Part 12

42 2 0
                                        
















"Kenapa?"

Saat lift terbuka menampilakan Vano dengan baju rapihnya. Ia pandangi kedua adiknya dengan Ghea yang menggendong Geby ala koala.

"Capek abis main." Balas Ghea singkat.

Vano mengangguk mengerti, di pandanginya sang adik. Matanya yang bulat terlihat sayu antara mengantuk dan kelelahan. "Abis main apa tadi? Sampai kecapean kayak gini." Tangan kekarnya senantiasa mengelus surai adiknya pelan.

"Tadi adik abis main di Timezone." Jawabnya pelan. Geby kehabisan energi setelah keluar beberapa jam yang lalu. Emang yah jiwa introvertnya ini akan meronta saat di rumah. Lemesnya bukan main padahal hal kayak gini bisa di katakan normal tapi beda cerita kalau itu kejadian sama dia.

Geby juga sangat mengantuk terlihat ia menguap beberapa kali. "Nanti kita kapan-kapan ke sana yah abang? Di sana seru.." ujarnya lagi.

"Tentu baby." Vano tersenyum tipis. Mirisnya sang adik tak pernah main keluar. Sang papah seakan mengurung Geby di mension. Vano sebenarnya ingin membawa kedua adiknya bermain di luar namun keadaan yang memaksanya.

Semuanya tidak semenyenangkan yang di bayangkan. Banyak hal berbahaya yang terjadi di luaran sana.

"Bawa adikmu ke atas Ghea. Geby sepertinya mengantuk."

Ghea mengangguk. "Abang jadi pergi?" Tanyanya.

Vano terdiam sejenak. "Jadi."

"Jaga adikmu."
"Abang pergi dulu sayang."

Sebelum pergi Vano mengecup kening kedua adiknya sayang. Ia mengacak rambut Ghea sejenak yang di balas delikan s empu.

"Berantakan." Desisnya kesal.

Sang adik bungsu tak memperdulikam interaksi keduanya. Ia sudah memejamkan matanya menuju alam mimpi.

Setelah kepergian Vano, Ghea bergegas ke lantai atas. Ia membaringkan sang adik di kasur. Napasnya yang teratur terdengar, Geby terlelap dengan mudahnya pada gendongan miliknya.

Tanpa kata ia masuk ke kamar mandi, mengambil baskom berisikan air dengan handuk kecil. Ia buka baju sang adik, membasuhnya dengan handuk yang sudah basah, mengelap tubuh adiknya sayang. Setelahnya ia berikan mijak telon juga bedak bayi juga baju yang cukup hangat untuk adiknya.

Geby tak merasa terusik sedikitpun ia masih terlelap dengan nyaman seakan semua yang di lakukan Ghea padanya tak berefek apapun.

Di pandanginya sang adik dalam diam. Wajahnya polos terlihat damai, mulutnya yang kecil terlihat bergerak lucu seakan mengemut sesuatu. Ghea terekekeh, kebiasaan adiknya tak pernah hilang. Tidak saja dirinya memberikan lucifer pada adiknya. Geby tak akan menyadarinya.

Cup

Di kecupnya kening sang adik cukup lama. "Kakak sayang sama adek." Lirihnya.

Tangannya lalu terangkat, mengelus pipi chubby kemeraha adiknya penuh sayang.

Seketika tatapan matanya meredup. Tak terasa adiknya sudah dewasa. Ghea merasa baru kemarin menggendong adiknya yang mungil, lucu nan menggemaskan.

"Jangan cepet besar dek.. kakak masih pengen gendong kamu, ngurus kamu, dan ngejaga kamu. Maaf kakak gak bisa ngasih sosok ibu buat kamu, maaf.."

"Kakak benar-benar menyayangimu Geby."

Tak lama terdengar isak pelan. Ghea menangis di samping sang adik yang sedang terlelap.

Ia selalu merasa bersalah pada adiknya. Geby tak merasakan kasih sayang seorang ibu. Adiknya pun di asingkan dari keluarga, tak membiarkannya mengenal dunia luar hingga pergaulannya pun di batasi.

Hi, Liebling!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang