7. Berbeda.

152 17 1
                                        

***

"KRRRIIIINGGG ..." Nadin membuka matanya dengan kaget mendengar alaramnya, Nadin mengusap wajahnya dengan kesal, berharap ia bangun di tubuh lamanya tapi nyatanya ia tetap menjadi Nadin di dalam novel.

Nadin turun dari tempat tidurnya dan merasakan kepalanya berdenyut pusing. "Ssstthh ..."

"Nadin, gue mau lo ..." suara dobrakan pintu membuat Nadin mengangkat kepalanya, pandangannya mengabur. "Gila lo acting apa lagi?"

Nadin mengerutkan keningnya melihat Diana yang sikapnya berbeda. Nadin merasakan kepalanya semakin sakit, terakhir yang ia lihat hanya dinding putih sebelum semuanya menggelap.

"Gawat, dia beneran pingsan." Diana berdecak. "MOMMY, NADIN PINGSAN!"

Derap langkah tidak sabaran membuat Diana menoleh dan melihat kedua orangtuanya menatap khawatir. "Diana, kamu apakan Nadin?"

"Aku mau bangunin Nadin, terus dia jatuh dari tempat tidur. Aku enggak tahu Mom." Diana tahu ia hanya anak tiri tapi ia benci kalau semua hal harus tentang Nadin terus, ia bahkan merasa tidak pernah di anggap, Rianti hanya tersenyum kecil saat Diana dapat prestasi bagus, harusnya Diana membuat mental Nadin lebih hancur lagi, dulu saat mereka beranjak puber Diana sudah berhasil menghancurkan mental Nadin, Diana juga berhasil membuat ayahnya berada di pihaknya. Tapi sekarang Nadin malah berubah drastis, bahkan lelaki yang di sukainya mendekatinya hanya untuk bertanya tentang Nadin.

"Kita kerumah sakit." Rianti berkata. Dimas memeriksa keadaan Nadin dan menghela napas.

"Nadin cuma pingsan biasa, di rawat di rumah saja. Paling satu jam an lagi dia sadar, nanti setelah sadar baru ke rumah sakit."

"Mas, ini anak kamu pingsan."

"Nadin enggak apa-apa, kamu enggak usah teralalu berlebihan. Percaya denganku. Aku dokter!"

Rianti menghela napasnya, matanya memerah menatap tajam suaminya yang tidak pernah meganggap keberadaan Nadin.

**

Nadin melihat kedua orangtuanya dan adiknya yang menangis di depan ruangan yang Nadin tahu sebagai rumah sakit. Ada teman-teman palsunya yang juga bersedih.

"Nara?" Nadin mencoba menyentuh adiknya tapi malah tembus pandang.

"Bapak, Nara, Ibu. Ini Nadin belum mati!" Nadin berkata tapi nyatanya ibunya semakin menangis saat seorang dokter keluar.

Lutut Nadin terasa lemah, ia terduduk di lantai rumah sakit yang dingin tanpa ada yang melihatnya.

"Anak Bapak dan Ibu berhasil di operasi tapi kemungkinan ia sadar hanya sepuluh persen, anak Bapak hanya bisa bertahan dengan alat-alat medis. Maaf." Ucapan dokter itu membuat Nadin menangis meraung tanpa terlihat.

"Kalian puas? Ini yang kalian mau 'kan! Gue mati." Nadin berteriak kepada ke empat temannya walaupun tidak ada yang mendengarnya.

"Nadin." Suara Joseph yang terengah membuat Nadin merasakan hatinya semakin di remas. Lelaki itu menangis untuk Nadin. "Om, Tante, Nadin selamat 'kan?"

"Bugh ..." ayahnya Nadin melayangkan pukulannya di pipi Joseph.

"Saya tahu kamu menyukai anak saya tapi kamu juga mempermainkannya. Semua sahabatnya juga mengkhianati Nadin, kamu pikir saya sebagai ayahnya ini tidak tahu apa pun tentang anak saya?"

Nadin menatap sendu ke arah ayahnya yang mengenakan seragam angkatan udara, sepertinya ayahnya itu baru pulang dari tempat bekerja.

"Saya memang salah, seberengseknya saya, saya melakukan ini karena saya enggak bisa merusak Nadin demi memuaskan nafsu bejat saya. Saya berkorban demi masa depan Nadin. Saya rela di tinggalkan, apa pun yang saya lakukan, saya selalu pulang pada Nadin. Apa pun yang Nadin mau, walaupun ia pergi dan pergi dengan siapapun, saya akan tetap menerima Nadin pulang pada saya." Joseph berlutut.

i'm the main carachterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang