Jarum jam menunjukan pukul 2 malam. Tapi entah mengapa Jefran tak kunjung mengantuk. Pria kepala empat itu menghela nafasnya mengingat kejadian tidak mengenakan tadi siang.
Jefran menatap sang istri yang tengah tertidur lelap. Matanya sembab dan hidungnya merah. Bisa dilihat kalau Rose sangat lelah. Lagi-lagi Jefran merasa bersalah. Pria itu sama sekali tidak pernah membayangkan kalau hari ini akan terjadi. Dia pikir dia bisa bermain aman, karena pasalnya perselingkuhannya dan Ciara sudah 4 tahun yang lalu. Bahkan selama 4 tahun itu pun semuanya tertutup rapih. Hanya Jefran, Ciara dan sahabatnya Mahesa yang tau.
"Rena.. Rena pasti marah banget sama gue". Gunam Jefran mengusap wajahnya kasar.
Tiba-tiba ia mengingat kejadian tadi siang saat dia menampar pipi anak kesayangannya. Ya, Jefran tidak pernah bosan berkata kalau Rena adalah anak kesayangannya. Karena memang hanya Rena yang sering bermanja-manja pada dirinya. Berbeda dengan Jean dan Jere, mungkin karena mereka berdua laki-laki.
Tidak bisa dipungkiri kalau dia sangat menyesal telah menampar anak gadisnya. Benar kata istrinya, seharusnya dia tidak main tangan. Jefran tadi siang memang tidak terkendali. Belum lagi saat melihat sudut bibir Rena yang mengeluarkan darah ditambah raut kecewa dari sang anak. Jefran semakin menyesal. Rena tidak pernah menatapnya dengan tatapan seperti itu. Sebelumnya, Rena selalu menatapnya dengan pandangan berbinar-binar.
"Rena udah tidur belum yah?"
Jefran mengambil ponselnya dan mencoba menelpon putrinya. Setelah beberapa kali menelpon tetap tidak ada jawaban. Akhirnya dia mencoba menelpon Jere dengan harap kalau anak laki-lakinya itu belum tidur dan menjawab telponnya. Namun sayangnya nihil. Jere juga tidak menjawab.
"Udah tidur yah?". Gumamnya.
Jefran menghela nafasnya. Ia ingin sekali menjemput kedua anaknya. Kata Jean, mereka sedang menginap di rumah eyangnya. Jean tidak memperbolehkan dirinya menyusul Jere dan Rena. Anak laki-laki itu mengancam akan pergi membawa bundannya kalau saja ayahnya berani menganggu kedua adik kembarnya.
Karena rasa bosan, akhirnya Jefran melangkahkan kakinya keluar kamar. Pria dewasa itu berjalan menuju balkon untuk sekedar menikmati angin malam. Jefran cukup terkejud saat melihat pintu balkon yang terbuka. Ia juga terkejud saat melihat asap yang mengepul di balkon rumahnya.
"Jean? sejak kapan Jean ngerokok?". Gumamnya bingung saat melihat putra sulungnya yang tengah menyalakan rokonya dengan korek gas yang dimilikinya. Mungkin ini rokok kesekian anaknya karena Jefran lihat cukup banyak bekas batang rokok yang berserakan.
Saat Jefran hendak menghampiri putranya, langkahnya terhenti kala mendengar sambungan telpon milik Jean. Jefran mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk menguping pembicaraan Jean dengan orang yang tengah di telponnya.
"Halo". Ucap orang di sebrang sana.
Dapat Jefran lihat kalau anaknya sedang tersenyum kecil.
"Tumben lo belom tidur". Kata Jean.
Orang di sebrang sana berdecak kesal.
"Gimana mau tidur anjing, dari tadi gue ovt perkara bapak lu bikin tingkah hari ini".
Jean terkekeh pelan. Ya, sama seperti kembarannya, Jean juga tidak bisa tertidur sejak tadi.
"Jer, Rena gimana? masih gamau keluar kamar?". Tanya Jean dengan nada khawatir.
Jefran yang sedang menguping pun mengerutkan keningnya.
"Jean lagi telponan sama Jere?. Tapi kok pas tadi gue telpon Jere gak mau ngangkat". Gumam Jefran sedih.
"Tadi sih keluar kamar sempet diajak jalan-jalan sama eyang, tapi dia gak mau"
"Jen lo gak ada niatain pindah sini gitu? lo gamau yah bareng kita-kita?". Lanjut Jere.
KAMU SEDANG MEMBACA
Home Sweet Home
FanfictionJAEROSE FAM Jefran sadar kesalahan fatal yang ia lakukan membuat keluarga kecilnya hancur. Ia berusaha mengembalikan suasana rumah yang hangat seperti sebelumnya walau anak-anaknya memaksa dirinya untuk menjauh.
