Haruto pulang dengan sangat berantakan. Bagaimana tidak? Rambutnya yang tidak tertata kemudian dia kancing kemejanya terbuka. Tidak lupa dengan wajah kusutnya. Dia berjalan lunglai ke kamar, sebelumnya itu dia berniat mengambil minum di dapur.
Siapa yang menduga Haruto akan berpapasan dengan Asahi yang memegang semangkuk ramen. Hal yang normal bukan jika lapar saat tengah malam, memasak ramen.
Melihat penampilan kacau Haruto dan aroma yang masuk ke hidungnya, Asahi tidak bodoh untuk mengetahui darimana pemuda itu. Tidak terlalu yakin, tapi pasti.
Mata mereka saling beradu beberapa detik sampai Asahi memalingkan wajahnya terlebih dulu. Tersirat rasa bersalah saat menatap punggung Asahi. Dia sudah jauh dari kata melindungi, Asahi lebih sering bersama Jaehyuk dan kenalan barunya Jihoon. Tidak hanya itu, dia bersalah melakukan 'itu' pada perempuan lain dengan membayangkan wajah Asahi.
"Saa.."
Asahi pura-pura tidak mendengar panggilan dari Haruto.
"Lo berusaha menghindar lagi, Sa" gumam Haruto melihat punggung Asahi yang berjalan semakin jauh.
.
"Haruto, ini cookies buatan aku. Biar kamu semangat ujiannya" kata Jihan yang entah darimana datangnya.
Haruto tidak bergeming. Jika dia bisa melakukannya dia ingin menepis kasar kotak makan tersebut hingga jatuh. Tetapi tidak, Haruto tidak akan melakukan hal tersebut.
"Bokap lo gak bilang apa-apa?"
"Ayah bilang apa yaa-" gumam Jihan sambil berpikir.
"Soal tunangan kita" Haruto memberi clue agar Jihan cepat berpikir, tapi sepertinya dia salah. Suaranya cukup terdengar oleh sekitar di tengah keramaian.
"WAHH KALIAN MAU TUNANGAN?"
"Demi apa sih lo sama Jihan mau tunangan?"
"Jihan beruntung banget brengsek."
"Jihan kalo lo gak mau, gua siap gantiin."
Teman sekelas Haruto dan Jihan sudah heboh mendengar (setengah) berita menggemparkan.
Jihan tersenyum miring, orang seperti Haruto terkena jebakannya. Jika sudah seperti ini mau bagaimana lagi? Orang taunya mereka akan tunangan bukan batal tunangan.
"Sial!" Haruto mendengus lalu pergi ke kelas. Ujian akan dimulai sepuluh menit lagi.
Dia berharap bisa fokus selama ujian berlangsung. Mengingat hasilnya adalah langkah awal untuk kehidupan selanjutnya, terlalu berlebihan. Ya, intinya nilai bagus akan membantunya agar ayahnya tidak lagi membuat keputusan atas hidupnya.
Menjadi Haruto tidak perlu susah payah belajar. Karena kerja otaknya lebih cepat daripada manusia biasanya, sebut saja Haruto orang yang genius. Meskipun kerjaannya membolos namun nilai akademiknya cukup tinggi. Beruntung Haruto memiliki kelebihan itu.
.
Asahi berjalan santai bersama Jaehyuk ke parkiran, lebih tepatnya ke tempat dimana motor Jaehyuk di parkirkan.
"Asaa mau makan apa?"
"Tadi jam istirahat Asa udah makan di kantin" jawab Asahi.
"Eyy, mana bisa begitu. Kamu harus banyak makan" ujar Jaehyuk.
Beruntung sekali Asahi bersama Jaehyuk. Asahi merasa lebih baik bersama Jaehyuk daripada Haruto, tidak terlalu yakin tapi ini yang dia rasakan. Jaehyuk mengisi kesepiannya saat hubungannya dengan Haruto terlalu rumit dan banyak yang menentang.
Jaehyuk menyodorkan helmnya ke Asahi, tidak menerima helm tersebut Asahi malah menatap wajah Jaehyuk. Senyuman Jaehyuk mengembang, di pakaikannya helm itu pada kepala Asahi.
KAMU SEDANG MEMBACA
FELICITY| Harusahi (SLOWUPDATE)
Fan-FictionHaruto yang terobsesi dengan Asahi. -bxb story ⚠️ -little bit 🔞 -bahasa campuran -author amatiran 🙏
