...
Caspian membuka pintu kaca sebuah toko bunga besar dengan nama Nadin's Flowers. Sudut bibir Caspian tertarik membentuk senyum kecil yang samar saat melihat Nadin yang sedang belajar merangkai bunga bersama ibunya sedangkan ada dua pegawai yang sedang bekerja.
"Ada yang bisa di bantu Mas?" Suara pegawai toko membuat Caspian mengangguk singkat.
"Tolong satu buket bunga itu." Caspian menunjuk satu buket bunga mawar merah kecil yang sudah di rangkai dengan cantik.
"Baik, tunggu sebentar."
Caspian mengangguk lalu mengeluarkan satu kartu berwarna hitam miliknya lalu membayar bunga yang di belinya sambil melirik Nadin yang merangkai bunga membelakanginya.Caspian tidak tahu kalau rencananya untuk mendekati ibu gadis itu malah berujung membuatnya bertemu dengan gadis itu.
"Mom, Nadin boleh enggak pakai baju seksi?"
Rianti tertawa mendengar pertanyaan Nadin. "Baju seksi yang gimana sayang?"
"American style look gitu loh, Mom. Nadin tuh enggak pengen kelihatan kayak bocil banget. Nadin juga boleh kerja enggak?"
"Kerja apa? Memangnya uang dari Mommy kurang? Kamu mau apa sih? Mommy belikan deh." balasan Rianti membuat Nadin mendesah pelan.
"Coba aja ada cowok kaya raya yang beli mobil buat Nadin. Tapi nanti kalau Nadin jadi kaya raya, Nadin enggak butuh cowok. Mommy juga bisa ikut Nadin, enggak perlu lagi tekanan batin tinggal sama Daddy. Kita bisa pergi ke Paris, Singapura, Shopping. Semuanya Nadin yang bayar."
Rianti mengangkat alisnya lalu tertawa, Rianti tidak menyangka kalau anaknya bisa berpikir begitu dalam waktu singkat. Rianti juga terharu dengan ucapan Nadin yang terkesan polos tapi juga penuh keyakinan.
"Nadin." Nadin menoleh, matanya mengerjap kaget melihat Caspian datang ke toko bunga ibunya.
"Loh kamu yang di restoran itu?" Rianti membalas.
"Halo Tante, nama saya Caspian kakak kelas Nadin." Caspian langsung mengambil tangan Rianti dan mencium punggung tangannya. Nadin ingat saat Caspian berkunjung ke rumahnnya untuk menemui Diana, Rianti sudah pergi ke toko.
"Duduk dulu, tante buatkan minuman." Rianti tersenyum senang.
"Mom." Nadin memegang ujung gaun Rianti.
"Sebentar sayang, itu kakak kelas kamu datang habis beli bunga di toko kita." Rianti membalas lalu langsung ke bagian belakang toko.
"Belajar merangkai bunga?" Caspian membuka obrolan.
"Enggak, lagi belajar masak. Ya iyalah gue belajar merangkai bunga." Nadin menjawab dengan ketus. Caspian terkekeh kecil.
"Di depan mommy lo, lo kelihatan manja dan manis banget ya, kalau mommy lo enggak ada langsung jadi kucing garong." Caspian menopang dagunya menatap Nadin yang memasang wajah datar tapi malah terlihat menggemaskan.
"Terimakasih ya mas sudah beli bunga di toko kami, disana jalan keluarnya silahkan!" Nadin membalas dengan senyum terpaksanya.
"Gue belum mau pergi. Minuman mommy lo belum datang." Caspian menjawab lalu berdehem kecil saat melihat Rianti datang dengan nampang berisi tiga gelas teh.
"Makasih Tante." Caspian berkata sambil menyambut teh yang dibuat Rianti.
"Tante yang makasih karena kamu sudah menolong Nadin."
"Saya yang makasih karena Tante sudah melahirkan Nadin. Soalnya saya naksir anak Tante."
"Uhuk ...." Nadin yang baru menyesap tehnya langsung tersedak mendengar ucapan Caspian.
KAMU SEDANG MEMBACA
i'm the main carachter
Storie d'AmoreNadin, gadis berusia dua puluh lima tahun yang memandang hidupnya sempurna dan serba bisa. pintar, cantik, serba bisa. Nadin yang lulusan universitas Oxfort dan punya lisensi sebagai pilot pesawat, pemegang sabuk hitam karate dan lihai muangthai kar...
