Libur kerja pada hari Minggu adalah suatu kebahagiaan untuk Anna, sesaat memikirkan apa yang harus ia lakukan pada hari libur, menghabiskan waktu untuk bersenang-senang atau berdiam diri dirumah seharian? membosankan
Karena tak mau berdiam diri di rumah seharian, Anna pun langsung menelpon Runa untuk bersenang-senang hari ini, apakah itu untuk naik komedi putar atau membeli novel baru? Runa adalah teman kerja Anna yang bisa diajak kemanapun, hanya gadis itu teman sejati yang mau menemani Anna, walaupun usia keduanya terpaut jauh tetapi Anna sudah menganggapnya seperti adiknya
Dan satu lagi tak lupa juga dengan Satya, si pemuda tampan yang umurnya sebaya dengan Runa, tetapi sayangnya pemuda itu tidak bisa ikut bersenang-senang hari ini
Singkat cerita, kini Anna sudah berada di toko buku bersama Runa, tadi Runa menjemputnya dengan mobil warna putih tulang milik Ayahnya, omong-omong Runa ini adalah anak orang kaya yang memiliki harta tujuh turunan, tapi anehnya gadis itu masih bekerja untuk membiayai hidupnya
"Mbak, aku mau langsung cari novel di lemari sana ya, aku pergi dulu ya" baru melangkah masuk ke dalam toko, Runa sudah pergi melangkah meninggalkan Anna
Anna pun meresponnya dengan anggukan kepala, lalu berjalan di sekeliling lemari buku yang menjulang tinggi, Anna sedang mencari buku di rak bagian sejarah.
Gadis itu berdiri di ujung rak, sibuk membaca sinopsis buku ketika seseorang menabraknya dari samping, buku yang dipegang Anna jatuh ke bawah
"Hei, lihat jalan dong!"
Sosok itu sama kagetnya dengan Anna, namun langsung bersikap defensif "Gue lihat kok, lo aja yang berdiri di tempat sempit!"
Anna langsung menoleh, matanya membulat begitu melihat siapa yang menabraknya barusan
"Kamu?"
Laki-laki berperawakan tinggi itu berdecih, dia adalah Jeffrey Adiwilangga, sosok laki-laki yang sedikit menyebalkan yang Anna siram di kafe sore lalu itu
"Oh, ternyata lo lagi, kok gak heran, ya?"
"Lain kali kamu jalan pake mata, jadi enggak nabrak orang" tegur Anna kesal
"Ini toko buku, bukan taman bermain, coba enggak nguasain jalan, mungkin enggak bakal ada yang nabrak!"
Anna memungut bukunya sambil menggerutu dalam hati
"Udah nabrak, masih aja nyalahin orang, kayaknya kamu emang ahli bikin masalah di mana-mana, ya?"
Jeffrey bersedekap dada sembari menatap mata Anna "Masalah? jangan lupa siapa yang pertama bikin masalah di kafe waktu itu."
Anna mendekati Jeffrey lalu melempar tatapan menantang "Itu enggak sepenuhnya salahku! Kamu yang berdiri di jalur pelayan!"
Jeffrey menghela nafas "Oh, jadi sekarang gue enggak boleh berdiri di kafe? apa gue juga harus minta izin buat ngambil napas?"
Anna menatap tajam Jeffrey "Mungkin iya, biar enggak bikin ribet orang lain!"
Suara Anna naik satu oktaf, yang membuat beberapa pengunjung mulai melirik mereka, merasa terganggu dengan suara mereka yang semakin keras, dan pada akhirnya ada seorang penjaga toko buku mendekat dan memberi isyarat untuk menurunkan suara karena menurutnya begitu mengganggu para pengunjung di toko ini
"Maaf, ini tempat membaca, kalau ingin berdiskusi, tolong keluar." suara penjaga toko
Anna dan Jeffrey, keduanya langsung terdiam, tapi tatapan penuh "perang" tetap ada di antara mereka berdua
Karena tidak ada yang mau mengalah dan tetap meninggi kan egonya, Anna dan Jeffrey pun keluar dari toko buku dengan suasana tegang, mereka berdua berdiri di trotoar depan perpustakaan, masih belum selesai beradu argumen, sebenarnya Anna ingat dengan Runa yang masih berada di dalam toko buku itu, tetapi ia juga tidak mau kalah beradu argumen dengan Jeffrey
KAMU SEDANG MEMBACA
6 MONTH 182 DAYS
Fanfiction[ SUDAH TERBIT DI ETERNITY PUBLISHING ] . . . "Bisa-bisanya aku nerima tawaran menikah sama laki-laki cerewet kayak dia!?" Anna menerima tawaran Jeffrey tanpa banyak pilihan, laki-laki itu melunasi hutang mendiang orang tuanya dengan syarat sederhan...
