........
"Wait!" Galaksi berkata saat Nadin ingin keluar dari mobilnya. Galaksi mengambil buket susu pisang kemasan di kursi belakang.
"Makasih Gala." Nadin menerima buket susu pisang itu. Galaksi menyandarkan tubuhnya sambil menatap Nadin.
"Gue suka nama panggilan lo." Galaksi berkata. "Besok mau di jemput jam berapa?"
"Gue di antar Mommy. Besok gue di kasih buket coklat aja ya, atau buket permen susu." Nadin berkata.
Sudut bibir Galaksi tertarik membentuk senyum kecil, tangannya terulur mengusap puncak kepala Nadin dengan lembut. "As you wish, Queen."
"Hati-hati Gala." Nadin turun dari mobil Galaksi dengan satu buket susu pisang kemasan dan juga beberapa paperbag belanjaan. Nadin tidak munafik, lagi pula jiwanya adalah gadis berusia dua puluh lima tahun yang dulu punya hidup sempurna dan nyaman. Jadi Nadin tidak menolak tawaran belanja Galaksi.
Nadin melambaikan tangannya pada Galaksi dan masuk ke dalam rumahnya, Rianti bilang kalau ia akan pulang terlambat malam ini karena pesanan buket bunga orang, saat ia makan malam bersama Galaksi tadi.
"APA-APA'AN RAMBUT KAMU?"
Nadin terlonjak kaget saat baru masuk ke dalam rumah malam ini, mendapatin Dimas dan Diana yang duduk menunggunya. Mulut Nadin sedikit terbuka, ia baru datang tapi sudah di bentak.
"Nadin, kami khawatir karena kamu pingsan." Diana menambahkan.
"Kamu malah buang-buang uang demi hal enggak penting. Kalau kamu enggak bisa apa pun, paling enggak kamu pergi beli buku atau les bukan pergi melakukan hal enggak penting." Dimas berkata.
"Aku enggak pakai uang Daddy. Aku juga enggak pakai uang Mommy." Nadin menjawab dengan dingin lalu melewati ayah dan anak itu. "Jadi gini ya kalau Mommy belum datang. Kalian memperlakukan aku begini. Lucu banget."
Nadin dengan cepat masuk ke kamarnya. Tapi ia cukup kaget saat pintu kamarnya di buka dengan kasar. Nadin mengerutkan keningnya saat Diana masuk dengan wajah kesal.
"Apa?" Nadin melipat tangannya dindepan dada.
"Lo yang kenapa? Gue sudah bilang 'kan jangan coba menarik perhatian. Lo yang begini bikin malu keluarga Dad yang Dokter. Nadin lo enggak cocok begini." Diana berkata dengan pelan tapi bernada tajam. Nadin tertawa pelan.
"Gini dong dari kemaren-kemaren. Enggak usah fake!" Nadin membalas.
"Mungkin lo lupa, tapi lo mau kejadian saat kelas lima terjadi lagi? Gue bisa bikin semua orang jauhin lo. Atau lo lupa, gue bisa aja bikin Mommy di buang Daddy. Ingat Nadin, lo itu cuma anak haram nyokap lo. Daddy bertahan sama nyokap lo itu cuma karena balas budi ke keluarga nyokap lo."
Nadin menatap tajam lalu maju selangkah dan berbisik. "Lo pikir gue perduli? Lo pikir lo siapa di hidup gue, berarti lo hancurin mental gue dulu tapi sekarang biar gue balas."
Nadin mencengkram kedua bahu Diana dengan kuat sampai membuat Diana menatap tajam tapi badannya tidak bisa melepaskan cengkraman Nadin. "Lo itu cuma jalang kecil yang enggak tahu apa pun. Jadi jangan coba-coba sentuh mommy, kalau sampai itu terjadi maka nyawa lo melayang."
Nadin mendorong pelan Diana. Nadin tersenyum miring. Wajah Diana memerah karena marah tapi detik berikutnya ia malah menangis. "KAMU KENAPA NAD? AKU MINTA MAAF KALAU SALAH." Diana membuat tampilannya menjadi acak-acakan.
Nadin mengangkat alisnya melihat Diana yang menangis histeris. "Sakit jiwa!"
Derap langkah membuat Nadin menghela napas. Dimas mendatangi ia dan Diana. "Nadin kamu apakan kakak kamu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
i'm the main carachter
RomanceNadin, gadis berusia dua puluh lima tahun yang memandang hidupnya sempurna dan serba bisa. pintar, cantik, serba bisa. Nadin yang lulusan universitas Oxfort dan punya lisensi sebagai pilot pesawat, pemegang sabuk hitam karate dan lihai muangthai kar...
