Di sebuah ruangan yang diselimuti nuansa putih, steril, dan dingin, terbaring sesosok Alpha yang masih tampan walau nampak sekali pucat dan tak berdaya. Kabel-kabel medis menjuntai dari tubuhnya, terhubung pada monitor-monitor yang menampilkan garis-garis bergelombang tak beraturan. Adanya selang-selang penyambung kehidupan yang masuk ke hidung dan lengannya menunjukkan bahwa ia tengah di ambang hidup dan mati. Setiap hembusan napasnya terdengar berat, seolah perjuangan.
Sean Anderson.
Setelah pertarungan hebat antara dirinya dan Dean pada Sabtu malam yang mengguncang seluruh negeri, Sean langsung dibawa menggunakan ambulans. Sirene meraung membelah malam, mengantarkannya menuju rumah sakit terdekat, Blue Hospital, rumah sakit terbaik milik klan River Blue. Memang bukan rumah sakit milik klannya, tapi apa boleh buat, ia sangat membutuhkan tindakan medis sesegera mungkin. Kondisinya kritis, tak ada waktu untuk memindahkan dia ke rumah sakit yang lebih jauh, meskipun itu berarti harus bergantung pada musuh bebuyutan.
Sean sekarat. Alpha Superior yang mendominasi, calon pemimpin Pack Diamond King, kini tengah di ambang hidup dan mati. Sudah terhitung lima hari lamanya ia terbaring di bangsal yang dingin dan sepi itu. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kebiruan, dan seluruh tubuhnya dipenuhi perban yang menutupi luka-luka dalam akibat pertarungan brutal itu. Napasnya teratur, namun lemah, seolah setiap hembusan adalah pinjaman dari takdir.
Satu-satunya jalan untuk menyelamatkannya hanyalah dengan menemukan matenya. Dalam dunia mereka, meminum darah dari mate merupakan obat ajaib, penawar bagi semua jenis luka, entah itu ringan atau parah, bahkan yang paling mematikan sekalipun. Kekuatan ikatan jiwa mereka bisa menghidupkan kembali jiwa atau fisik yang sekarat. Maka dari itu, berita pencarian mate calon pemimpin Pack Diamond King itu telah disebar luas ke seluruh negeri, memicu pencarian besar-besaran yang dipimpin oleh klan Sean sendiri.
Namun sayang, sudah lima hari berlalu, tapi tato kuncup lotus yang dijaga seekor naga gagah berani itu belum ditemukan di salah satu gadis Omega atau Beta di seluruh negeri. Harapan semakin menipis seiring berjalannya waktu. Klan Diamond King diliputi kecemasan.
Kini hanya tersisa secuil harapan agar Alpha dominan itu akan kembali sadar, membuka matanya, dan kembali berdiri tegap. Setiap detak jantung Sean adalah hitungan mundur bagi mereka.
Di ruang tunggu rumah sakit yang sama, nuansa cemas dan putus asa menyelimuti udara. Andy James Savior, salah satu Alpha kepercayaan ayah Sean, duduk di samping sang pemimpin pack, Tuan Anderson, yang tampak lelah dan rapuh. Kantung mata Andy terlihat jelas, menandakan bahwa ia sudah berjaga berhari-hari tanpa istirahat.
"Sudah lima hari Sean terbaring di sana, Tuan," suara Andy terdengar parau, sarat kecemasan. "Tapi belum ada informasi terbaru mengenai matenya. Pencarian terus kami lakukan, tapi hasilnya nihil. Jika dua hari lagi masih seperti ini, dapat dipastikan ia tidak akan tertolong dan... mati." Kata 'mati' itu keluar dengan berat, sebuah momok yang tak ingin mereka bayangkan. "Bagaimana ini Tuan?"
Tuan Anderson, pria paruh baya dengan raut wajah yang biasanya keras dan penuh wibawa, kini hanya terdiam membisu. Bahunya merosot, tatapan matanya kosong menatap lantai marmer. Dirinya juga tidak tahu bagaimana jika anak semata wayangnya, penerusnya, tidak selamat. Pikiran itu seperti pisau yang mengoyak hatinya.
"Ini salahku..." lirih Tuan Anderson, suaranya bergetar, penuh penyesalan. "Mungkin seharusnya waktu itu aku tak menyuruhnya untuk melawan Alpha dari River Blue itu. Aku terlalu dibutakan oleh ambisi untuk menunjukkan superioritas Klan Diamond King. Apalagi ternyata Alpha River Blue itu adalah seorang Alpha Terpilih..." Ia meremas jemarinya, menyesali setiap keputusannya. "Strategiku malah menghancurkan diriku sendiri, bahkan penerusku."
Tidak. Ia tidak boleh menyerah. Ia harus bisa membuat Sean selamat. Sean adalah satu-satunya harapan klannya, pewaris mutlak, dan yang terpenting, anaknya. Ia tidak punya pilihan lain. Pikiran Tuan Anderson berputar cepat, mencari setiap kemungkinan, setiap celah harapan, meskipun itu berarti harus melanggar aturan atau melakukan hal yang tak terpikirkan sebelumnya.
Di lain sisi kota, di kamar Brian yang berantakan dengan poster game yang menempel di dinding dan tumpukan comic yang menggunung, Brian tengah mengoceh ria. Ia duduk di pinggir kasurnya, sambil menyuapi Alpha putih pucat yang tengah asyik memainkan game di PC-nya. Dean duduk di kursi gaming, menghadap lurus ke depan monitor besar Brian, fokus pada layar tanpa menunjukkan sedikit pun minat pada ocehan temannya. Sudut bibir Dean masih terlihat pecah dan ada memar samar dibeberapa bagian wajah dan tubuhnya, sisa pertarungan brutal Sabtu malam lalu. Luka yang kecil, namun cukup untuk mengingatkan Brian akan kejadian itu.
"Dean, lu ga mau jenguk Bang Sean yang lagi sekarat noh gegara kemaren kalian baku hantam?" tanya Brian, sambil menyodorkan sepotong keripik kentang ke mulut Dean. Brian sendiri sudah menghabiskan tiga bungkus keripik sendirian.
Dean tidak menjawab. Matanya tetap terpaku pada layar, jari-jarinya lincah menari di atas keypad dan mouse. Sebaliknya, ia hanya kembali membuka mulutnya, sedikit menganga, pertanda meminta untuk disuapi makanan ringan kembali. Ya, dia tidak ada rasa peduli. Sedikit pun.
"Dasar, punya temen satu-satunya gini amat," Brian menggerutu, namun tetap menyuapi Dean dengan sabar. "Sabar, sabar. Kalau sabar itu nanti tambah gans. Aw!" Brian mendadak memekik, mengusap kepalanya. Dean baru saja menoyor kepalanya tanpa ampun, tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Apasih bah, maen toyor aja. Udah enak gua siapin jajan. Jahanam kali kawan aku ini," dumal Brian, mengusap kepalanya yang sakit.
Si Alpha pucat yang mendengar lantas memicingkan matanya. Tatapannya dingin, namun ada nada sarkasme yang samar di baliknya. "Jahanam? Ini gua maen game buat siapa emang, huh?!"
Brian terkekeh malu. Dia tahu Dean sedang berusaha mendapatkan skin legendaris incarannya di game itu. Brian sendiri sudah mencoba berhari-hari, namun skill bermainnya belum setingkat dewa seperti Dean. Jadi, ia memanfaatkan kesempatan ini, memperdayakan kemampuan sahabatnya secara cuma-cuma, bukan suatu kejahatan besar kan? "Hehe, iya deh, iya. Maap bos." Brian langsung kembali membungkam mulut temannya dengan camilan lagi, menghentikan dumalan Dean yang mungkin akan lebih panjang.
Suara audio game memenuhi kamar Brian yang berantakan. Bagi Dean, dunia di luar game-nya, di luar camilannya, dan di luar ocehan Brian, adalah hal yang tidak penting. Sean sekarat? Itu bukan urusannya. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan pertarungan itu, setidaknya begitulah yang Alpha putih pucat itu pikirkan. Namun, takdir memiliki rencana lain, dan benang-benang yang terjalin antara dirinya dan Sean mulai merajut takdir yang jauh lebih rumit dari yang bisa mereka bayangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SOMETHING (UN)NORMAL
WerewolfKetika Moon Goddes tengah memainkan takdir seorang hambanya, kuharap ini akan berakhir indah. ⚠️Warning⚠️ Alpha x Alpha ABO Universe Alur lambat
