Sosok pria bersurai putih menghampiri Toji yang duduk di depan meja dalam sebuah bar. Ia sebenarnya tidak bisa minum alkohol namun disana pasti juga menyediakan minuman non alkohol bukan? Pria itu pun duduk disamping Toji lalu merebut rokok di bibir Toji sebelum menghisap rokok bekas Toji tersebut.
Kini mereka berada di Gay bar. Beberapa pasangan sesama pria tampak memadu kasih di beberapa sudut meja bahkan ada yang terang-terangan berciuman. Disini mereka tak perlu merasa cemas, tempat ini memang dikhususkan bagi orang seperti mereka.
"Apa sekarang yang menjadi masalahmu Toji?" ucap pria itu seraya meninum minuman pesanannya. Ia walaupun bukan peminum namun ia adalah langganan di bar ini termasuk Toji juga. Hanya tempat ini yang bisa mereka tempati karena privasi disini sangat dilindungi.
"Anakku sepertinya ada masalah, aku mengkhawatirkannya." ucap Toji seraya menyesap minuman pesanannya juga.
"Kau selalu seperti ini, kau khawatir tapi tidak mau melakukan apapun. Walaupun Megumi bilang tidak memerlukan bantuanmu kau harus sesekali memaksa Toji."
"Kau belum punya anak mana mengerti bagaimana rumitnya hubungan anak dan orangtua Satoru."
"Yah karena aku tidak menyukai wanita, bagaimana aku punya anak? lain denganmu yang bisa menikahi seorang wanita." Satoru tersenyum kecut lalu kembali menyesap rokoknya.
"Kau lupa pernikahan kami hanya untuk formalitas? istriku juga memiliki orang yang ia cintai." Toji merebut kembali rokoknya dan gantian ia yang menghisap rokok tersebut.
"Aku dengar harapan hidup istrimu kecil, setidaknya kau harus berada disisinya selama sisa waktu yang ia miliki."
"Aku sudah melakukannya Satoru tapi dia selalu mendorongku menjauh. Ia tidak mau aku terlarut dalam kesedihan karena itu ia memintaku mempererat hubunganku denganmu." Toji menatap Satoru lalu menghembuskan asap rokok ke wajah pria bersurai putih tersebut.
"Dia wanita yang bodoh, aku akui itu." ucap Satoru dengan sorot mata yang berubah. Ada kesedihan dalam bola mata tersebut walaupun bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.
Toji menghembuskan nafas lalu menggenggam tangan Satoru. "Semua orang berhak mencintai orang yang ia cintai tapi tak semua orang bisa memilikinya." ditatapnya bola mata sebiru lautan tersebut. "Sama halnya dengan kita bertiga, kita mencintai orang yang tak bisa kita miliki."
"Aku memang ingin memilikimu Toji tapi tidak dengan cara diam-diam seperti ini. Istrimu memang mendukung hubungan kita karena ia juga memiliki orang yang ia cintai tapi aku ingin hubungan kita bukan hubungan rahasia seperti ini."
Toji hanya terdiam tidak tahu harus mengatakan apa. Ia dan Gojou Satoru sudah lama saling mencintai namun karena tuntutan orangtuanya di masa lalu membuat Toji harus menikahi istrinya yang tak lain adalah ibunya Tsumiki dan Megumi. Istrinya juga tidak mencintai Toji namun sama halnya dengan Toji, karena tuntutan keluarga pernikahan pun pada akhirnya berlangsung.
Kini kedua orangtua Toji telah tiada dan harusnya bisa saja ia menjalin kasih dengan Satoru secara terang-terangan namun pernikahan bukanlah hal yang bisa disepelekan semacam itu. Toji kini telah berkeluarga dan memiliki dua anak, istrinya juga kini tengah sakit keras dan ia bukanlah pria yang meninggalkan hal yang menjadi tanggung jawabnya begitu saja demi kesenangan pribadi. Di sisi lain ia juga menginginkan keberadaan Satoru tetap disisinya. Hubungan mereka terlalu rumit untuk dijalankan.
.
Pagi hari ketika Sukuna terbangun ia mendapati rumah dalam keadaan kosong. Ia sempat mendatangi kamar Megumi untuk mengecek apakah dua orang itu masih tidur? namun kamar juga dalam keadaan kosong.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Relationship
FanfictionBisa dibilang, mereka memiliki suatu hubungan yang buruk. Sukuna yang merupakan suami Megumi berpaling dari Megumi dengan alasan bosan setelah Megumi mengalami kelumpuhan lalu Yuuji yang memang mencintai Megumi sejak lama memberikan cinta yang membu...
