"Kota Jeonju ya?" Kim Bum mengambil ponselnya yang berada ditepi meja nakas. Dia bernafas lirih sambil memainkan ponselnya dan mencari sebuah penginapan. Ya, dia akan bergerak sendiri tanpa bantuan dari rekan-rekannya. Jeonju sangatlah jauh dari wilayah Busan, 189 km untuk menempuh jarak dari Busan kesana. Ia dengan sigap memesan tiket pesawat di hari yang lebih awal dari hari keberangkatan rekan-rekannya.
"Aku akan bergerak sendiri So Eun, demi dirimu aku akan mengambil semua resiko berat ini." Kim Bum bergegas keluar dari Kamar tidurnya. Jinsuk! Dia sedang bersandar di tepi sofa panjang berwarna abu-abu itu, sambil memainkan ponselnya ia melirik sedikit ke arah Kim Bum.
"Ternyata kau sudah bangun hah?" Tanyanya kepada Kim Bum. Kim Bum tersenyum tipis menanggapinya sambil berjalan ke arah pintu keluar.
"Yak! Kau mau kemana Bum?" Kesal Jinsuk sambil beranjak keluar mengikuti Kim Bum.
"Pulang lah!" Ketus Kim Bum, dia berjalan menuju keluar rumah dengan wajah kusutnya yang nampak letih.
"Kau bisa tinggal disni untuk sementara kawan."
"Aku membutuhkan kamar mandi yang bersih, kamar mandimu kotor aku tak betah." Ledek Kim Bum.
"Dasar pria tidak jelas."
Kim Bum melenggang pergi menuju Apartemennya dan berjalan dengan cepat. Cuaca hari ini sangat mendukung dia untuk bersedih, bagaimana bisa awan mendung menyelimuti kota Busan terlihat sama dengan perasaannya saat ini. Sangat kalut dengan amarah dan kesedihan membuat Kim Bum ingin berputus asa, tapi dia tahu. Wanitanya kini sedang menunggu kedatangannya, menyelamatkannya dari kekangan pria sialan yang telah merubah segalanya. Akankah dia bisa mengatasi semua ini dengan sendirinya? Ya, dia tidak ingin relan-rekannya membantunya karena dia tidak ingin melibatkan mereka dengan perasaannya.
******
Disisi lain dengan perasaan amarahnya, wanita itu berjalan bolak balik sambil memikirkan semua cara yang akan ia coba. Kim So Eun, ia ingin segera pergi meninggalkan rumah jahanam ini dengan bebas, ia ingin kembali menemui kekasihnya yang sangat ia sayangi. Kim Sang Bum, pria itu kini sudah memenuhi pikiran dan hatinya. Ada sedikit perasaan bersalah ketika sudah menuduh pria itu atas kematian ayahnya, ia sudah tau siapa yang telah membunuh ayahnya. Xavier! Pria keji itu bertahun tahun telah mengelabuhinya dan menghasutnya agar So Eun menjauh dari Kim Bum dan membenci pria itu.
"Honey." Suara berat milik Xavier menggelegar ke sudut ruangan. Dengan perasaan benci So Eun berjalan ke arah pria itu. Dengan tangan mulusnya ia berlari dengan mengepalkan kedua tangannya dan menggertakkan gerahamnya. Dan setelah dia berhadapan dengan pria itu, ia menatap benci kearah pria itu. Satu tamparan melayang ke wajah mulus sang pria.
"I hate you! " Terdengar nada penekanan dari sang wanita dengan waah yang berlinang air mata.
"What's going on honey? " Tanya Xavier dengan perasaan bingung.
"Persetan dengan apapun, kau sudah membunuh ayahku!"
Terkejut? Ya, Xavier sangat terkejut dengan kemarahan So Eun dan kata yang dilontarkan wanita itu. Bagaimana ia tau? Bagaimana kekasihnya tau semuanya?
"Kau pasti bertanya -tanya bagaimana aku bisa mengetahuinya? Kau lupa akuu memiliki koneksi yang kuat untuk mengusut kasus kematian ayahku."
"Mengapa kau berkata seperti itu? Aku? Kau menuduhku tanpa ada bukti yang jelas? Oh god! So Eun aku sudah memberitahumu berkali kali bahwa aku mencintaimu, tidak mungkin aku membunuh ayah dari wanita yang aku cintai. Sudahlah, terima saja faktanya bahwa Kim Bum yang membunuh ayahmu. Semua bukti sudah tertuju padanya, lantas mengapa kau menyalahkanku atas semua ini?" Jelas Xavier dengan nada liri.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wicked Woman
أدب الهواة'When you've been sky high. There's one path left to go! ' [Sad Or Happy ending?] «Tergantung Readers yang baik hati dan tidak sombong dan tidak pelit akan Vote-annya:D»
