Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

14. Wawancara

45 8 17
                                        

Rumah Nata terlihat sepi tidak ada orang. Dia kemudian mengecek kedalam rumah, ternyata mamanya itu sedang memasak untuk makan siang.

“Mama camer kemana?” Tanya Jaemin saat Nata kembali dari dapur.

“Dih apaan, manggilnya mama camer.” Cibir Nata.

“Becanda..” Jaemin menyengir.

“Mama di dapur, lagi masak.”

Jaemin membalas dengan ber-oh ria.

“Yaudah yuk, kita mulai wawancaranya.” Ucap Nata, lalu naik ke tangga menuju lantai atas.

“Dimana?” Tanya Jaemin.

“Di kamar aku aja, sambil rebahan.”

“Gapapa emang?”

“Gapapa lah, kayak mau ngapain aja.”

“Oh, oke..” Pungkas Jaemin, lalu ikut menyusul Nata.

Sampai di kamar, Nata tidak langsung menyiapkan bukunya yang digunakan untuk mewawancarai Jaemin. Dia malah berlari menuju kasur empuk miliknya dan merebahkan tubuhnya disana.

“Biasain cuci muka dulu kalo abis keluar rumah.” Peringat Jaemin.

Nata menoleh kearah lawan bicaranya. “Mentang-mentang calon dokter, ngomel mulu kerjaannya.”

“Bukan ngomel, aku tuh ngasih tau kebiasaan baik.”

Nata memilih untuk mengalah, daripada pacarnya itu terus mengomeli dirinya. “Iyaiyaa, kamu cuci muka juga sana!”

“Yaudah, barengan aja.”

“Gak! Aku duluan, sekalian ganti baju.”

“Yaudah gih, buruan.”

Nata langsung ngacir kedalam kamar mandi. Tidak lupa, dia juga mengambil baju gantinya.

“Mau mulai sekarang?” Tanya Jaemin setelah selesai mencuci muka.

Nata yang rebahan pun mengangguk, lalu duduk. “Kamu bawa kamera gak?”

“Bawa, mau make?” Tanya Jaemin.

“Iyalah, mau wawancara apaan kalo gak direcord?”

“Yaudah, aku siapin dulu kameranya.” Jawab Jaemin.

“Mau disebelah mana?” Tanyanya.

“Di balkon aja deh, kayaknya bagus.”

“Oke, kamu tunggu bentar.”

Nata mengangguk.

Beberapa menit kemudian..

“Nat, udah nih.” Kata Jaemin.

“Oke, kita mulaii.”

“Ada berapa soalnya?” Tanya Jaemin.

“Kamu nurut aja udah, gak banyak kok.”

Jaemin hanya bisa mengangguk. Didetik berikutnya, Nata memulai rekamannya.

“Assalamu'alaikum wr.wb, perkenalkan saya Jung Jaenata. Apakah benar ini dengan mas Jaemin?”

Jaemin mengangguk. “Iya, benar.”

“Baiklah kalau begitu, apakah mas Jaemin memperbolehkan saya untuk melakukan wawancara?”

“Iya, boleh.”

Nata mengangguk.

“Bagaimana pendapat mas Jaemin tentang pentingnya menjaga alam sekitar?”

NAT-JAEMIN (NCT)☑Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang