Tujuh

15 7 0
                                        

Joanna hampir tidak percaya mendengar permintaan kencan yang langsung dan terbuka itu. Belum pernah ada yang mengajaknya kencan melalui siaran langsung seperti Podcast. Sebelum ia berpikir lebih jauh, ponselnya berdering.

''Halo?''

''Halo, si gadis hujan,'' sapa laki-laki di ujung sana. Haruto. Senyum Joanna melebar.

''Si gadis hujan?'' tanya Joanna sambil menahan tawa.

''Ya,'' sahut Haruto. ''Kau sedang mendengarkan Podcast, kan?''

''Heem..''

''Berarti kau sudah mendengar penyiarnya membacakan pesanku?''

''Heem...''

''Jadi kau tentu tahu kalau kaulah gadis aneh yang menyukai hujan dalam ceritaku tadi.'' Haruto tertawa. ''Dan aku menunggu jawabanmu.''

''Lo selalu pakai cara ini kalo mau ngajak cewek kencan?'' gurau Joanna.

''Melalui Podcast?'' Haruto balas bertanya. ''Tidak. Ini yang pertama kali. Aku sedang merasa kreatif. Bagaimana? Mau menerimaku hari ini?''

Joanna tidak perlu waktu untuk berpikir. ''Dengan senang hati, Kak Harutawa.'' sahutnya, lalu tertawa.

Sejak hari itu Haruto sering mengirim E-mail ke E-mail yang Jeandra kirim-milik Bianca dan Joanna-dan membuat Joanna selalu menanti-nantikan Podcast itu. Isi pesannya selalu mengenai hal-hal yang sepele namun anehnya berkesan.

🌧

''Lo kira lagi nulis diary?'' tanya Joanna dengan ponsel menempel di telinganya. Ia berusaha terdengar kesal, Tetapi tidak bisa menahan diri untuk tersenyum lebar.

''Bukankah kau yang memintaku terus menulis ke acaa itu karena kau bilang aku punya banyak penggemar yang harus di puaskan?'' balas Haruto ceria.

Joanna menarik napas dan menyerah. ''Oke-oke, gue harus berterima kasih sama lo karna udah muasin pendengar kami.''

Haruto tertawa. ''Jangan hanya mengucapkan terima kasih. Kau ada acara malam ini?''

''Gak. Lo ada rencana?''

''Aku dengar ada cafe baru yang enak. Mau coba?''

''Mau lah. Lo yang traktir?''

Haruto menghela napas dengan berlebihan. ''Bukankah kau yang ingin berterima kasih padaku?''

''Astaga! Oke-oke. Gue yang traktir hari ini,'' kata Joanna pura-pura tidak sabar. ''Ketemuan di mana?''

Ketika akhirnya ia menutup ponsel, Joanna melihat Bianca sedang memerhatikannya sambil tersenyum-senyum.

''Boleh gue tau siapa itu tadi? Cowok kan?'' tanya Bianca dengan nada menggoda. ''Jeandra?''

Joanna menggeleng.

Alis Bianca terangkat. Heran dan agak kaget. ''Bukan?'' tanyanya sambil menggeleng, mengikuti gerakan Joanna. ''Terus siapa?''

Joanna menggigit bibir dan tersenyum. Kemudian ia menumpukkan kedua siku di meja dan mencondongkan badan ke depan. Bianca menyingkirkan laptop dan ikut mencondongkan badan sehingga kepala mereka berdekatan.

''Lo bisa jaga rahasia?'' tanya Joanna dengan suara rendah penuh rahasia.

Kedua alis Bianca terangkat. ''Iyalah,'' sahunya cepat. ''Lo kan kenal gue.''

''Orang yang tadi nelpon gue,'' bisik Joanna dengan nada misterius, ''adalah sosok Harutawa.''

Mata Bianca membesar. ''Yang bener?'' serunya terkejut.

Joanna tersenyum lebar dan mengangguk. ''Namanya Haruto Watanabe. Dia temennya Jeandra.''

''Jangan-jangan lo itu gadis... Si gadis hujan?'' tebak Bianca.

Joanna tertawa pelan. ''Julukan itu emang kedengeran konyol.''

Bianca terdiam sejenak dan berpikir-pikir. ''Lo tau siapa cewek yang dia temui di bandara? Di pesan yang pertama kali itu? Jangan-jangan...''

Dengan menyesal Joanna menggeleng. ''Gue tau apa yang lo pikirin, tapi sayang banget, gue bukan cewek yang dia temui di bandara atau di kelab. Gue sendiri juga kepo banget siapa cewek itu.''

''Oh?''

Joanna bangkit. ''Nah, sekarang gue cabut dulu. Ada janji dinner. Oh iya, Bi, jangan ember soal Haruto. Oke? Ini rahasia kita berdua.''

''Jo,'' panggil Bianca tiba-tiba. ''Ajak dia ke Party Ultah gue.''

''Siapa? Haruto? Kenapa?''

''Ayolah,'' bujuk Bianca dengan mata berbinar-binar. ''Gue pengen tau dia orangnya kayak apa. Ganteng?''

''Wah? Bukannya lo udah ada pacar?'' Joanna balas bertanya dengan nada bergurau.

''Gak ada hubungannya,'' bantah Bianca. ''Jangan takut. Gue gak bakal ngerebut dari lo. Ajak dia. Oke?''

Joanna tertawa, ''Gue gak takut lo ngerebut dia. Oke deh, gue bakal ajak dia. Tapi gue gak tau dia mau apa engga.''

🌧

Haruto menatap kertas di tangannya, lalu beralih pemandangan kota di luar jendela. Ia mengembuskan napas panjang dan kembali menatap nomor telepon yang tertera di kertas yang dipegangnya itu. Akhirnya ia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menghubungi nomor tersebut.

Jantungnya berdebar keras dan sebelah tangannya yang tidak memegang ponsel dibenamkan ke saku celana sementara me nunggu hubungan tersambung. Kemudian....

"Halo?"

Haruto mendengar suara orang itu di ujung sana. Suara seorang pria yang bernada rendah dan dalam. Sesaat ia tidak bisa bersuara. Gugup. la sadar ia tidak bisa mundur lagi. Sekarang atau tidak sama sekali.

"Halo?" Suara orang itu terdengar lagi. Kali ini Haruto mengumpulkan segenap tenaga dan keberani annya dan menjawab, "Halo, Benarkah ini Tuan Reynald Darren Avranega?'' Nama itu diucapkannya dengan berat sekali.

Sesaat tidak terdengar jawaban, lalu, "Benar, saya sendiri," sahut pria di ujung sana.

"Selamat malam, tuan," Haruto mengulangi. "Saya minta maaf karena mengganggu Anda malam-malam begini, tapi saya berharap bisa bertemu dan berbicara dengan Anda."

Lawan bicaranya bertanya dengan nada curiga, "Kalau boleh tahu mengenai apa? Dan dengan siapa saya bicara?"

Haruto menarik napas. "Ini tentang Sakura Watanabe," sahutnya pelan dan jelas.

"Sakura Watanabe?" pria itu mengulangi, seakan nama itu tidak membangkitkan ingaran apa-apa.

"Mungkin Anda lebih mengenalnya dengan nama Sakura Rui,'' Haruto menambahkan dengan cepat. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah Tuan Reynald masih ingat? Ingatkah ia pada gadis yang ditemuinya di Jepang hampir tiga puluh tahun yang lalu? Apakah ia masih ingat apa yang terjadi saat itu?

"Rui?" Nada suara yang terdengar di ujung sana berubah. "Maksudmu, Sakura Rui?"

Haruto tidak menjawab. Ia menunduk dan memejamkan mata. Pria itu masih ingat. Ternyata masih ingat.....

"Tunggu sebentar. Tolong katakan padaku apa hubunganmu dengan Sakura? Siapa ini?"

Haruto menarik napas dengan susah payah.

"Nama saya Haruto Watanabe. Sakura Rui adalah ibu saya,'' sahut Haruto akhirnya. "Dan saya berharap bisa bertemu dengan Anda, Tuan. Ada yang ingin saya bicarakan.... Besok stang? Baiklah, saya pasti datang.''

Jakarta In The Rain|Bab Tujuh
Memberanikan Diri

Jakarta In The RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang