[ SUDAH TERBIT DI ETERNITY PUBLISHING ]
.
.
.
"Bisa-bisanya aku nerima tawaran menikah sama laki-laki cerewet kayak dia!?"
Anna menerima tawaran Jeffrey tanpa banyak pilihan, laki-laki itu melunasi hutang mendiang orang tuanya dengan syarat sederhan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Malam hari nya ketika sudah larut malam, Jeffrey baru saja pulang dan membuka pintu rumah dengan langkah kaki yang lelah, jas kerjanya ia letakkan asal di sandaran sofa ruang tamu, lalu ia berjalan menuju meja makan untuk mengambil segelas air, sedangkan Anna nampak berada di counter dapur, gadis cantik yang mengenakan pakaian tidur bermotif bunga-bunga itu tengah membuat segelas teh hangat
"Inget pulang ya?" celetuk Anna
"Ini rumah gue, jelas gue pulang disini!"
"Oh berarti kamu capek ya?" tanya Anna dengan nada sedikit menggoda, tanpa menoleh ke arah Jeffrey
Jeffrey mendengus pelan, tau bahwa ucapan itu biasanya menjadi pembuka untuk komentar sarkastik dari Anna "ya gue capek, ada yang mau lo bilang?" tanyanya malas sambil mengambil duduk
Anna membawa segelas teh hangat nya, lalu mengambil duduk di seberang Jeffrey "Karina itu cantik, ya," katanya santai, sambil menyeruput teh hangat nya
Jeffrey langsung mendongak, menatap Anna dengan alis terangkat "maksud lo apa?"
Anna mengangkat bahu "enggak ada, aku cuma bilang kalau Karina itu cantik banget, enggak salah, kan?"
Jeffrey menghela napas panjang, mencoba meredam emosinya "Anna, kalau lo cuma mau nyindir atau bikin drama, gue enggak punya energi untuk itu sekarang"
Anna tersenyum "aku serius, Jeff. Dia benar-benar cantik banget, elegan, anggun... tipe perempuan yang pasti bikin kamu betah ngobrol lama-lama.."
"Anna!" Jeffrey memotong dengan suara sedikit keras "gue enggak mau berdebat soal ini, kalau lo mau ngomong soal Karina, ngomong langsung, jangan berbelit-belit!"
Anna memiringkan kepala, menatap Jeffrey dengan tatapan jahil "kenapa kamu jadi sensitif begitu? aku cuma memuji Karina, kamu sendiri enggak setuju ya kalau Karina itu cantik kayak Yu Jimin aespa???"
Jeffrey mengusap wajahnya dengan kedua tangan "gue capek, Anna. Kalau lo cuma mau bahas ini, gue malas!"
Anna tertawa kecil "santai saja, Jeff. Aku cuma penasaran, lagipula kalau kamu nyaman sama Karina, aku enggak akan menghalangi kalian berdua kok, aku kan cuma... istri kontrak kamu aja"
Nada di akhir kalimat itu membuat Jeffrey menatap Anna dengan sorot mata yang tajam, tapi ia memilih tidak merespons, daripada memanaskan suasana, Jeffrey pun berdiri dari kursi hendak melangkah pergi, tiba-tiba Anna bersuara kembali
"Kamu sama pacar mu Karina, dan aku sama Mario, kita double date!"
"Dia bukan pacar gue!" bentak Jeffrey
"Santai dong bos" saut Anna
"Denger ya, Karina itu bukan pacar gue, dan lo sama Mario itu cuma sekedar teman, enggak usah pancing emosi gue, Anna!"