Hubungan saudara tiri biasanya akan disangkut pautkan dengan ketidak akraban dan rasa benci. Tapi bagaimana jika dalam hubungan saudara tiri kali ini justru tersangkut pada sebuah perasaan juga hubungan yang diragukan kelanjutannya?
WARNING: You ent...
Kevin terdiam menatap kue dihadapannya setelah berulang kali memastikan kehadiran kedua orang tuanya yang tak kunjung datang. Anak lelaki berusia empat tahun itu mencopot topi berbentuk kerucut dengan hiasan rumbai berwarna emas yang sempat disematkan oleh sang nenek. Hatinya terasa sepi, padahal ada banyak teman-teman sebaya juga nenek dan kakeknya yang sedang menyanyikan lagu ulang tahun atau sekedar bermain memecahkan pinata demi mendapatkan hadiah permen yang akan keluar saat benda itu hancur.
Wajah Kevin kecil memerah, matanya pun sudah seperti bendungan sungai yang siap meluap karna intensitas hujan lebat yang tak kunjung berhenti menghujani hatinya. Neneknya yang paham dengan suasana hati sang cucu tak mampu berbuat banyak. Menghibur cucu semata wayangnya pun takkan mampu mengobati luka yang tercipta akibat merasa ditelantarkan.
"Dewa... " Sang nenek berusaha mendekati ketika sang cucu sudah nampak memandangi kakinya, berusaha menahan isakkan tangisnya yang mungkin akan langsung pecah saat itu juga. Tapi bukannya suara teriakkan atau makian seorang bocah empat tahun yang tantrum, wanita tua itu justru melihat cucunya tersenyum ceria setelah sebelumnya nampak mengusap wajahnya yang nampak agak basah.
Kevin, cucu nya yang masih berusia empat tahun, sudah mulai belajar mengendalikan emosinya dan buruknya ia menahan diri dalam kadar yang tidak seharusnya.
. . . . .
Semilir angin menerpa tubuh Kalista begitu wanita itu membuka pintu taksi yang baru saja ia tumpangi. Anak rambutnya yang tidak bisa ikut terikat beterbangan mengikuti arah angin, membuat Kalista agaknya kesulitan untuk sekedar berjalan tanpa harus merapikan rambutnya yang beterbangan. Tungkai jenjang itu melangkah ringan, menuruni undakan tangga demi menuju salah satu pendopo di sisi ujung jembatan.
Sosok lelaki bersurai legam dengan kemeja berwarna coklat muda bisa Kalista lihat sedang sibuk memandangi danau yang penuh dengan hamparan bunga teratai. Surai legamnya turut berterbangan tertiup angin, tak berbeda jauh dengan surai kecoklatan milik wanita itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bibirnya menghela nafas lega begitu sosok itu masih memunggunginya, tidak sadar jika ada seseorang yang mendekatinya dengan langkah yang begitu berhati-hati. Kalista langsung menutup mata lelaki itu dengan kedua tangannya, meski tak perlu bersuara pun Kalista sudah dapat merasakan kedua sudut bibir lelaki itu tersungging naik menciptakan sebuah senyuman diwajahnya yang semula menampakan raut suram.
"You're here." Ucapnya terdengar senang. Kalista langsung menurunkan tangannya. "Not funny. You have to act like you're surprised."
Wanita itu mengambil jarak, duduk berlawanan arah dengan Kevin yang kini sudah mengambil posisi berhadapan dengannya. "Kamu dari kampus?" Kalista mengendikkan bahu, namun tangannya sibuk memindahkan tas yang ia tenteng sejak tadi ke bagian sudut pendopo. Tangan wanita itu kemudian meraih paper bag berukuran sedang kemudian mengeluarkan barang yang tersimpan didalamnya.