Disclaimer : Cerita ini adalah fiksi dan murni berasal dari fikiran penulis. Seluruh adegan dan pemeran disesuaikan dengan kebutuhan penulis, dan jika ada kesamaan nama atau tokoh yang dipakai, itu adalah sebuah kebetulan. Credits untuk seluruh gambar yang digunakan berasal dari Pinterest. Be wise and don't put a hate into the character.
Don't forget to VoMent
Happy Reading!!!
***
Lalisa menyamankan kepalanya pada bahu Zachary, mereka duduk bersisian di kepala ranjang sambil membaca buku masing-masing untuk membunuh waktu. Kemarin, Zachary berhasil meluluhkan hati Lalisa yang merajuk akibat permintaan yang ia sampaikan sebelumnya kembali mendapatkan penolakan. Sebenarnya Lalisa juga tidak benar-benar marah. Ia hanya merajuk dan itu pun tak bertahan lama. Hanya saja, melihat bagaimana Zachary memperlakukannya sama ketatnya dengan semua saudarinya membuat Lalisa merasa agak kecewa.
Zachary berhasil membuat sang gadis menurut untuk tetap beristirahat di tempat tidur dan beristirahat. Bahkan untuk urusan kamar mandi pun, Lalisa akan dibantu oleh seorang pelayang yang selalu berjaga di depan kamar. Di dampingi kemanapun dan segala kebutuhannya akan disediakan tanpa ia perlu repot-repot mengangkat jadi bahkan hanya untuk meminta.
Sudah dua hari Lalisa menempati kamar sang putra mahkota dan tidak pergi kemanapun, membuatnya sangat bosan karena hanya bisa menghabiskan waktunya di atas tempat tidur dengan kegiatan yang itu itu saja.
"Yang Mulia." Zachary bergumam sebagai balasan atas panggilan lirih dari gadis pujaannya.
"Apa Yang Mulia tidak merasa lapar?" Lalisa menutup buku di pahanya dan menengokkan kepalanya untuk menatap Zachary yang juga segera menutup bukunya.
"Kau lapar?" Zachary pun memfokuskan pandangannya penuh pada Lalisa. Keningnya berkerut karena seingatnya, mereka baru saja selesai makan siang beberapa jam yang lalu.
"Hmmm sedikit. Sebenarnya aku lebih ingin memasak saat ini." katanya mencicit di akhir kata. Belum sempat Zachary membalas, Lalisa sudah kembali menyandarkan kepalanya kembali pada bahu Zachary.
"Tapi aku tau kau tak akan mengijinkan aku untuk melakukannya." Zachary menghela nafasnya pelan.
"Cepatlah sembuh. Arthur sudah bilang kalau kau akan sembuh jika makan dan istirahat dengan baik kan?" Zachary mengelus kepala Lalisa dengan lembut sambil memberi pengertian, bahwa dokter yang ia datangkan langsung dari istana pagi tadi bahkan menyuruhnya untuk banyak-banyak beristirahat.
Tenggelam dalam kesunyian setelah permintaannya kembali ditolak, pintu kamar yang diketuk dari luar terdengar jelas dan berhasil mengambil perhatian keduanya. Zachary menyahut untuk mempersilakan sang pengetuk untuk masuk yang kemudian, terlihatlah dua orang pelayan membawa sebuah nampan berisi beberapa obat herbal yang telah diresepkan khusus untuk Lalisa.
"Terima kasih Beatrice, Annie." kata Lalisa pada pelayan yang sudah banyak membantunya sejak kedatangannya ke kediaman ini.
"Silahkan dinikmati Yang Mulia, Nona." mereka kembali keluar dari kamar. Membiarkan Zachary mengambil alih dan mulai menyiapkan beberapa obat lain yang harus Lalisa minum untuk membantu proses penyembuhannya.
Zachary dengan telaten menyuapi Lalisa cairan kental yang terbuat dari berbagai tumbuhan herbal termasuk jahe yang khusus ia pesan kepada koki istana, sesuai dengan resep yang dokter berikan. Ia sesekali mengusap jejak ramuan obat dari sudut bibir Lalisa menggunakan jarinya sendiri lalu menjilatnya. Lalisa beberapa kali protes karena selain memalukan, Zachary bisa saja tertular olehnya. Tapi siapa yang dapat mencegah Zachary si keras kepala?
KAMU SEDANG MEMBACA
Lalisa : The 7th Day Princess
FanfictionZachary harus melewati 7 hari sebelum bisa mewujudkan keinginannya untuk menjelajah kerajaan Cornwell. Apakah keinginannya bisa tercapai dengan mudah ? Atau ia akan terjebak bersama salah satu dari tujuh bunga paling indah diseluruh penjuru kerajaan...
