Kehidupan Kayla

3.3K 169 7
                                        

Siska menatap putra semata wayangnya dengan bingung. Ia menggelengkan kepalanya dan kembali melihat majalah yang sedang ia baca diatas pangkuannya.

"Ma." Panggil Allen.

"Hm." Jawab Siska berdehem.

Allen menghembuskan nafasnya mendengar jawaban Siska. Ia merasa sangat malu jika tujuannya datang kerumah ini hanya untuk menanyakan tentang Kayla. Tetapi jika dirinya tidak bertanya, hati dan pikirannya merasa penasaran.

"Ma." Panggil Allen kembali.

"Al, ini udah yang kelima kalinya kamu manggil Mama!" Jengah Siska.

"Itu.. anu.."

"Itu, anu! Apa, Al?!"

"Kayla. Mama tau apa yang terjadi dengan keluarganya?"

Mendengar pertanyaan Allen, Siska mengangkat kepalanya. Ia menatap anak laki-lakinya itu dengan pandangan bertanya. "Kenapa memangnya?"

"Kemaren, Al nginap dirumah Tante-"

"Mama!" Potong Siska.

"Ck! Iya, Mama Leni."

"Trus?"

"Al liat, Kayla dan Mama Leni bertengkar. Trus, Mama Leni nampar Kayla."

Siska menghela nafasnya mendengar itu. Ia menutup majalah yang ia baca dan meletakkannya diatas meja.

"Apa yang mau kamu tau?" Tanya Siska.

"Semuanya. Termasuk, Papa Kayla." Jawab Allen.

"Mama gak tau harus ngomong darimana. Tapi yang jelas, hidup Kayla dari remaja udah sangat menderita."

"Maksud Mama?"

"Kayla dan kedua orangtuanya pindah ke kota ini beberapa tahun yang lalu. Papa Kayla berasal dari kota ini, dan Mama Kayla berasal dari kota ditempat mereka tinggal sebelumnya."

"Kakaknya?"

"Kuliah diluar kota. Kebetulan Zia dapat beasiswa kuliah di Universitas ternama."

"Lalu? Dimana letak penderitanya?"

Allen benar-benar bingung dengan penderitaan yang dibilang Siska. Ia mendekati wanita itu dan duduk disampingnya.

"Singkat cerita, Leni dan Tio bercerai setelah pindah ke kota ini." Lanjut Siska.

"Cerai?" Beo Allen.

"Mereka bercerai setelah keluarga Tio ikut campur dan menghasutnya agar menceraikan Leni. Keluarga Tio memang sedari awal tidak menyukai Leni. Terlebih, dengan Zia dan Kayla."

"Alasan Mama Leni dan Papa Tio cerai karna apa?"

"Tio lebih mementingkan dan menyayangi saudara dan keponakan-keponakannya ketimbang anak istrinya sendiri. Dia lebih baik berpisah dengan Leni bersama kedua anaknya daripada harus berpisah kembali dari saudara dan semua keponakannya."

Mendengar itu, Allen benar-benar terkejut. Ia tidak menyangka jika ada seorang ayah yang tega dan rela membuang anak kandungnya sendiri demi anak orang lain.

"Lalu, kenapa Mama Leni gak pulang aja ke kampungnya lagi?" Tanya Allen.

"Setelah perceraian itu, Leni menjadi depresi. Dia suka menangis sendiri dan berteriak ketika mengingat Tio. Amarahnya juga tidak stabil dan kerap melampiaskannya kepada Kayla."

"Mama Leni sempat gila?"

"Enggak, Leni hanya mengalami depresi tapi tidak gula. Seperti yang kamu bilang tadi, Leni sering memukul dan memaki Kayla kalau depresinya kambuh."

Mengukir Luka (Short Story)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang