10

136 6 0
                                        

Cici berjalan santai di koridor rumah sakit, hari ini jadwal kampusnya sedang kosong jadi ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk melihat lihat, walaupun ia hanya disuruh membantu setiap hari rabu dan sabtu saja.

tok tok

"Masuk!" Cici membuka pintu bercat putih yang tadi bar saja ia ketuk.

"Loh, Ci, ko ga bilang sama tante kalo mau ke sini?"

"Hehe,iya tan. Tadi kepasan dosen batalin kelas jadinya Cici ke sini deh,'ucapnya nyengir,sedikit merasa bersalah karena tidak memberi kabar dulu.

"Oalah gitu, yaudah sini duduk dulu, tante baru aja mau nyusun berkas pasien."

Cici berjalan ke sofa panjang di depan tante Clarisa. Pandagan Cici terjatuh pada meja sofa, ada banyak makanan ringan dan satu kotak besar ayam crispy?

"Tan ...,"belum sampai Cici bertanya terpotong dengan seseorang yang masuk.

"Selamat siang,Bu Clarisa," sapa wanita paruh baya yang baru saja masuk ruangan tante Eca a.k.a tantenya mia.

"Oh hei, Bu Dina."Eca terlihat langsung berdiri menghampiri yang tadi di sapa dengan Dina tadi.

"Silakan masuk, Bu,"sambungnya dengan tersenyum ramah.

Cici refleks berdiri membungkuk ramah menyilakan Dina dan seorang remaja? untuk duduk di sofa panjang dan ia berdiri di belakang Clarisa yang duduk sofa single.

Arah pandang Dina pun beralih ke aah Cici.

"Ini Cici ,keponakan sekligus asisten saya,"jelas Clarisa yang tau maksud Dina.

"Oh ...," Dina mengagguk paham.

"Halo Galen,"sapa Clarisa kepada anak remaja yang duduk di samping Dina yang dari tadi terus memegang ujung baju Dina, terus menunduk.

Remaja itu mendongak ke arah Clarisa dan tersenyum lucu.

"Anjir, ganteng," batin Cici.

"Maaf Bu Clarisa, ngerepotin terus,"ucap Dina dengan senyum tidak enak.

"Tidak apa-apa Bu Dina, itu sudah jadi tugas saya,"balas Clarisa menenangkan. Setelah percakapan singkat Dina berpamitan dan meninggalkan remaja itu sendiri. Satu hal yang ditangkap Cici dari percakapan keduanya, ternyata remaja laki-laki tersebut mengidap litle space. Dimana kondisi mental seseorang jatuh di usia yang lebih muda dari usia sebenarnya, biasanya dipicu karena depresi berat atau gangguan kecemasan yang berlebih.

note: itu sih yang author tau maaf kalo salah:v

Dan ternyata Dina menitipkan anaknya ke Clarisa karena ia ada kepentingan mendesak dan memang anaknya tidak bisa di tinggal sendiri terlebih Dina lebih percaya kepada dokter proibadi anaknya itu dan alasan terkuatnya bahwa Galen  lebih akrab dengan Clarisa dari pada baby sister  yang di siapkan olehnya.

"Oke, Galen, kenalin ini Cici, keponakan tante," tunjuk Clarisa ke Cici.

"Halo Galen." Cici melambaikan tangannya dan tersenyum khas seperti berkenalan dengan anak kecil. Sedikit tau informasi anak itu dari Clarisa bahwa ia tejebak di usia kisaran blima sampai tujuh tahun. Pantas saja tadi Cici meliohat meja Clarisa dipenuhi  makanan dan camilan ternyata disiapkan untuk Galen.

***

"Galennn, ayo ke taman?" ajak Cici  semangat, tidak mudah Cici mengakrabkan dirinya dengan anak itu karena sifat kecil Galen yang cenderung pemalu dan introvert.

"Ayooo," ucapnya menganggukan kepalanya antusias, lucu satu kata yang telintas dipikirannya saat ia besama Galen, anak yang memiliki postur tubuh tinggi,kulit putih, hidung mancung, dan memiliki wjah baby face walaupun usianya sudah terbilang sedikit dewasa, dan satu  falta lagi bahwa teryata Galen lebih tua satu tahun lebih tua darinya.

************

HAI HAI BALIK LAGI, SAMPE SINI DULUUU JAANGAN LUPA KOMEN DAN TEKEN BINTANG OKEYYYY
SEE YOU DI NEXT CHP!!!1

SPOILER NEXT CHAPTER

"Kata mamah, Galen bisa panggil sayang sama orang Galen suka"

PAK DOSEN!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang