Part 10

75 4 0
                                        












Heksa selalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apa yang telah ia lakukan dulu itu salah? Apa dirinya juga salah karena ingin melindungi orang tersayangnya? Semua keputusan yang di ambilnya dulu.. Heksa masih bertanya-tanya hingga saat ini.

Di hadapannya langsung kini kedua kakak beradik yang baru di ketahui olehnya. Bagaimana bisa Heksa tak menyadari kemiripan keduanya? Kini ia tahu akan jawaban dari pertanyaannya itu.

"Gue gak pernah meragukan lo By. Bahkan gue tahu lo bisa dan lebih bisa menjaga diri lo. Tapi gue gak bisa membiarkan itu semuanya." Batinnya.

"Sebelumnya gue minta maaf bang. Gue udah ngorek informasi soal Geby juga—"

"Semua yang gue lakuin ke Geby." Heksa menunduk tak berani menatap yang lebih tua.

Jika bisa memutar waktu Heksa ingin memutar waktu itu. Dia ingin memperbaiki semuanya, hingga kejadian 2 tahun lalu tak pernah terjadi. Heksa akan menjaga Geby sepenuhnya bagaimana pun caranya.

"Gue gak pernah ada maksud buruk soal ngorek identitas lo By."

"Semua yang gue dapet makin gue bertanya-tanya. Kenapa lo lakuin ini?"

Keningnya mengernyit, Geby tak mengerti akan apa yang di katakan lelaki itu.

"Gue gak tahu permasalahan seperti apa yang terjadi pada kalian berdua. Tapi gue harap masalah ini gak merembet kemana-mana." Vano menatap Heksa dengan pandangan berbeda.

Saat ini dia berusaha menyangkal dugaannya. Tapi jika itu benar bagaimana? Vano dengan berat hati menerima semuanya. Bagaimana pun juga hanya Heksa orang yang pantas bersanding dengan adiknya. Lelaki itu bisa menjaga adiknya lebih dari dirinya sendiri.

"Lo omongin lagi nanti berdua sama adek gue. Gue gak mau denger apapun di sini."

Hela napasnya terdengar. "Sorry bang."

"Kali ini gue maafin tapi nggak untuk lain kali."

Heksa mengangguk dan Geby hanya mampu terdiam. Gadis itu akan bertanya lebih lanjut nantinya. Bukan berarti dia yang akan menghampiri yah kawan-kawan. Ada saat di mana lekaki itu menariknya lagi. Geby akan membereskan semuanya hingga tahap kegilaan Heksa di tingkat maksimum.

"Mode posesif nya keluar heh!" Remeh Radit dengan tawa sinisnya. "Lo gak pernah berubah yah Yo."

"Gue salut sama lo di usia semuda itu."

Mereka ini seumuran hanya Vano lahir lebih dulu. Di usianya yang ke 22th Radit masih selayaknya remaja labil. Menikmati masa muda dengan berpoya-poya, clubbing, bermain wanita hingga one night stand.

Sudah tak terhitung pengalaman bercinta miliknya.

Radit seorang pengangguran yang menghasilkan uang, anak tunggal kaya raya. Kedua orang tuanya sangat memanjakan dirinya, mereka tak pernah keberatan akan apa yang ia lakukan, selagi tak membuat kerugian untuk orang lain.

Radit salut akan sosok sahabatnya itu. Vano benar-benar sosok yang sempurna.

"Lo tahu adik kecil? Geo ngejaga lo banget. Saking ketatnya keamanan dia gue yang udah lama kenalan sama Geo gak tahu adik bungsunya seperti apa." Ia terkekeh.

Jago juga keluarga Victoria menyembunyikan fakta besar seperti ini.

Geby mendengus kesal. "Dia emang posesif." Ujarnya.

Tawanya pecah saat itu juga. "Lo denger Yo? Dia aja mengakui lo emang posesif parah."

Vano bersidekap dada, wajahnya yang datar bertambah datar saja.

Hi, Liebling!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang