Siang hari selepas jam makan siang selesai, Jeffrey baru saja selesai rapat ketika tanpa sengaja melihat seseorang yang familiar di lobi kantor. Ada Mario, laki-laki yang sering Anna ceritakan dengan begitu antusias, laki-laki itu sedang berdiri di dekat meja resepsionis, tampak sibuk dengan ponselnya
Jeffrey mengernyit, lalu berjalan mendekat "Mario.." panggil nya pelan
Mario mendongak, sedikit terkejut melihat Jeffrey "ah, Jeffrey, ada apa?"
Jeffrey tersenyum simpul kepada Mario "akhirnya gue ketemu sama lo, akhir-akhir ini lo keliatan sibuk banget ya?"
Mario tersenyum kecil "iya, gue agak sibuk, harus kesana-kemari"
Jeffrey mengangguk sebagai respon
"Ada apa Jeff? ada yang mau di omongin?" tanya Mario kemudian
"Soal, Anna" tukas Jeffrey
Mario nampak bingung "oh Anna ya? tolong bilangin sama istri lo kalau gue minta maaf soal kemarin, gue enggak bisa nepati janji karena lagi sibuk, tugas kantor enggak bisa ditunda ternyata" ungkap nya
Jeffrey menatap Mario lekat-lekat "dengar, gue ngerti kalau kerjaan itu penting. Tapi kalau lo enggak yakin bisa nepatin janji, kenapa harus janjiin sesuatu ke Anna?"
Mario mengernyit, jelas merasa tidak nyaman dengan ucapan Jeffrey "gue enggak maksud ngecewain dia, gue cuma pengen bikin dia senang, gue pikir gue bisa sempatin waktu, tapi ternyata enggak"
Jeffrey mendengus pelan, lalu menyandarkan tangannya di meja resepsionis "lo tau enggak, Anna nunggu lo sepanjang hari itu? Dia bahkan enggak punya rencana lain karena dia terlalu percaya sama lo, gue kasian liatnya"
Mario terdiam sejenak, lalu menghela napas "gue enggak tau kalau dia nunggu sampai segitunya, gue pikir dia bakal ngerti"
Jeffrey menatapnya tajam, nadanya lebih serius "Mario, kalau lo benar-benar peduli sama Anna, jangan kasih dia harapan yang enggak pasti. Janji itu bukan cuma kata-kata. Kalau lo enggak bisa tepati, jangan bilang apa-apa, itu lebih baik daripada bikin Anna kecewa"
Mario terlihat terganggu oleh ucapan itu, tapi tidak membantah, ia tau Jeffrey punya poin "gue ngerti, gue bakal minta maaf ke Anna nanti. Dan gue bakal pastiin enggak bikin janji yang enggak bisa gue tepati lagi"
Jeffrey mengangguk perlahan, lalu menepuk bahu Mario dengan ringan "bagus kalau lo ngerti. Anna itu cewek baik, dan dia pantas dapat perhatian yang lebih dari sekadar kata-kata"
Mario hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa lagi. Jeffrey kemudian berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Mario dengan pikirannya sendiri
"Jeff, tunggu!"
Belum berjalan menjauh dari Mario, Jeffrey pun membalikkan tubuhnya
"Kenapa?"
"Jeff, gue heran deh, lo kelihatan banget care sama Anna. Jangan-jangan lo cemburu ya kalau gue jalan sama dia?"
Jeffrey menatap Mario dengan tenang, tapi sorot matanya tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan sesuatu yang lebih dalam "kenapa gue harus cemburu, Mar? kami berdua saling mempercayai" ujarnya
Mario tertawa kecil, tapi ada nada penasaran di suaranya "tapi kenapa lo kasih Anna kebebasan? kalau gue yang ada di posisi lo, mungkin gue bakal keberatan kalau cewek gue deket sama orang lain"
Jeffrey mengangkat bahu, ekspresinya tetap tenang "selama kalian enggak selingkuh di belakang gue, gue enggak keberatan, Mar. Gue tau Anna punya hubungan baik sama lo sebagai teman, kalau itu bikin dia bahagia, ya gue enggak akan ganggu"
KAMU SEDANG MEMBACA
6 MONTH 182 DAYS
Fanfiction[ SUDAH TERBIT DI ETERNITY PUBLISHING ] . . . "Bisa-bisanya aku nerima tawaran menikah sama laki-laki cerewet kayak dia!?" Anna menerima tawaran Jeffrey tanpa banyak pilihan, laki-laki itu melunasi hutang mendiang orang tuanya dengan syarat sederhan...
