Acara kantor belum selesai sepenuhnya tetapi Anna sudah merengek meminta pulang, mengingat hari sudah larut malam dan besok ada banyak tugas rumah yang harus dikerjakan, Jeffrey dan Anna pun berjalan keluar dari gedung untuk pulang, menuju mobil yang terparkir di luar
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam tapi anehnya malam ini langit masih terlihat cerah, bintang-bintang bertebaran menghiasi langit, bulan sepi pun tampak tetap bersinar di atas sana
Setelah langkahnya sampai di parkiran, Jeffrey pun membuka pintu mobil untuk Anna tanpa banyak bicara
Anna meliriknya, lalu tersenyum kecil "sebenarnya enggak perlu begini, aku bisa buka pintu sendiri, Jeffrey.."
Jeffrey hanya mengangkat alis, tidak menanggapi, lalu berjalan ke sisi kemudi
Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa hening. Hanya suara musik jazz pelan yang mengisi ruang. Anna sesekali melirik Jeffrey yang fokus menyetir.
"Aku enggak nyangka kamu bakal ngenalin aku ke teman-temanmu tadi," ujar Anna memecah keheningan malam ini
Jeffrey melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan "memangnya kenapa? bukan nya itu bagian dari kontrak kita berdua?"
Anna terdiam, merasa kata-kata Jeffrey menusuknya sedikit, tapi ia mencoba untuk tetap tenang "ya... tapi tetap aja, aku enggak nyangka kamu bakal segitu seriusnya"
Jeffrey menghela napas "gue serius karena gue enggak mau mereka menganggap istri gue remeh, meski cuma kontrak, gue enggak mau ada yang memperlakukan lo buruk"
"Apalagi soal Sheena sama Sherin" lanjut Jeffrey "kalau lo ketemu mereka berdua lagi, tolong dilawan, jangan nangis"
Anna tersenyum tipis, tapi tidak membalas, hatinya terasa hangat mendengar itu, meski ia tau Jeffrey mungkin hanya berusaha menjaga reputasi dan citra diri nya
Setibanya di rumah, Jeffrey mematikan mesin mobil dan keluar terlebih dahulu. Ia berjalan ke sisi Anna dan membukakan pintu untuknya. Anna keluar, tapi langkahnya terhenti di depan pintu rumah
"Jeff..." Anna memanggil pelan
Jeffrey berbalik "apa?"
"Tadi... aku mau bilang makasih, udah bantuin aku bersihin muka, terus ngenalin aku sebagai istri kamu, aku enggak tau kenapa, tapi aku seneng"
Jeffrey menatapnya dalam diam, ia mendekat, menurunkan suaranya "lo senang karena gue bersikap seperti suami sungguhan, atau ada alasan lain, Anna?"
Anna tersentak, wajahnya langsung memerah "enggak ada alasan lain! aku cuma mau bilang makasih aja sama kamu"
Jeffrey tersenyum kecil, lalu membungkuk sedikit untuk menyamai tinggi Anna "kalau lo bilang begitu, gue percaya deh!"
Mereka masuk ke dalam rumah, tapi suasana canggung tidak hilang, Jeffrey melepas jasnya dan berjalan ke dapur, sementara Anna berdiri di ruang tamu, masih memikirkan ucapan Jeffrey tadi
Tidak lama kemudian, Jeffrey kembali di depan Anna dengan membawa dua gelas teh hangat "minum dulu, malam ini dingin"
Anna mengambil gelas itu, matanya menatap Jeffrey dengan penuh pertanyaan "kenapa kamu baik banget hari ini?"
"Emang gue enggak pernah baik sama lo?"
"Pernah dulu, waktu awal-awal, kamu kejam banget sama aku kayak Nenek lampir, suka banget ngomel-ngomel!" kata Anna
Jeffrey hanya mengangkat bahu sambil duduk di sofa "enggak ada alasan, gue cuma merasa gue harus bersikap kayak gini sama lo, kenapa emangnya? enggak suka?"
KAMU SEDANG MEMBACA
6 MONTH 182 DAYS
Fanfiction[ SUDAH TERBIT DI ETERNITY PUBLISHING ] . . . "Bisa-bisanya aku nerima tawaran menikah sama laki-laki cerewet kayak dia!?" Anna menerima tawaran Jeffrey tanpa banyak pilihan, laki-laki itu melunasi hutang mendiang orang tuanya dengan syarat sederhan...
