Kale. Sebuah keajaiban, padahal aku pikir dia tidak akan bertanya apapun seperti biasanya.

"Katanya, ada situasi darurat di lokasi proyek makanya dia buru-buru ke sana. Bahkan dia enggak sempat ngabarin sampai aku--"

Aku terdiam. Menunduk dengan senyum miris. Harusnya aku tidak menceritakan kesedihan ku dengan mudah pada orang lain, karena ditatap dengan tatapan iba oleh orang lain itu menyesakkan.

Sebagai ganti dari ucapan yang terputus, aku tertawa pelan sambil menarik napas.

"Ya pokoknya dia enggak bisa karena ada kerjaan, makanya aku langsung keluar. Tapi aku malas pulang makanya dari tadi duduk disini, bukannya aku nungguin kamu loh ya?"

Aku pikir setidaknya Kale akan tertawa, tapi pria itu hanya mengangguk saja.

"Terus sekarang, Mbak mau kemana?"

Aku kebingungan saat Kale bertanya seperti itu. sejak tadi aku memang tidak berpikir untuk pulang, tapi aku juga tidak tahu akan kemana.

Lama tidak mendapatkan jawaban dariku, Kale menoleh.

"Mau makan es krim?" tawarnya.

Aku memiringkan kepalaku.

"Memangnya mau cari es krim dimana?"

Aku penasaran dia akan menjawab apa. Karena sejauh mata memandang, yang ada di sekitar sini hanyalah restoran mewah dan juga beberapa gedung perkantoran. Selebihnya hanya toko kecil yang sepertinya tidak ada penjual es krim.

"Ya dimana saja. Kita cari sampai ketemu. Lagian kan gampang tinggal cari mini market, pasti ada es krim," katanya sambil berdiri.

Aku melihat ke arahnya yang sudah berjalan ke arah motor. Merasa takjub karena melihat Kale dalam wujud lain, menaiki motor setelah selama ini hanya duduk diam di dalam bus.

Namanya, KalendraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang