"Jam berapa di sana sekarang? Di sini langit sudah gelap."
Kapten bertanya padaku melalui sambungan komunikasi. Proyeksi wajahnya terlihat jelas melalui layar lebar di anjungan.
Sudah beberapa hari sejak Kapten pergi ke permukaan awan Gundarna. Sementara waktu ini, aku yang memimpin Viatrix selaku wakil kapten. Situasi sekitar tampak aman-aman saja. Namun, bukan berarti aku bisa duduk bersantai.
Aku sendiri tengah berdiam di anjungan. Sekarang sudah masuk waktu untuk para kru untuk beristirahat, kecuali mereka yang menapat sif jaga malam.
Aku menjawab, "Jam 8, Milla."
Tak biasanya aku memanggil namanya. Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di sini, aku sudah memandangnya sebagai pemimpin Viatrix. Tak kuduga bisa jadi orang terdekatnya di sini. Untuk kru yang seusia dengannya atau bahkan sudah sepuh, tak ada satu pun yang berani memanggil namanya.
"Tidak tidur?" tanya Kapten kepadaku.
"Aku tidak bisa tidur nyenyak kalau dapat tugas seperti ini." Sebenarnya aku memilih untuk tidak tidur dan memberi jatah istirahat kepada kru komando yang lain. "Kau sendiri tidak tidur? Katanya langit sudah gelap."
Kapten tertawa kecil. "Sebenarnya sekarang sudah dini hari," jawabnya. "Sayang sekali aku tidak bisa melihat bulan. Awannya sangat tebal."
"Bagaimana dengan Anak-Anak? Kerja mereka bagus?" sambung Kapten bertanya padaku.
Aku menyandarkan tubuhku di kursi. Dua tanganku ditaruh di belakang kepala.
"Ya, sejauh ini mereka mau mendengar ucapanku."
Telingaku mendengar suara berulang kali. Ternyata muncul dari perangkat komunikasi yang terpasang di cuping telingaku. Seseorang berusaha menghubungiku.
"Kapten. Aku ada urusan sebentar. Kau sebaiknya istirahat sekarang."
"Baiklah. Tolong jaga Viatrix lagi, ya!"
Layar holografik tetiba padam. Aku mengakhiri laporanku hari ini, yang malah menjadi sesi mengobrol sebelum tidur. Aku segera merespons orang yang hendak menghubungiku.
"Yu'zar, bisa ke ruang makan sebentar?"
Ternyata itu adalah Qamary, perempuan yang bekerja di anjungan sebagai navigator. Dia mengajakku untuk pergi ke ruang makan. Aku tebak para kru komando juga ada di sana.
Aku menjawab, "Baiklah."
Aku segera berjalan menuju ruang makan. Lorong kapal tak sesibuk di waktu siang, sebab hanya sebagian awak kapal yang berjaga di waktu malam. Cahaya di lorong juga remang-remang, menyesuaikan supaya para kru merasakan kantuk.
Beberapa otomaton—hasil pemrograman ulang setelah pasukan milik Serikat tiba—berpapasan di jalan menuju ruang makan. Mereka tak menyapa, tak menyambut. Selain tampak tak punya kelemahan, mereka juga tampak tak punya perasaan termasuk rasa segan dan ramah.
Aku pun tiba di ruang makan. Benar saja, para awak komando ada di sana. Mereka menyajikan satu wajan besar penuh dengan nasi beserta daging cincang dan potongan sayuran.
"Selamat!" teriak seluruh awak komando.
Aku terdiam sejenak. Ini bukan hari lahirku, bukan juga hari lain yang biasanya dirayakan. Seluruh awak komando malah ikut terdiam.
"Untuk pekan pertamamu menjadi pemimpin sementara!" timpal Saviela.
Aku ikut duduk di dekat mereka. "Ayolah, ini tak perlu dirayakan. Lagi pula aku bukan menggantikan Kapten, hanya membantu kerjaannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Viatrix Space Pirates
Science FictionDi masa perompak antariksa mencari kebanggaan. Milla Mazcira, perempuan muda kapten kapal Viatrix harus menghadapi berbagai tantangan untuk mencapai tujuannya, menjadi penguasa gelap tambang mineral antariksa dan sumber energi lain yang tersebar di...
