(8) cigarettes after stress

1.5K 250 26
                                        

Sudah tengah malam, seperti biasa Jefran belum bisa tertidur. Pria itu memastikan sang istri tidur dengan posisi nyaman lalu kakinya melangkah menuju kamar anak gadisnya.

Mengingat kejadian di dapur tadi siang membuat hati Jefran tidak tenang. Pikirannya dipenuhi dengan tangan anaknya yang terdapat banyak luka sayatan yang masih tampak basah. Jefran takut. Jefran takut kalau Rena akan melakukannya lagi malam ini.

Pria itu membuka pintu kamar anak gadisnya yang ternyata tidak dikunci. Dilihatnya Rena sudah tertidur dengan pulas. Jefran tersenyum, dengan hati-hati dia membelai rambut anaknya. Gadis kecilnya kini tampak sudah sangat dewasa. Saat melihat wajah Rena, memori saat ia menampar pipi anaknya pun kembali terulang. Jefran sakit hati karena ulahnya sendiri. Pria itu meletakan kotak p3k yang tadi ia bawa. Kalau ia tidak bisa membantu mengobati luka anaknya, setidaknya Rena bisa mengobati lukanya sendiri.

Jefran beranjak pergi dari kamar Rena tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara ngigau anaknya.

"Benci..."

Jefran menyerit.

"Benci ayah". Sambung Rena.

Jefran terkekeh walau jujur hatinya sangat sakit.

"Rena benci banget yah sama ayah? maaf yah sayang". Ucap Jefran pelan.






"Ayah?". Jean dan Jere tersentak kaget saat melihat sang ayah membuka pintu balkon. Sementara Jefran hanya terdiam sambil menatap kedua putranya.

Jere yang merasa ditatap pun buru-buru menyimpan rokoknya karena tau kalau sang ayah pasti akan marah. Jefran tersenyum. Nyatanya dibalik sifat keras Jere, anak laki-lakinya itu masih tetap menghargai keberadaannya.

"Kalian gak tidur? besok sekolah loh?". Tanya Jefran.

Keduanya terdiam. Entah enggan menjawab pertanyaan sang ayah atau tidak tau harus menjawab apa.

"Abang mana rokoknya, ayah mau bagi". Ucap Jefran. Jean menyerahkan satu batang rokok dan korek pada ayahnya. Sementara Jere menatap keduanya tak percaya. Pasalnya, beberapa bulan yang lalu dirinya dan Jean pernah di marahi habis-habisan oleh sang ayah hanya perkara merokok.

"Bang Jere kenapa rokoknya dimatiin?"

Jere diam. Dia mati kutu.

"Takut dimarahin sama ayah tuh". Ucap Jean meledek.

Jere menatap kembarannya kesal.

"Apaan sih lo? emangnya gue takut apa sama ayah?". Ucap anak itu kembali menyalakan rokok barunya.

"Sebenernya ayah emang ngelarang kalian ngerokok kok, selain karena kesehatan, kan bunda lagi hamil. Gak baik tau kalo ibu hamil ngehirup asep rokok"

"Tapi ayah ngerokok"

"Iya gapapa, kamar bunda kan jauh dari sini"

"Maksud ayah tuh kalian gak boleh ngerokok sembarangan di rumah ini, cukup di balkon aja, dan jangan sering-sering". Ucap Jefran.

Jean mengangguk kecil sementara Jere hanya diam menikmati angin malam. Sejujurnya, anak itu merasakan rindu saat-saat mereka kumpul bertiga seperti ini.

"Ayah tau kok kalian lagi jenuh, makanya ayah ga ngelarang"

"Jere jenuh tiap hari, berarti kalo ngerokok tiap hari gapapa kan?"

Jefran terkekeh menepuk pundak anak laki-lakinya itu.

"Emangnya kuat? kamu kan anaknya cepet bengek"

"HAHAHAHAHAHA"

Jean tertawa keras. Anak laki-lami itu cukup puas melihat ekspresi wajah kembarannya. Entah mengapa, Jean merasa hatinya cukup plong saat tertawa lepas seperti tadi.

Jefran merasa senang malam ini. Ia merindukan moment dirinya bersama anak-anaknya.

"Ayah seneng malem ini bisa ngumpul bareng anak laki-laki ayah". Ucap Jefran.

"Kurang satu tuh laki-lakinya". Celetuk Jere. Sepertinya anak itu sudah mulai menerima ayahnya kembali. Mungkin.

"Jeje?"

"Iyalah, siapa lagi? masa Rena"

"Kamu udah nerima adik kamu?"

Jere menggeleng. Anak laki-laki menghisap rokoknya dan membuangnya.

"Belum. Nerima ayah aja aku belum bisa"

"Lagi usaha pelan-pelan". Sambung Jere.

Jefran mengangguk. Merangkul tubuh kedua anaknya. Kali ini tidak ada penolakan dari Jean maupun Jere.

"Ayah juga lagi usaha pelan-pelan kok buat kalian percaya lagi sama ayah". Ucap Jefran sebelum mereka bertiga masuk ke kamar masing-masing.

******

Jere sejak tadi memandangi adik tirinya yang hanya diam di balik pintu. Awalnya ia tidak peduli, namun lama-lama Jere merasa risih juga. Kenapa anak itu ngeliatin dia sih?

"Heh Jeremy". Panggil Jere.

"Nama lo Jeremy kan?"

Anak itu mengangguk.

"Ngapain dari tadi ngeliatin gue di balik pintu? naksir?". Tanya Jere.

"Abang kok adeknya di gangguin". Ucap Rose yang baru datang dari dapur.

"Wihh kentang bun". Ucap Jere mengambil dua buah kentang dari piring yang Bundannya bawa.

"Abang kebiasaan, ini punya adiknya loh". Ucap Rose kesal.

"Biarin"

Rose hanya menggeleng. Wanita itu memandang Jeje yang dari tadi hanya diam di balik pintu.

"Sayang sini bunda punya kentang kesukaan Jeje loh". Ucap Rose. Namun Jeje hanya diam. Rose kadang juga tidak mengerti dengan anaknya yang satu ini. Jeje itu susah di tebak. Rose masih berusaha untuk mendekatkan diri dengan anak tirinya.

"Di panggil noh sama bunda gue, lo kalo gamau kesini gue gigit". Ucap Jere yang langsung mendapat cubitan dari bundannya.

"Sakit bun, aduhh adek abang dicubit". Adu Jere pada adiknya yang masih di dalam perut sang bunda.

"Lagian kamu gangguin adiknya mulu dari tadi"

"Tapi ampuh loh bun, noh dia kesini". Ucap Jere tersenyum puas.

"Abang nakal yah Jeje? nanti kalo kamu di gigit sama bang Jere lapor ke bunda oke? biar bunda gigit balik"

Jeje menggeleng ketakutan. Sementara Jere tertawa puas. Selesai memakan cemilan, Rose berjalan menunu dapur meninggalkan kedua Jeremy tersebut.

Jere melirik Jeje yang hanya diam. Kadang kasian juga kalo ngeliat Jeje. Jere paham kalau anak itu merasa tidak nyaman untuk tinggal disini. Apalagi baginya, kita semua adalah orang asing. Bahkan ayahnya sendiri pun pasti dianggap asing oleh Jeje. Kalau dipikir-pikir, Jeje hanya sendirian disini.

"Nih permen". Ucap Jere memberikan tiga buah yupi yang selalu ada di kantung celanannya pada Jeje.

"Ambil". Takut-takutJeje pun mengambil yupi tersebut

Jere beranjak dari duduknya. Sebelum pergi, anak laki-laki itu mendengar ucapan "terimakasih" dari Jeje. Walaupun sangat kecil, tapi Jere tersenyum lega.

"Ternyata gak bisu beneran"

*****

Sesuai janji aku update hari ini xixixixi

Home Sweet HomeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang