5. kencan buta katanya

580 78 3
                                        

Lusa telah sampai, hari ini hari pertama Anna bekerja di sebuah toko bunga kecil di sudut kota, milik Gendis, seorang wanita muda yang ramah dan sangat menyukai bunga, hari ini suasana toko terasa damai dengan wangi mawar dan melati memenuhi ruangan, Anna sedang merangkai buket bunga ketika lonceng di pintu berdenting

"Selamat datang di toko bunga Gendis! ada yang bisa saya bantu?" kata Anna tanpa menoleh, sibuk dengan pekerjaannya.

"Gue mau buket untuk acara penting, tapi jangan yang norak kayak itu," suara seorang pria membuat Anna berhenti sejenak

Anna berbalik, dan matanya langsung membulat sempurna "Kamu lagi?"

Ternyata pelanggan itu adalah Jeffrey, laki-laki yang membuat Anna kehilangan pekerjaan nya kemarin, karena emosinya yang membeludak dibuat Jeffrey

Kini Jeffrey memandang Anna dengan alis terangkat, sombong sekali laki-laki itu, pikir Anna

"Ngapain kamu disini?" tanya Anna

"Oh, lo pelayan cafe itu? kerja di sini, ya? pantas suasananya... ya gitu aja," jawab Jeffrey dengan nada menyebalkan, dasar laki-laki gila, ditanya apa balasnya juga tak jelas

Anna langsung menaruh gunting bunga di meja dengan suara keras. "Eh, kalau mau beli bunga, beli aja enggak usah ngomong macem-macem!"

Jeffrey tersenyum mengejek "Gue cuma bilang yang jujur, kalau baperan, mungkin lo enggak cocok kerja di sini."

"Kamu mau aku cekokin bunga?"

Jeffrey memutar malas kedua bola matanya "Boleh, tapi konsekuensinya lo di pecat!"

Pertengkaran pun tak terhindarkan, Anna dan Jeffrey saling melempar komentar pedas, membuat suasana toko yang tadinya tenang berubah menjadi medan perang kecil.

"Anna! Jeffrey! apa-apaan ini?" Suara lembut tapi tegas membuat mereka berdua langsung terdiam, atensi Anna dan Jeffrey kini teralihkan pada Gendis yang berdiri diantara keduanya

"Kenapa kalian ribut di sini?"

Anna menunjuk Jeffrey "Dia datang ke sini cuma buat bikin masalah, Gendis!"

Jeffrey mengangkat bahu. "Gue cuma mau beli bunga, tapi ternyata pelayanannya kurang profesional."

Gendis mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Anna. "Anna, tenang, aku yang akan bantu Jeffrey memilih bunganya, kamu lanjutkan pekerjaanmu, ya."

Anna masih mendengus kesal, tapi akhirnya menurut, di sisi lain Jeffrey nampak terlihat berubah 180 derajat, laki-laki itu langsung memasang senyum ramah pada Gendis "Oh ya Gendis, makasih ya, aku sebenarnya suka suasana toko ini, bunganya bagus-bagus."

Gendis terkekeh kecil "Kalau suka suasananya, jangan buat ribut lagi, ya. Jadi, bunganya untuk acara apa?"

Jeffrey tersenyum canggung, jelas terlihat sikapnya lebih sopan saat berbicara dengan Gendis. "Untuk... eh, seseorang yang spesial, mungkin?"

Gendis mengangguk sambil mulai memilihkan bunga, Anna dari kejauhan hanya bisa menghela napas kesal sambil bergumam, "Dasar sok manis kalau depan Gendis"

Namun, diam-diam Anna merasa ada yang menarik,  Jeffrey yang tadi begitu menyebalkan, tiba-tiba jadi seperti anak kucing jinak di depan Gendis, ada hubungan apa antara mereka? Anna ingat bahwa saat ia berkunjung di toko bunga ini, saat itu ada Jeffrey yang juga membeli bunga

"Buket bunga untuk orang spesial udah selesai, semoga seseorang itu suka ya?" ucap Gendis sambil memberikan buket.

Jeffrey menerima buket itu sambil tersenyum lebar "kalau kamu suka?"

6 MONTH 182 DAYSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang