Sengatan Listrik

110 16 2
                                        


Pagi ini terasa seperti pagi di hari kiamat kecil yang penuh feromon.

Suasana sekolah mendadak tidak terkontrol. Lorong-lorong yang dilapisi marmer mengkilap terasa bergetar, bukan karena gempa bumi, melainkan karena getaran energi. Para gadis Omega dan Beta histeris. Mereka berkerumun, saling mendorong, mata mereka mengikuti bayangan yang melintas, Sean Anderson. Alpha Superior dari Klan Diamond King yang dua minggu yang lalu hampir meregang nyawa di Blue Hospital, kini telah kembali.

Sean Anderson berjalan seolah lorong itu adalah singgasana pribadinya. Fisiknya telah pulih 90%, berkat 'keajaiban medis' yang masih menjadi topik hangat di kalangan dokter pack. Tapi yang lebih memicu kegilaan adalah auranya. Ia kembali dari ambang batas kematian dengan kekuatan yang lebih tajam, lebih menguasai, seolah ia menyerap energi dari sisi lain kehidupan.

Rumor mengenai sadarnya sang Alpha Superior telah menyebar dengan kecepatan cahaya, dan kini membuat mereka semakin penasaran mengenai siapa mate yang beruntung yang akan bersanding dengannya.

Di tengah ribuan mata yang memuja dan feromon yang meluap-luap—aroma madu, cinnamon, peach, dan bunga mawar yang manis—Sean hanya merasakan kehampaan.

Mereka semua salah, Dean bahkan masih tidak tahu siapa penyelamat yang sekaligus menjadi matenya.

Siapakah gerangan gadis Omega atau Beta yang menjadi pasangan yang direstui oleh Mon Goddes itu? Tidak ada tarikan naluriah, tidak ada aroma yang mampu memadamkan api yang berkecamuk di dalam Alpha-nya.

Yang ada hanyalah bau aneh yang kini menyertai feromonnya sendiri.

Sejak ia sadar, feromon citrus khas Sean kini bercampur dengan samar petrichor—aroma samar tanah basah setelah hujan—yang hanya bisa disadari jika mereka mempunyai indra penciuman yang sangat tajam seperti tingkat Alpha.

Sean berbelok di koridor, menuju area loker yang lebih tenang. Ia sedang mencari Jeffrey, Alpha yang menjadi kakak tingkatnya. Jeffrey adalah Alpha yang kalem, dikenal sering mewakili sekolah dalam perlombaan akademis, dan satu-satunya yang mampu menahan tekanan aura Sean tanpa gemetar.

"Kupikir kau akan dikerubuti di pintu masuk," sambut Jeffrey, bersandar di lokernya, tangannya memegang buku teks kalkulus lanjutan. "Popularitasmu melambung setelah kau nyaris mati. Sayang sekali, semua perhatian ini mengganggu waktu belajarku."

"Diamlah, Jeff," desis Sean, suaranya mengandung nada kelelahan. "Aku sudah muak dengan bau manis ini. Aku butuh ketenangan."

"Ketahuilah, Sean, feromonmu juga berubah. Itu tidak lagi hanya citrus yang tajam. Sekarang ada sesuatu yang dingin, seperti... bau petir yang baru saja menyambar. Itu yang membuat mereka gila. Mereka penasaran dengan pasanganmu, dan mereka merasakan bahwa sesuatu telah terjadi padamu," Jeffrey menganalisis dengan nada tenang.

Sean menegang. Jeffrey menyadari perubahannya. "Petir, katamu?"

"Ya. Dingin, namun berbahaya," Jeffrey mengangguk. "Aku tidak tahu apa itu. Para dokter bilang itu mungkin efek dari 'keajaiban' pemulihanmu, Sean. Tapi kupikir, ini adalah tanda bahwa Mon Goddes telah memilih, hanya saja Dia suka bermain teka-teki."

Tepat saat Jeffrey menyelesaikan kalimatnya, teka-teki, atau lebih tepatnya, masalah terbesarnya, muncul.

Di ujung koridor, Dean melintas.

Dean, si Alpha Superior yang membuat dirinya hampir meregang nyawa tengah berjalan lurus, menampilkan aura yang sama mendominasi dan sama berbahayanya dengan Sean. Dia berjalan dengan langkah pasti, tatapannya menyapu lorong, mencari Brian.

Saat tubuh kedua Alpha Superior itu berjarak hanya beberapa meter, kedua aura mereka berbenturan di udara. Omega dan Beta di sekitar mereka tanpa sadar tersentak mundur, terhimpit di antara dua gelombang kekuatan yang saling menolak.

Sean merasakan jantungnya melonjak, bukan karena ancaman, tetapi karena ledakan emosi liar yang mendadak. Ia membiarkan Alpha-nya menyambut rival terbesarnya.

Saat mata mereka bertemu—mata obsidian Sean melawan mata abu-abu Dean yang tajam dan tak kenal takut—itu terjadi.

Bzzzt.

Sengatan listrik itu datang.

Sean menatap Dean, yang kini tengah berhenti tepat satu meter di depannya. Punggung Dean tegak, tetapi wajahnya? Dingin, hambar, cuek-tidak peduli, tapi ada sedikit rasa penasaran. mengapa Alpha dari Klan Diamond King itu mencegatnya.

Mengerti dengan situasi, Jeffrey langsung saja menghalangi Sean untuk bertindak lebih jauh. Ia segera merangkul Dean dengan ceria dan membawanya menjauh sambil berbincang.

Setelah selesai membantu Dean menemukan sahabat tannya-yang tentu saja dibantu oleh para gadis omega manis, Jeffey menemui Sean yang ternyata masih menyenderkan tubuhnya di dekat loker.

"Maksudmu, kalian akan kembali bertarung setelah kau baru pulih?" Jeffrey menggelengkan kepala kalem. "Itu bukan pilihan yang cerdas, Sean. Lihat! Tadi dia saja tidak terpengaruh sedikitpun oleh feromonmu yang menyesakkan. Fokuslah pada mate dan klanmu. Rivalitas dengan Dean tidak akan membawa Diamond King kemana-mana."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 18, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SOMETHING (UN)NORMALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang