(4) belum bisa dimaafkan

1.9K 242 19
                                        

Tidak seperti biasa kini Jefran, Rose, dan Jean menyempatkan diri untuk sarapan bersama. Tidak hanya mereka bertiga, Jeje— anak kandung Jefran pun ikut duduk bersama mereka.

Jean sedikit melirik ke arah sang bunda dan juga adik barunya. Adik baru? sebenarnya ia masih belum bisa menerima kenyataan yang satu itu.

"Jeje makan yang banyak yah, kalau mau nambah bilang bunda oke?". Kata bundanya mengelus rambut anak itu. Jeje hanya mengangguk. Anak itu tidak banyak berbicara. Jeje mengangkat wajahnya dan akhirnya pandangan mereka bertemu. Namun dengan cepat, anak berusia 4 tahun itu langsung memutuskan kontak matanya membuat Jean keheranan.

"Anak itu takut sama gue?". Ucapnya dalam hati.

Jean melirik kesamping tampak sang ayah sedang sarapan dengan tenang, sambil sesekali mencuri pandang ke arah bundanya.

Jean menghela nafasnya kasar. Dulu mereka berdua tidak segan-segan mengumbar keromantisan di depan anak-anaknya. Tapi sekarang mereka bahkan tampak seperti orang asing.

"Jeje, kata ayah nama panjang kamu Jeremy yah? sama dong kaya abang Jere. Nanti kalo abang Jere pulang kalian temenan yah". Ucap Rose memecahkan keheningan.

"Jeremy yah?". Gumam Jean pelan tapi masih bisa terdengar oleh ayahnya. Jean melihat raut wajah sang bunda yang sempat murung, namun dengan cepat dia langsung merubah ekspresinya kembali. Jean paham, bundanya pasti tidak mau terlihat sedih dihapan Jeje.

"Aduh bunda jadi kangen bang Jere, bang kamu gak kerumah eyang lagi jenguk adek-adek kamu?". Tanya Rose pada Jean.

Ya memang betul, sudah tiga hari ini dia belum sempat menjenguk kedua adiknya. Kecuali Jere karena anak itu pergi ke sekolah setiap hari.

"Kayanya pulang sekolah aku mau mampir deh bun"

"Kalo bisa ajak mereka buat balik sini lagi yah, bunda kangen".Ucap Rose berusaha mengembangkan senyumnya.

Jean yang melihat itu pun entah mengapa hatinya ikut sakit. Sama dengan Jean, hati Jefran juga sakit saat melihat senyum palsu milik sang istri. Sesulit itu yah? padahal istrinya hanya ingin bertemu dengan anak-anaknya. Ya, semua memang salah dirinya.

"Tolong yah bang, ayah juga kangen". Kali ini Jefran ikut berbicara.

Jean pun mengangguk.

"Aku usahain". Ucapnya walau dirinya sendiri tidak yakin bisa membawa Jere dan Rena pulang atau tidak. Akhirnya Jean pun pergi kesekolah dengan hati yang tidak tenang.




Selesai sarapan, Rose menyuruh Jeje untuk kembali masuk ke kamarnya. Sementara dirinya sibuk membereskan meja makan. Jefran berdiri dari duduknya hendak membantu istrinya.

"Rose biar aku aja yang nyuci piring". Ucap Jefran.

"Gak usah, ini cuma dikit". Balas Rose tanpa menatap suaminya itu. Jefran pun menghela nafasnya. Pria itu menghampiri istrinya yang sedang mencuci piring.

Rose tampak risih dengan anak rambutnya yang kian jatuh dan menutup matanya. Wanita itu sedikit menyesal karena tidak mengikat rambutnya terlebuh dahulu. Jefran yang menyadarinya pun langsung ngambil kuncir rambut di atas rak. Pria itu merapihkan anak rambut istrinya dan segera mengikat rambut istirnya. Rose yang terkejut dengan perlakuan Jefran pun terdiam. Wanita itu sangat terkejut dengan perilaku Jefran barusan.

"Risih yah?". Tanya Jefran.

Rose hanya diam tidak ada niat untuk membalas. Selesai mencuci piring, wanita itu langsung naik ke kamar diikuti Jefran yang mengintil di belakangnya.

"Rose". Jefran pun menarik tangan istrinya.

"Kenapa sih?"

"Jangan begini". Ucap Jefran dengan nada memohon.

Home Sweet HomeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang