"Masih sakit gak bang?". Tanya Jefran setelah mengobati luka lebam di wajah Jere. Jere mendecih pelan dan menatap wajah ayahnya sinis.
"Siapa yang suruh dateng ke sekolah?". Tanya Jere.
"Gak ada yang nyuruh, ayah inisiatif sendiri"
Jean diam memperhatikan ayah dan saudara kembarnya.
"Kalo udah sampe adu jotos baru gue pisahin". Kata Jean dalam hati.
"Ayah kangen sama kalian, sama abang Jere sama Rena juga. Emangnya gak boleh ayah kangen kalian?"
"Gak boleh"
"Orang brengsek gak boleh ketemu sama adek gue". Lanjut Jere membuat Jefran kesal.
"Siapa sih yang ngajarin anak ayah jadi gak sopan begini? perasaan dulu kalian anak-anak baik. Jere, lain kali gak boleh begitu sama yang lebih tua". Ucap Jefran dingin.
Jere memutar bola matanya malas. Anak itu mengeluarkan ponsel disaku celananya. Membuka aplikasi kamera dan memberikannya kepada Jefran.
"Ayah nanya siapa yang ngajarin kita jadi songong gini? gaada yah, gaada yang ngajarin. Sekarang ayah liat handphone itu, kita begini yah karena orang yang ada di handphone itu kasih ke kita. Dia udah ngecewain kita. Yang bikin sikap kita berubah yah orang yang ada di handphone itu". ucap Jere.
Jefran terdiam. Dia sadar semua perubahan sikap anak-anaknya berawal dari dirinya.
"Kesalahan ayah udah fatal, aku bukan bunda yang gampang maafin orang"
"Ayah, Jere juga benci sama sifat Jere yang begini, Jere bukan Bunda sama Jean yang punya kesabaran tinggi, kesabaran Jere sama Rena tuh kaya ayah kan? cuma setipis tisu"
"Yah jadi harap maklum, kita sebenenya sama yah. Bedanya Jere gak sebrengsek ayah".
Jean terkekeh mendengar ucapan panjang saudara kembarnya.
"Lo berdua emang muka ngikut ke bunda, sifat ngikut ke ayah yah"
"Kalo gue muka ngikut ayah, sifat ngikut bunda. Puji tuhan"
Lagi-lagi Jefran hanya diam mendengar sindiran anak-anaknya.
"Abang, kalian udah makan siang?". Tanya Jefran pada kedua anaknya.
Jean menggeleng sementara Jere hanya diam sambil menatap Jefran malas.
"Mau makan dulu gak bareng ayah?"
"Engg—
"Mau, di tempat biasa aja". Ucapan Jere terpotong oleh Jean.
Jere membulatkan kedua bola matanya menatap Jean kesal.
"Gausah sungkan sama ayah sendiri". Bisik Jean.
"Bukan begitu bangsat"
Sementara Jefran hanya tersenyum dan menggiring kedua anaknya masuk kedalam mobil.
*****
Mereka sampai di restoran iga bakar langganan mereka. Keluarga Jefran sangat sering makan disini, tidak heran kalau pelayan restoran disini mengenal Jefran sekeluarga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Home Sweet Home
FanfictionJAEROSE FAM Jefran sadar kesalahan fatal yang ia lakukan membuat keluarga kecilnya hancur. Ia berusaha mengembalikan suasana rumah yang hangat seperti sebelumnya walau anak-anaknya memaksa dirinya untuk menjauh.
