Semuanya tak serumit yang di bayangkan. Dengan kepribadian Heksa yang sekarang ada sebuah kelegaan dalam hatinya.
Lelaki itu berubah 180° dari Heksa yang dirinya kenal. Perubahan yang sangat jauh. Kelegaan hatinya pun makin bertambah melihat tak ada satupun gadis yang ingin mendekatinya. Heksa menutup dirinya penuh.
Namun, ada satu wanita yang mencuri perhatiannya. Geby masih bertanya-tanya akan siapa gadis itu sebenarnya? Mereka tampak akrab dengan Heksa yang berperilaku hangat. Selayaknya sikap dia dulu kepadanya.
Hal yang sangat di sayangkan Geby bahwa lelaki itu memiliki pemikiran kekanak-kanakan. Mungkin ini terdengar wajar tapi tidak untuk Geby.
Ia bahkan tahu alasan di balik Heksa yang bersikap demikian jauh dari sebelum ia menyatakan perasaannya. Ia bersih kukuh menyatakan perasaannya hanya untuk mengeluarkan Heksa dari pemikiran kekanak-kanakannya itu.
Sayangnya mau beribu kalipun Geby melakukannya Heksa tetap pada pemikirannya. Dia begitu keras kepala tanpa ingin mengutarakan ketakitannya pada Geby.
Membuang napas lelahnya. Kenapa lo harus sekeras kepala itu Sa? Apa lo gak yakin akan gue sendiri? Seharusnya dulu lo lakuin ini bukan bersikap sok denial. Gue gak akan ngelakuin hal gila ini kalau lo jujur. Batinnya.
Tin! Tin! Tin! Tin!
Lamunannya buyar seketika, Geby melohat mobil sedan berwarna putih yang baru saja datang. Ia bergegas masuk saat tahu siapa gerangan orang yang mengklaksonnya tadi.
"Lo— hampir bikin gue jantungan tau ngga?" Wajahnya yang tegang, tatapan matanya menyiratkan keterkejutan yang kentara, mulutnya terbuka kecil.
Nindi di buat tercengang dengan pemandangan di depannya. Ia tatap Geby sembari bergidik ngeri. Bagaimana bisa ia mengenal hingga dekat dengan seorang yang begitu penting? Bahkan orang itu tepat ada di sampingnya.
Bagaimana Nindi menjelaskannya? Yang pasti ada setitik ketakutan dalam dirinya. Berurusan dengan orang kaya pasti rumit tapi Geby? Nindi tak bisa untuk menjauhinya. Dia berbeda dari kebanyakan orang yang di kenalnya.
Seakan tahu maksud dari perkataannya Geby tersenyum polos kearahnya. Gigi kecilnya yang lucu ia perlihatkan. "Tapi gak jantungan benerankan?"
"Lo ngedoain gue jantungan?" Sewotnya dengan mata yang melotot horror.
"Loh? Tadi kan lo sendiri yang bilang bukan gue." Wajahnya ia tekuk kesal. "Lagi pun apa yang buat lo kaget?"
"Apa lo bilang?!" Sewotnya lagi. Ia pukul stir mobilnya kasar. "Lo abis keluar dari tu gedong."
"You know? Itu kediaman Victoria. Kalau aja gue gak tau soal kediamannya gue masih okeh okeh aja. Tapi ini?"
Matanya menatap rumah besar di depannya. Rumah atau sebuah mension? Berlantai 4 yang terlihat megah. Di depannya ada pancur air dari patung ikan mas yang terlihat berkilau. Di samping itu ada garasi mobil, motor, dan kendaraan lainnya. Lalu di sebelahnya lagi ada rumah kaca yang indah berisikan bunga.
Puluhan bodyguard juga Cctv terlihat di berbagai sudut. Pemandangan ini biasa ia lihat di internet tapi kali ini ia melihatnya secara nyata.
Saat awal masuk Nindi tak merasa curiga. Dari segi keamanan yang ketat hingga pemeriksaan dirinya Nindi masih bisa berfikir positif. Lagi pula dari awal kedatangan Geby dengan penampilan sederhananya sudah bisa di tebak bahwa gadis itu berasal dari keluarga terpandang.
Tapi, tak pernah terfikirkan olehnya jika keluarga terpandang itu adalah keluarga Victoria. Yang mana eksistensi keluarga itu begitu tinggi. Wilayah kekuasaannya yang luas, atas atau pun bawah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi, Liebling!
Teen FictionCara biar gebetan lirik balik itu gimana caranya? Geby punya 1001 cara buat narik doi ke sisinya. Di buat gila juga karena hilangnya dia di hidupnya. Resikonya? Di kejar secara ugal-ugalan. "Kali ini akan gue buat lo sendiri yang ngejar gue." _G ...
