10. Tanda Bahaya

67 17 6
                                        

Kapal kilang gas alam dan kapal pengangkut dijadwalkan terbang ke area luar angkasa tengah hari nanti. Sudah sekitar satu pekan operasi pengolahan gas alam berjalan dan menghasilkan jumlah yang terbilang luas biasa.

Yah, meskipun semuanya tidak berjalan begitu lancar sebab Yu'zar baru saja melaporkan sebuah kecemasan.

Aku sendiri berada di tingkat tengah di kapal kilang. Kapal ini diberi nama Naxar-3. Dari jendela satu arah, aku melihat pemandangan langit dengan awan pekat berwarna krem-oranye. Kali terakhir aku melihat langit, mungkin. Karena setelahnya aku akan kembali hidup di antariksa lagi.

Seorang wanita menghampiriku. "Nona Mazcira, sebentar lagi kapalnya akan berangkat."

Aku menoleh ke arah wanita yang tampak berumur kepala tiga. "Baiklah. Tolong pastikan semua awak sudah minum obat anti mabuk perjalanan."

"Tuan Demarai ingin Anda memimpin perjalanan lagi."

Aku menghela napas. "Yah, kalau beliau inginnya begitu, apa boleh buat?"

Aku segera mengikutinya berjalan menuju elevator. Kami berdua pun naik ke anjungan. Semua awak sudah berada di posisi masing-masing. Senyap dan penuh konsentrasi, tak seperti Viatrix yang berisik. Karenanya aku jadi rindu situasi di Viatrix sebelum memulai perjalanan.

Ngomong-ngomong soal situasi yang Yu'zar laporkan, mereka menemukan sebuah kapal mencuri prob yang digunakan Yu'zar sebagai pengintai. Meski terdengar seperti pencuri biasa, aku lebih curiga mereka adalah orang suruhan. Untungnya aku tidak merasa khawatir. Aku percaya sepenuhnya pada Yu'zar.

"Kapten Mazcira, semua kapal sudah siap," ujar Tuan Demarai.

Kalau begini, aku lebih terdengar seperti seorang laksamana yang memimpin sebuah armada kecil, bukan seorang kapten. Suatu kesempatan yang aku tunggu-tunggu sejak kedua orang tuaku masih ada.

Aku berjalan ke kursi komando. "Semuanya, duduk tertib dan gunakan sabuk pengaman. Perjalanan memang tidak mulus, jadi kita semua harus bersiap. Aku ingin berterima kasih kepada semua orang di sini, yang sudah bekerja keras sejak kalian tiba di Gundarna."

"Sekarang saatnya berangkat!" seruku.

Mesin pendorong dinyalakan, kecepatan laju kapal dinaikkan. Aku duduk di kursi dengan sabuk pengaman kencang, berharap supaya guncangan tidak membuat kepalaku pusing setengah sadar. Kapal mulai meninggi, begitu juga kapal pengangkut gas alam cair. Penerbangan dimulai, tentunya akan memakan waktu yang tidak singkat.

Guncangan tiba sesaat setelah kapal mulai meninggi. Benar saja, belum ada satu menit standar, perutku sudah mual. Aku mencoba mengatur napas, orang bilang aku perlu tenang jika sedang mabuk perjalanan.

"Siapa pun tolong aku!" ucapku dalam hati. Ayo, Milla, tahan sedikit lagi.

Perangkat asisten kecerdasan buatan melaporkan tanda bahaya. Bukan sesuatu yang ingin aku dengar sekarang. "Peringatan, kecepatan angin diperkirakan meningkat dalam kurun waktu dua menit lagi."

Pertanda bahaya, guncangan bisa menjadi lebih kencang lagi dalam hitungan menit. Aku memegang pegangan kursi dengan erat, mempersiapkan diri. Benar saja, tubuhku terguncang-guncang meskipun sabuk pengaman melilit erat.

Aku memegangi pegangan semakin kencang untuk menghambat goyangan tubuhku. Aku berharap ini bukan badai abadi. Aku sudah tidak kuat menahannya.

Guncangan akhirnya mereda seketika. Aku segera menatap layar kendali dan memeriksa keadaan. Ketinggian kapal sudah berada di lapisan atmosfer paling luar. Sial, sudah berapa lama aku menahan mual?

Melalui jendela pantau satu arah, kini pemandangan beralih menjadi langit hitam gelap. Sudah tiba. Aku dan Kapal Naxar-3 yang bukan milikku sudah tiba di area ruang angkasa Gundarna. Situasi sudah mulai tenang, aku pun mencoba menenangkan ritme napas. Beberapa awak sudah lari dari pos mereka. Sudah pasti mereka akan rebutan kamar mandi setelah guncangan hebat tadi.

Viatrix Space PiratesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang