Sang Pelukis

29 2 0
                                        

Ganja. Mungkin itulah benda pertama yang pernah Syd rasakan. Bersenggama seharian penuh bersama ilusi-ilusi yang dibuatnya sendiri tanpa mengenal batasan apapun, baik ruang maupun waktu sekalipun.

Syd berjalan menyusuri tangga dengan begitu sempoyongan, rambut coklat tua panjang yang tak terurus sedikitpun, kelopak mata hitam bagai panda di negara yang salah, muka lonjong penuh akan luka lebam tak berarti, dan jangan lupakan pakaian khas darinya.

Jaket berkain kasar dari bulu domba pegunungan berwarna hitam, celana panjang berbahan kain halus lagi empuk berwarna biru tua bergradasi biru muda, tak lupa pula kemeja jingga senja menghias.

Langkah penuh rasa sakit tanpa alas kaki menggerayangi jalanan dingin kota, tanpa peduli sedikit dari semua rasa pegal di kaki.

Trotoar kota, gemerlapan lampu di kanan di kiri, segara manusia dari penjuru tempat, bangunan-bangunan yang terus beroperasi yang begitu bising di daun telinga.

Sebuah pemandangan risih untuk Syd. Berjalan melewati berbagai macam manusia yang berbeda-beda hanya untuk sampai di rumah seseorang, di sebuah rumah dimana ia bisa merelakan semua hiruk-pikuk masyarakat.

Gang Kelinci telah menanti, barangkali sekitar enam meter darinya.

Masuk ke dalam gang, Syd lalu berjalan penuh rasa linglung hingga akhirnya ia berhenti di rumah bernomor 43, rumah kecil yang dari tampilan luar hanyalah rumah biasa dengan variasi bentuk persegi dan atapnya yang merupakan variasi bentuk dari bangun prisma segitiga.

Pagar hitam setinggi tiga meter Syd panjat tanpa memperdulikan kalau bau tubuh darinya sudah tercium oleh anjing galak tetangga sebelah.

Setelah masuk ke dalam area rumah, segeralah ia memanggil nama si pemilik rumah tanpa menggunakan intonasi suara sopan sedikitpun.

" Kanao! Ini aku! Aku mohon buka pintunya!" Begitu terus sampai ia kelelahan sendiri. 

Menggeramlah ia beberapa kali sembari menahan tubuh untuk tidak jatuh ke tanah, akan tetapi semua hal ini tak dapat lagi dicegah, Syd pada akhirnya jatuh pingsan di depan rumah Kanao.

...

Netra ungu kehitaman mulai membuka matanya secara perlahan-lahan, kesadaran dari diri mulai meningkat tatkala sosok yang dicari di depan rumah telah menunjukkan wujudnya.

Kanao, gadis cantik pujaan hati Syd si kotor, tengah terduduk diam menatap datar Syd yang terbaring tak berdaya diatas ranjang tidur.

" Kenapa engkau ke sini? Ada perlu apa lagi kau?"

" Kanao... benar kah, kau Kanao?"

" Ya, ini aku Kanao. Jadi apa yang ingin kau lakukan di sini?"

" Harusnya kau tahu sendiri kenapa aku berada di sini. Tujuanku tidak akan pernah berubah sedikitpun, meski kamu ingin menjauh sedikitpun."

Kanao mengangguk paham dan tanpa diduga-duga sebuah tamparan keras menghantam pipi kanan Syd begitu telak, rasa sakitnya pun menjalar keseluruhan syaraf. Aneh? Kurang lebih hal itulah yang menggerayangi isi pikiran Syd.

Di tatapnya netra pink dari si dia. Marah, kecewa, tapi begitu datar.

" Sadar diri Syd, kamu ini siapa, sadar diri juga bagaimana keadaan mu sendiri, sudahkah kamu mengingat hal itu?"

" Apa? Apa yang harus aku ingat? Kaulah wanita satu dari sekian banyak orang wanita yang masih mau peduli dengan diriku," Kanao makin berang, kali ini ia kembali menampar sekali lagi pipi pemuda pecandu itu hingga dibuat merintih oleh dia.

Syd hanya pasrah diatas ranjang sembari menerima segala jenis tamparan dari wanita keras nan datar, ia tak menyangka orang paling ia percayai atau bisa juga paling ia sayangi, telah menampar kedua belah pipi.

Angkringan Time. KNY VERSION { Revisi}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang