Sumpah ya! Aku capek? Capek sekali. Dan parahnya, rasa capek yang aku rasakan ini bukan jenis capek yang terasa di tubuh, tapi di pikiran. Penyebabnya adalah karena semua pelamar yang datang benar-benar tidak berkompeten, terutama menurut pandanganku. Walaupun menurut yang lainnya, mereka cukup bisa menjawab semua pertanyaan wawancara yang diajukan oleh kami. Tapi aku masih merasa tidak puas dengan semuanya. Mungkin yang paling 'mending' adalah anak titipan yang sebelumnya aku dan Kale bicarakan. Aku sungguh bersyukur karena dia memiliki kompetensi yang cukup untuk diterima di perusahaan ini.
"Mbak, mau minum teh?"
Dengan tingkat kelelahan yang sangat tinggi, aku langsung mengangguk saat Kale dengan baik hatinya menawari aku segelas teh.
Anak itu langsung berbalik badan. Aku pikir, dia akan langsung menuju ke arah dapur kantor yang ada di ujung ruangan. Namun si baik hati itu malah berhenti di meja Lalisa hingga membuat Lalisa terkejut.
"Mbak Lisa mau?"
Aku mengulum senyum geli saat melihat Lalisa yang salah tingkah padahal hanya ditawari segelas teh hangat.
"Ma-mau," balasnya gagap.
Gemas sekali melihat Kale yang masih saja tidak peka. Dengan tidak berperasaan si lurus itu langsung melanjutkan jalan ke arah dapur kantor. Sedangkan aku langsung tertawa terbahak-bahak hingga membuat Lalisa kesal.
"Tawa aja lo!"
Aku malah semakin tertawa.
"Lagian, kok bisa sih lo tahan suka sama cowok yang bahkan enggak peka kalau lo salah tingkah setiap ditanya sama dia? Gue yang lihat aja gemas."
Lalisa mendengus, dia memainkan kursi putar nya dengan iseng.
"Ya gimana? Kalau bisa sih, gue udah enggak mau suka sama dia semenjak dia nolak gue. Tapi anehnya gue masih saja suka sama dia. Dia enggak punya kekurangan yang bikin gue enggak suka lagi sama dia. Anaknya gemesin banget sampe pengen gue bawa pulang."
Aku semakin tidak bisa mengontrol tawaku. Lalisa memang gila, sudah ditolak tapi masih bisa berkata seperti itu.
Buru-buru aku menutup mulutku saat Kale datang membawa dua gelas kecil berisi teh panas yang masih mengepul.
"Loh, kamu sendiri enggak buat?" tanyaku kaget. Padahal dia yang menawari ku, tapi dia sendiri yang tidak buat.
"Saya udah minum susu tadi."
"Pffttt!"
Aku menahan tawaku saat mendengar jawaban dari Kale. Sumpah ya! Selain kolot dia juga mirip bayi, benar kata Lalisa bahwa Kale memang menggemaskan.
"Apa sih, Mbak? Memangnya orang dewasa enggak boleh minum susu?"
Aku semakin ingin menggodanya saat dia memasang wajah kesal.
"Siapa dewasa? Memangnya kamu udah dewasa? Enggak kelihatan."
Mendengar komentar dariku, Kale berdecak keras sambil melenggang ke arah kursinya.
Aku lagi-lagi tertawa. Sedangkan Lalisa hanya menggelengkan kepala melihat tingkahku dan Kale yang memang selalu seperti itu.
Merasa lelah tertawa, aku akhirnya menyerah. Aku memilih melanjutkan tugasku untuk menuliskan kesan atau kesimpulan dari setiap peserta lamaran. Laporan ini yang nantinya akan diberikan pada Manajer untuk ditindaklanjuti dan dipilih orang-orang yang memiliki komentar paling positif.
Lagipula aku harus memburu waktu jika ingin pulang menggunakan bus. Bus menuju arah rumahku dan Kale tidak selalu ada setiap waktu. Maka dari itu aku dan Kale harus pulang tepat waktu agar tidak ketinggalan bus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Namanya, Kalendra
عاطفيةAlena tidak pernah menduga jika seorang junior di kantornya yang dia anggap layaknya adik sendiri justru menjadi orang yang paling berjasa dalam menyembuhkan luka hatinya. Namanya Kalendra, pria polos dan kolot yang hanya bersikap seenaknya di depan...
