[ SUDAH TERBIT DI ETERNITY PUBLISHING ]
.
.
.
"Bisa-bisanya aku nerima tawaran menikah sama laki-laki cerewet kayak dia!?"
Anna menerima tawaran Jeffrey tanpa banyak pilihan, laki-laki itu melunasi hutang mendiang orang tuanya dengan syarat sederhan...
"Malam ini di bawah derasnya hujan, aku selalu menemukan kamu dalam setiap tetesnya—rindu yang jatuh perlahan, tapi tak pernah benar-benar hilang" -Jeffrey
. . .
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rey...Anna...
. . .
Anna baru keluar dari minimarket, pekerjaan nya sudah selesai dan ia pun pulang dengan membawa payung kuning di tangan kanan, malam ini dingin, hujan deras mengguyur kota kecil mereka, dan suara tetesan air yang jatuh ke payung terdengar seperti irama pengantar tidur
Anna melangkah diatas trotoar jalan yang basah, menikmati sejuknya udara sambil memandangi lampu jalan yang buram karena hujan, dalam perjalanan pulangnya, Anna tidak merasa takut sama sekali akan itu ada hantu atau orang jahat karena ia merasa tidak ada yang aneh di sekitarnya
Namun saat pandangan nya menatap ke depan, degup jantungnya berpacu dengan kencang, nampak di depan sana ia melihat seseorang tinggi besar tengah berjalan berarah lawanan dengan nya
"Siapa sih dia?" Anna memperhatikan sosok itu lebih dekat, agaknya laki-laki itu sepertinya Jeffrey, kenapa laki-laki itu bisa disini, lihatlah rambutnya meneteskan air, dan wajahnya terlihat muram
"Oh gini ras terkuat di bumi nangis? nama kamu, Jeffrey?" celetuk Anna setelah sampai di hadapan Jeffrey yang menunduk sedih
Ternyata itu benar Jeffrey, pelanggan tetap di toko bunga milik Gendis yang suka ngatur-ngatur kalau pesan karangan bunga.
Jeffrey mendongak, matanya langsung mengerut ketika melihat Anna "lo?'
Anna mengangkat alis "ngapain kamu hujan-hujanan? terus mana mobil kamu? kamu enggak naik mobil?"
"Ya ampun, udah ngenes kehujanan begini, masih sok misterius juga kamu ya?" Anna menggeser payungnya lebih dekat agar menutupi kepala Jeffrey, meski itu membuat bahunya sendiri ikut terkena cipratan air
Jeffrey menatap mata Anna "apa maksud lo begini? enggak perlu lo payungin gue"
"Biar kamu enggak sakit"
Mendengar itu, Jeffrey tersenyum kecil, tapi senyum itu segera memudar ketika Jeffrey tersadar untuk apa ia tersenyum seperti ini
"Lo sering lewat sini?" tanya Jeffrey
"Ini jalan biasa yang aku lewatin untuk pulang ke rumah" balas Anna
"Jadi ngapain lo malam-malam kelayapan?"
"Aku baru pulang kerja" -Anna
"Kerja? kerja apa pulang selarut ini?"
Jemari telunjuk Anna terulur menunjuk minimarket yang sudah tutup di sebrang sana, Jeffrey pun mengangguk paham