5. Berani

191 22 1
                                        


..

Nadin menghabiskan susu pisangnya dengan cepat, rasanya jantungnya berdegup kencang, efek lama tidak menjadi seorang pemimpin upacara sekolah, Nadin membuang sampah susu kemasannya ke dalam tong sampah lalu mulai melangkahkan kakinya ke lapangan. Semua mata menatapnya yang berjalan dengan berani sambil mengikat rambut panjangnya lalu memasang topinya.

"Pak, ini Nadin. Nadin menggantikan Doni yang sakit sebagai pemimpin upacara hari ini." Ucapan Tina membuat semua mata menatap kaget.

"Kamu yakin bisa?" Tanya guru berbadan besar itu.

"Badan saya boleh kecil tapi mental saya cukup berani di banding badan kakak kelas dua belas yang besar tapi nyalinya ciut." Nadin menjawab dengan berani. Jangan ragukan mantan lulusan sekolah negeri terbaik dan seorang anak Jendral.

"Dia benar Pak." Suara itu membuat Nadin menoleh dan mendapati Caspian tersenyum padanya, sedangkan tidak jauh dari barisan itu ada Galaksi yang mengangkat keningnya menatap Nadin.

"Baiklah, saya hargai keberanian kamu Nadin."

Nadin berdehem kecil lalu berjalan dengan tegap mulai memimpin upacara bendera. Nadin memejamkan matanya dan memberikan hormat yang sempurna pada sang bendera merah putih.

"Siswi itu kayaknya terlatih. Dia yang seberani dan sebagus itu kenapa enggak sejak kelas sepuluh munculnya sih?" Ucap seorang guru.

Nadin memimpin upacara bendera dengan sukses tanpa tahu kalau ada sepasang mata yang menatapnya benci.

Selama satu jam ia memimpin, Nadin melakukan banyak hal mengejutkan, dari suaranya yang lantang dan terdengar indah dan gestur tubuhnya yang layaknya seorang terlatih disiplin sejak lama. Wajah cantik dengan kulit putih yang memerah karena terpapar sinar matahari.

Selesai upacara Nadin langsung berlari pergi dengan alasan ke toilet padahal ia menghindari tatapan orang-orang, terutama para tokoh utama di novel yang ia masuki. Nadin memilih bersembunyi di toilet mendinginkan dirinya.

**

"Lo pikir teman lo yang perfect itu bakalan nolongin lo?"

"Hahaha, enggak mungkin sih. Memangnya Diana bisa apa?"

"Sist, lo salah pilih teman. Bilang ke Diana yang terkenal baik dan polos itu, jangan dekati Caspian lagi!"

Nadin merasakan jantungnya berdegup kencang, ia bersembunyi di bilik toilet dan mendengar obrolan tidak mengenakkan, terlebih ia mendengar isak tangis. Apa nasib buruknya berpindah ke orang lain? Nadin rasa dunia novel ini lebih gila karena selalu memakan korban. Seingatnya di buku yang ia baca, pembulian padanya terjadi karena orang-orang tahu ia adiknya Diana karena tidak sengaja ketahuan turun dari mobil yang sama. Tapi sekarang pembulian itu beralih pada teman Diana.

Di buku saja Diana tidak bisa berbuat apapun saat Nadin di bully, padahal Nadin adiknya, apalagi gadis yang sedang di bulli itu cuma temannya. Diana tidak akan perduli.

"Byuuurr ...." suara guyuran air membuat Nadin memejamkan matanya.

"Jangan terlibat Nadin Xavienna! Abaikan, disini lo mau hidup jadi cewek perfect lagi." Nadin meyakinkan dirinya sendiri.

"Maaf, aku aja yang kalian siksa jangan Diana. Dia baik, dia enggak salah apa-apa." Suara isakan tangis dan permohonan yang terdengar pilu itu terasa menyayat perasaan Nadin. Suara derap langkah yang mulai menjauh membuat Nadin menghela napasnya dan keluar dari bilik toilet.

Nadin menatap iba gadis yang baru saja di bulli itu, Nadin bisa melihat penampilan berantakan gadis itu, kacamata tebal seperti yang di pakai Nadin di dalam buku dulu dan tampilan nerd. Nadin melepas blezer yang di kenakannya dan melampirkannya di bahu gadis itu.

i'm the main carachterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang