2. Transmigrasi.

307 22 0
                                        

......

Nadin membuka matanya perlahan, keningnya berkerut melihat kamar yang asing bahinya, dinding kamar putih bersih. "Gue selamat?"

Nadin bangun dari tidurnya, keningnya semakin berkerut saat melihat jari-jari tangannya yang langsing dan kurus. "Gue koma? Kenapa tangan gue bisa jadi kurus dan putih pucat?"

"Nadin, kamu sadar sayang?" Bunyi suara pintu di buka menampilkan seorang perempuan cantik berusia empat puluh tahunan membuat Nadin mengerutkan keningnya.

"Siapa?" Pertanyaan Nadin membuat wanita itu menangis. "Loh kok tante nangis?"

"Ini Mommy sayang." Balasan wanita itu membuat Nadin semakin bingung. Nadin mencoba turun perlahan dari tempat tidurnya, kepalanya terasa pusing. Saat Nadin melewati kaca besar, ia menghentikan langkahnya dan menoleh dengan tatapan kaget.

"Plak ..." Nadin meringis merasakan sakit di pipinya karena tamparannya sendiri.

"Nadin apa yang kamu lakukan sayang?" Wanita yang menyebut dirinya mommy itu langsung memeluk Nadin.

"Itu siapa?" Nadin menunjuk pantulan dirinya di cermin.

Sejak kapan Nadin punya wajah manis dengan pipi sedikit chubby dan bibir kecil yang penuh. Hidung kecil yang mancung. Wajah Nadin sebelumnya punya garis wajah seksi dan manis dengan kulit sedikit kecoklatan karena proses taning, kenapa ia berubah jadi gadis remaja cantik sekaligus imut? Kemana mata tajamnya yang mengintimindasi? Kenapa sekarang matanya berubah menjadi mata bulat yang punya warna coklat terang.

"Astaga Nadin, kecelakaan mobil bersama Diana ternyata bikin kamu amnesia. Semua salah Diana."

"Diana?" Nadin mengerutkan keningnya.

"Wait! Diana? Nadin? Gue gila atau gimana?" Nadin berkata dalam benaknya.

"Harusnya kamu juga di rawat di rumah sakit, bukan cuma di rumah. Mommy telepon dokter sekarang."

Nadin hanya mengangguk dengan ribuan pertanyaan dalam benaknya.

**

Nadin menatap dirinya di cermin sambil duduk, setelah mengetahui apa yang terjadi dan sekarang ia duduk dengan mata yang memerah karena menangis mengingat keluarganya.

"Gue mati. Gue masuk ke dunia yang enggak nyata." Nadin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sejak ia di diagnosa mengalami hilang ingatan oleh dokter dan di tinggalkan pergi oleh wanita yang menjadi ibunya di dunia ini. Nadin sudah mencoba banyak cara. Mencubit bahkan memukul tubuhnya sendiri berulang kali tapi nyatanya semua yang di alaminya bukan mimpi.

"Sial, sial, sial." Nadin mengumpat kesal. Minimal kalau ia harus merasuki salah satu karakter di novel Caspian. Paling tidak jadikan ia peran antagonis atau protagonis. Nyatanya ia malah menjadi Nadin Deandralista, adik pemeran utama yang hanya muncul beberapa kali, itupun karena di bully dan berakhir mati menggantikan Diana yang di culik.

"Nadin, lo terlalu cantik untuk mati." Nadin berkata pada cermin di depannya lalu melirik kacamata dengan lensa tebal serta alat make up dan perawatan kulit seadanya.

Nadin memejamkan matanya, menurut buku yang di bacanya, keluarga Diana itu keluarga yang cukup berada tapi karena Nadin enggak pintar apa-pun sedangkan Diana adalah murid berprestasi, ia bisa dapat uang jajan yang lebih dari ayah mereka yang seorang dokter.

Nadin bangun dari duduknya dan menatap dingin dirinya di cermin, mengamati lagi betapa cantiknya Nadin tanpa tampilan nerd. Apa karena sekarang ia yang menempati tubuh Nadin, makanya matanya bisa melihat dengan jelas tanpa kacamata.

i'm the main carachterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang