Jeffrey adalah pria kantoran berusia 29 tahun yang dikenal sebagai pekerja keras, kariernya stabil, gajinya besar, tapi satu hal yang membuat keluarganya cemas: Jeffrey belum menikah di usia yang sudah tua
Malam ini, setelah hari yang panjang di kantor, Jeffrey pulang lebih larut dari biasanya, begitu membuka pintu rumah, dia mendapati keluarganya sudah berkumpul di ruang tamu, ada ayah, ibu, dan adiknya, Jeffan dan yang terakhir nenek nya yang super galak seperti nenek lampir
Jeffrey sedikit melirik, di meja depan mereka, ada dua amplop putih besar
"Kejutan, kak Jeff!" seru Jeffan sambil menyeringai lebar
"Apa lagi ini?" Jeffrey melepas dasinya sambil menghela napas lelah
"Duduk dulu, kamu pasti capek kan? ini Ibu buatin coklat panas kesukaan Jeff!" sang Ibu memberi isyarat kepada Jeffrey untuk duduk di sebelahnya
Jeffrey berjalan mendekat lalu mengambil tempat duduk yang kosong, menatap anggota keluarga nya secara bergantian dengan wajah yang lelah
"Kamu kapan mau menikah, Jeff?" tanya sang Ibu setelah Jeffrey duduk di sebelah tubuhnya
Jeffrey tersenyum lelah sebagai respon
Sang nenek langsung berbicara, "Kamu sudah terlalu lama sendirian, Nak. Jadi, kami bantu pilihkan calon istri untukmu, nih ada dua kandidat tinggal pilih saja"
Jeffan dengan semangat menyerahkan dua foto. Yang pertama, seorang wanita berambut panjang, tampak elegan dengan gaun formal. Yang kedua, wanita dengan wajah ceria, memakai pakaian kasual.
Jeffrey menatap foto-foto itu dengan ekspresi datar. "Seriusan? Ini kayak milih menu makanan aja deh"
Ayahnya menyahut, "Kami cuma ingin kamu bahagia, Jeff. Kalau kamu enggak mulai sekarang, kapan lagi?"
Jeffrey menaruh foto-foto itu kembali di meja "enggak dulu deh, Jeffrey lagi capek mau langsung tidur aja di kamar"
"Jeffrey!" sentak Neneknya
Jeffrey menghela lelah "Jeffrey bisa cari pendamping hidup sendiri, kalian enggak perlu susah payah mencari kan, karena ujung-ujungnya bakal Jeffrey tolak!"
"Jeff, kamu udah nolak banyak perempuan lho, kamu mempertahankan apa? masalalu kamu? dia sudah tenang di sana, Jeff"
"Menikahlah selagi muda, Jeff" -Ayah
"Aku enggak mau nikah cuma karena ditekan, apalagi sama orang yang bahkan belum aku kenal" seloroh Jeffrey
"Kamu enggak bisa terus kayak gini, Jeff," Ibu berkata dengan nada lebih lembut "kami khawatir kamu kesepian nanti"
Jeffrey duduk dan memijat pelipisnya "Aku ngerti kalian khawatir, tapi nikah itu soal komitmen, bukan karena umur atau tuntutan orang lain, kalau aku belum nemu yang pas, ya biarin aja, aku enggak mau nikah cuma buat nyenengin orang"
Jeffan mendesah "Kamu tuh kebanyakan mikir kak, gimana mau nemu orang yang pas kalau kamu nggak pernah usaha?"
Jeffrey tersenyum tipis "Usaha itu perlu waktu, aku bukan enggak mau nikah, aku cuma mau nikah sama orang yang bener-bener bikin aku yakin.”
Keluarganya terdiam, mencoba mencerna kata-kata Jeffrey, meskipun mereka masih berharap, mereka mulai mengerti bahwa tekanan tidak akan membawa hasil yang diinginkan kalau kepala Jeffrey sekeras batu
Nenek menghela lelah
"Ayah dan ibu cuma mau kamu bahagia" ujar Ayahnya pelan.
Jeffrey mengangguk "Dan aku juga mau bahagia, tapi kasih aku waktu, ya?”
KAMU SEDANG MEMBACA
6 MONTH 182 DAYS
Fanfiction[ SUDAH TERBIT DI ETERNITY PUBLISHING ] . . . "Bisa-bisanya aku nerima tawaran menikah sama laki-laki cerewet kayak dia!?" Anna menerima tawaran Jeffrey tanpa banyak pilihan, laki-laki itu melunasi hutang mendiang orang tuanya dengan syarat sederhan...
