Bagian 2

400 57 6
                                        

TERIMA KASIH BAGI YANG SUDAH MEMBACA. TERUS DUKUNG DENGAN MEMBERI VOTE DAN KOMEN!

HAPPY READING!

••••••

Di sebuah kamar bernuansa biru laut, seorang gadis tampak duduk di kasurnya ditemani novel yang sedari tadi dibacanya. Avarel meletakan novelnya di nakas, dan kemudian memikirkan sesuatu.

"Ishh! Kenapa gue kepikiran, sih?!" geramnya kesal. Tadi saat kedua temannya ingin menjelaskan tentang Ezra, ia malah tak acuh dan mengabaikan temannya yang kesal padanya.

"Udahlah. Mending gue jajan ke alfamart." gumamnya. Ia melangkahkan kakinya mengambil cardigan hitamnya, karena dirinya hanya mengenakan piyama dengan lengan pendek.

Ia turun kebawah, Ava bisa melihat papanya sedang menonton televisi dengan mamanya. Ia mendekati orang tuanya.

"Pah, Mah. Ava keluar sebentar, ya." ucap Ava membuat patsuri itu menoleh.

"Mau kemana? Ini udah malem." Faino bertanya.

"Mau ke alfamart, jajan."

"Bukannya masih banyak, ya, stok makanan kamu?" sahut Yolanda heran. Pasalnya, putrinya itu sangat suka ngemil. Bahkan di kamar anak itu sudah ada lemari kecil untuk menyimpan makanan.

"Hehe, udah abis, Mah." Ava cengengesan.

"Yaudah, tapi hati-hati. Udah malem soalnya." peringat Faino. Avarel mengangguk, lalu berjalan keluar rumah.

Setelah sampai, ia mengambil keranjang dan mulai mengambil ciki, roti, dan beberapa makanan lain serta minuman. Ia menuju kasir karena sudah puas memilih.

"Totalnya 345.000, kak." kata penjaga kasir itu. Ava memberi kartu debit pemberian papanya, tadi sebelum keluar, dia diberi karena takut kurang. Sebenarnya Ava membawa banyak, tapi mana mungkin ia menolak kartu dari Faino.

"Terima kasih sudah berbelanja." Ava mengangguk, lalu menenteng plastik besar itu keluar.

Ava sedikit kesusahan karena yang ia beli lumayan banyak. Ia juga sedikit takut, karena jalanan saat ini lumayan sepi. Tak ada kendaraan, bahkan orang-orang hanya sedikit yang berlalu lalang, padahal baru pukul 20.40. Ia juga tidak membawa ponsel.

Saat di dekat gang kecil, Ava melihat segerombolan pria dengan gaya preman. Ia melangkah takut saat melewati mereka.

Plis, biarin gue lewat, ya. Gue cuma bawa jajanan, nggak bawa duit cash buat lo palak! Batinnya menjerit. Tapi sepertinya keberuntungan tidak berpihak pada gadis itu, karena salah satu dari mereka mendekati Ava.

"Neng cantik., mau kemana malem-malem gini?" tanya preman itu.

"Cakep juga nih, cewek." sahut yang lain mendekat dan mencolek dagu Ava.

Gadis itu sontak merinding. "Misi, Bang. Saya mau pergi." ujar Ava dingin. Preman itu tertawa renyah.

"Eitss. Nggak bisa gitu, dong. Lo harus kasih duit lo udah lewat jalan ini." jelas preman dengan tindik di telinganya, jangan lupa tato yang memenuhi lengannya.

"Saya nggak bawa duit, jadi biarin saya pergi!" balas Ava dengan nada sedikit tinggi.

"Ck! Apa susahnya, sih? Tinggal kasih duit doang!" bentak preman satunya mulai marah. Baru saja hendak memegang lengan Ava, suara seseorang membuat atensi preman itu teralih. Termasuk Ava sendiri.

"Kalo sampe lo sentuh itu cewek. Gue habisin kalian." tekannya. Avarel membulatkan matanya saat tau siapa orang itu.

"Siapa lo berani nyuruh kita, hah?!" teriak preman itu.

EZVARELTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang