Mudah-mudahan

30 0 0
                                        

Spesial Giyushino

.

Tak usah banyak bacot di awal bukanlah tipe terbaik atau hal paling kusukai.

Mbak Kanae, dia adalah orang tersabar yang pernah kutemui dari yang lain. Tak banyak orang seperti dia, atau mungkin memang lagi underrated aja...dih, kenapa malah kek rating lagu?

Waktu itu adalah hari Minggu pagi, tapi acara drama keluarga khas Indonesia sudah tersaji saja. Aku saja tak menginginkan hal ini sebagai pembuka awal lamaranku tapi ya...mau gimana lagi? Ini resikonya memang.

"Giyuu! Kamu beneran mau ngelamar si Shinobu?!" tanya Mbak Kanae dengan muka yang...ah sudahlah, tak baik untuk dideskripsikan.

"Iya."

"Kamu yakin sama adekku yang sering nangis kalau ngulang adegan peri gigi di Harry Potter mati?" tanya Kanae tambah dramatis.

"Iya."

"Kamu yakin?! Dia itu kadang-kadang bisa aja ngompol kalau habis nonton film horor loh!"

"Iya."

"Kamu yakin?! Soalnya-," belum selesai si dia membeberkan aib Shinobu, sontak dari arah dapur terdengar teriakan, "Udah kak! Jangan umbar aib-aibku!" Yup, itu dia suara calon istriku.

"Iya. Harus banget ya aku bicara kalau aku mencintai Shinobu di depan orangnya langsung?"

"Giyuu!!" teriak Shinobu yang begitu melengking bagaikan suara telecaster.

...

Baiklah... kejadian barangkali sudah terlewati begitu saja. Lamaranku, Alhamdulillah sudah diterima dengan lapang dada dari kakak ipar sekaligus mertua.

Akhirnya, semua ketidak jelasan dari sebuah formasi band indie, bisa menjadi suami istri sah di tiga bulan mendatang... hehehehe, jangan tersinggung ini hanya informatika saja.

( Author: Informasi ogeb!)

Di sore yang cerah lagi penuh akan nuansa indie. - asek! Indie!- terlihatlah awan putih di atas langit sana. Ingin kutambah lagi kata-kata mutiara, tapi sayang kisah ini bukan kisah estetik.

Di sebuah trotoar kota, kami tengah menunggu jajanan yang tengah kami berdua pesan sedari tadi, tapi sayangnya belum juga jadi karena harus digoreng terlebih dahulu.

Batagor itulah pesanan si Shinobu, tapi karena tak mau dia harus sendirian menunggu di mobil, jadi aku ajak saja dia di sini, untuk menemaniku menunggu di mamank batagor selesai dengan pesanan kami.

"Harus banget ya aku ikut? Padahal jarak mobil sama batagor kan nggak nyampe 1 meter," rajuk Shinobu. Emang dasar calon bini, maklumi sajalah kalau aku.

"Mobil panas, nanti kamu kedinginan,"

"Aku bisa nyalain AC, lagipula itu mobilnya kan kuncinya di aku,"

"Nanti kamu muntah Shin, dah paling bener tuh duduk berdua bersama,"

Semakin kujawab alasannya, semakin cemberut dan ngambek juga posisi duduknya. Ia memalingkan wajahnya ke sisi lain, tak mau untuk melihat diriku. Yo wes lah, terserah si Shinobu ae.

***

Di mobil, kami masih bisa bercanda, hehehe ya walau sedikit ada hal-hal yang membuat ngambek 2.0 miliknya kambuh sekali lagi.

Tapi sekali lagi. Ini bukan cuman jalan-jalan biasa, melainkan jalan-jalan luar binasa atau bahkan jalan-jalan emejing.

'sungguh repetisi kata yang sangat jalan-jalan sekali!'

Memutari daerah bundaran di depan alun-alun, lalu dilanjutkan melihat-lihat arsitektur bangunan yang bercampur baur antara gedung baru nan modern, dengan bangunan-bangunan kuno nan antik khas bercorak Tionghoa.

Maklum saja, pengusaha senior di kota memang didominasi oleh kaum Tionghoa, meskipun beberapa keturunan yang baru lebih tertarik pada bidang selain bidang ekonomi, tapi tetap saja, bangunan-bangunan bekas itulah yang menjadi mesin waktu bagiku untuk bisa melihat serta merasakan, bagaimana bangunan-bangunan bekas itu dahulunya bekerja sebagai toko/rumah kontrakan.

Seusai dari melihat-lihat bangunan vintage, kami terus melaju beberapa kilometer hingga suara deru ombak terdengar.

Pantai berpasir hitam. Pantai kunjungan semua orang, Pantai Teluk Penyu.

Baiklah singkat saja, kami hari ini tengah duduk di atas pasir hitam. Alas para kepiting, keong, kelomang, dan hewan-hewan lain yang nggak usah aku sebut satu-satu jenisnya, capek atuh!
Ok intinya pasir hitam penuh dengan hewan-hewan sejenis mereka, tak lupa bersama juga dengan para sampah-sampah yang berserakan.

Ya, mau bagaimana lagi? Ini memang kenyataannya.

"Yu," panggil Shinobu.

"Aku dudu yayumu, cah ayu," satirku dengan nada kemayu.

"Ja*cuk! Aku tuh lagi manggil kamu!"

"Santai aja kali, aku cuman bercanda."

"Yu, kalau udah nikah nanti, kita mau tinggal di mana?"

Tinggal di mana? Tumben dia berpikiran visioner, kedepan, dan penuh masa depan! Mantap! Ini baru calon istri ideal, bukan cewek di luar sana yang cuman mikir punya rumah, punya anak, terus hidup bagaikan di surga karena suaminya CEO yang rangkap jadi geng motor sama mafia!

Bukan! Ini realistis! Istriku ini cukup realistis!

"Di mana aja asal keluarga kita bahagia,"

"Di mana aja? Kalau kolong jembatan kamu mau?"

"Asal bahagia, sakinah, mawadah warahmah, aku setuju."

"Terus anak-anak nanti gimana?"

Kan, dia emang realistis.

"Anak-anak? Hahaha, emang kamu mau punya anak berapa Shin?"

Dia cemberut, lalu lirih ia berkata.

"Dua aja...biar kayak anime yang aku tonton,"

"Dua? Tiga aja sekalian, nanggung Shin."

"Terserah lah! Yang penting kamu serius!"

Aku tertawa kecil mendengar hal itu. Sejenak kami terdiam hening tanpa bicara, hingga ketika sang surya telah hampir menutup diri dari permukaan bumi, aku lalu berkata.

"Kau cukup tinggal denganku, ada banyak cara hidup lebih baik denganku, dan mudah-mudahan semua sikapku adalah bagian terbaik dalam hidupmu, Shin."

Ia tersenyum sinis, lalu berbalik menatapku dan kemudian berucap.

"Ya, mudah-mudahan. Semoga,"

Fine

:).

Y

eah! Upload chapter baru!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 13, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Angkringan Time. KNY VERSION { Revisi}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang