"YU'ZAR!"
"YU'ZAR!!"
"YU'ZAR!!!"
Aku meneriakkan namanya berulang kali. Tak kudapati suaranya membalasku. Aku kehilangan kontak dengan Yu'zar sesaat setelah pesawatnya meledak. Anra masih berkutat dengan pesawt-pesawat musuh yang berdatangan. Satu melawan empat, hampir mustahil.
Aku terus memegangi kepalaku yang semakin pusing. Aku memantau layar yang menunjukkan perbedaan jarak antara Viatrix dan kapal musuh semakin signifikan.
"Anra, kembalilah ke hanggar. Sekarang!" ucapku.
"Tidak!" teriaknya.
"Tolonglah."
Dia tidak membalas setelah itu. Aku kembali menatap layar sembari berharap dia mengikuti perintahku. Dia melawan pasukan terakhir musuh, dengan teriakan yang muncul di saluran komunikasi.
"Matilah kalian, yang hidup tapi tak berjiwa!" Begitulah An berteriak, sangat melengking hingga memekakkan telinga. Aku bisa rasakan semua perasaannya berpadu, membentuk nada yang siapa saja tak ingin mendengarnya.
Aku memandangi pantauan radar dengan perasaan tak percaya. Anra mengalahkan musuh-musuh di sekitarnya, satu demi satu hingga bersih. Aku memunculkan tampilan kamera kokpit milik Anra. Aku bisa melihat medan pertempuran, di mana pesawat milik Anra berkelok-kelok, menembak, dan membuat pesawat musuh meledak seketika.
Tampaknya tak ada yang mustahil selagi cahaya harapan masih bekerlapan.
"Maaf, Kapten, aku akan segera kembali," ucapnya, membuatku yakin dia benar-benar berhasil mengalahkan pesawat musuh.
Aku mengembuskan napas kencang. "Bagus. Tapi tolong, lain kali jangan gegabah. Aku ... tidak ingin kehilangan lagi."
Aku menundukkan kepala. Terakhir kali pesawat Yu'zar terdeteksi layar berada di arah sekitar 30 derajat dari timur menuju timur-selatan. Sementara jalur putaran kapal akan menuju barat, dan musuh berada di utara. Artinya jarak kami akan semakin jauh karena kami akan bergerak berlawanan arah.
"Kapten, Kapal sudah siap berputar." Qamary memberi peringatan.
Sementara itu, aku menunda keputusan untuk membuat kapal lebih jauh. Mungkin jika Viatrix berputar ke arah lain, kesempatan untuk menemukannya akan jadi lebih tinggi. Aku begitu yakin Yu'zar masih hidup, tetapi aku tak bisa begitu saja mengubah rencana.
"Putar kapal!" ucapku, dengan berpura-pura tegar. Aku tahu, ini seperti aku meninggalkan Yu'zar yang menghilang. Tetapi aku harus melakukannya, untuk Viatrix.
Kapal mulai berputar. Di layar, sebuah trayektori muncul berkat perangkat Vidi yang mampu menganalisa. Kapal akan melintasi sebuah lintasan yang melingkari kapal musuh, lalu melarikan diri.
Pecundang, memang. Di saat pertempuran, yang kupikirkan hanyalah melarikan diri. Tetapi menjadi pecundang lebih baik daripada menjadi debu antariksa.
"Kapal sudah berputar, Kapten!" ujar Qamary.
Aku masih menatap layar holografik dengan tajam. Tepatnya aku melihat ke pantauan radar di mana pesawat milik Yu'zar terakhir kali terlacak. Aku terhanyut dalam lamunan, tatapanku juga menjadi kosong.
"... Kapten!"
Suara seorang terdengar, tetapi lamunanmu membuatnya menjadi samar.
"Serangan datang, Kapten!"
Aku terperanjat. Lamunanku seketika pecah. Sebuah serangan membuat kapal berguncang. Aku hingga terhempas dan berteriak. Layar anjungan berkedip merah, mengindikasikan sebuah bagian kapal menerima kerusakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Viatrix Space Pirates
Science FictionDi masa perompak antariksa mencari kebanggaan. Milla Mazcira, perempuan muda kapten kapal Viatrix harus menghadapi berbagai tantangan untuk mencapai tujuannya, menjadi penguasa gelap tambang mineral antariksa dan sumber energi lain yang tersebar di...
