2

485 43 16
                                        

Pekerjaan menjadi bagian terpenting bagi Jeon Jimin. Apalagi semenjak pengangkatan dirinya sebagai Manajer Umum. Tak bisa ditepis, bahwa ada rasa bangga yang membuat dia besar kepala. Menjadi wanita dengan karier cemerlang merupakan impian Jimin sedari dahulu, walau banyak pengorbanan demi mewujudkan asanya.

Duduk santai di kursi pemimpin, Jimin memegang kendali atas berlangsungnya rapat kali ini. Rapat dihadiri oleh beberapa divisi dalam perusahaan yaitu Jimin selaku Manajer Umum, Min Aeri yang merupakan sekretaris manajer. Berikut tiga orang lainnya adalah staf khusus di bidang produksi dan pemasaran. Kemudian seorang Investor baru, Tuan Jackson Wang.

Begitu rapat dibuka, tanpa banyak basa-basi dan menghindari waktu terbuang, Jimin langsung meminta kepada setiap bagian untuk mengemukakan kondisi lapangan jua tempat kerja dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Perusahaan tempat Jimin bekerja memang mengalami kemajuan pesat dalam setahun belakangan. Banyak pihak pemegang kuasa dengan sukarela memberi donasi dengan nilai terbilang tinggi. Agaknya kurva keuntungan yang digadang-gadang akan terus meningkat menjadi alasan kuat bagi mereka, hingga bersedia menitipkan dana puluhan bahkan ratusan juta Won kepada perusahaan.

Jeopark Corp, bergerak di bidang properti terutama apartemen kelas menengah. Mendekati empat tahun lamanya Jimin mendedikasikan dirinya di sini. Kinerjanya mendapat sorotan khusus dari si pemilik, Park Jisuk. Maka dari itu tak sulit bagi Jimin untuk mendongkrak kariernya sampai ke puncak.

"Aku menyetujui semua rencanamu. Ide-ide segar juga dengan konsep yang tepat. Sepertinya kau memang piawai mengendalikan jalannya rancangan perusahaan. Kunjungan berikutnya kita akan menandatangani berkas kesepakatan--aku permisi dulu. Ada hal lain yang harus kukerjakan." Pria ini tampak tergesa menyingkir setelah berpamitan sewajarnya.

Sepanjang rapat, tak banyak kata terucap dari Jackson Wang. Dia hanya mendengar sambil mengamati Jimin dengan intens, seolah-olah lebih menjatuhkan minatnya terhadap sosok menawan si Manajer Umum.

"Pria aneh. Apa yang terjadi padanya? Apakah terlalu sulit untuk bicara? Kita mengadakan rapat ini agar bisa berdiskusi. Dasar! Dia membuatku bingung, yang dia lakukan hanya diam sampai rapat selesai. Tiba-tiba semudah itu menyetujui semua rencana kita." Aeri menggerutu selagi merapikan berkas-berkas di meja.

"Sudahlah, biarkan saja dia. Kita membutuhkan dana. Aku senang karena kita mendapatkannya," Kepuasan kentara pada senyuman Jimin. "Tadinya aku berpikir, Tuan Wang adalah orang yang rumit dan susah diajak kompromi."

"Ya, semoga dia bukan orang yang salah."

"Jangan terlalu cepat menduga! Menurutku dia tidak tampak mencurigakan."

"Kuharap pun demikian. Ehm, aku akan beritahu skedul selanjutnya--satu jam lagi ada pertemuan dengan Nyonya Park, Daechi sudah kuminta menyiapkan mobil."

"Baiklah, tolong laporannya, ya. Katakan pada Daechi agar menunggu di lobi dalam sepuluh menit lagi."

-----

Barangkali bosan atau bingung, jelas ekspresi Jungkook kelihatan buruk saat ini. Neraca keuangan yang sedang dia cermati menjadi penyebab rusaknya suasana hati. Terang saja, kondisi perusahaan memang mengalami penurunan. Dampaknya juga tidak main-main dalam memengaruhi seluruh struktur yang tengah berjalan.
Irisnya yang kelam serta merta melirik ke pintu usai menangkap ritme ketukan. "Ya, Yuna?" tanya Jungkook mendapati sekretarisnya membawa beberapa map berisi laporan.

Shin Yuna, perempuan ideal di mata para lelaki. Tinggi semampai, tubuhnya berisi pada bagian tertentu. Kulitnya bening nan halus, rambut panjang tertata rapi. Pola wajahnya juga pas, serasi untuk setiap garis. Dia salah satu pujaan para jejaka di Zuna Inc.

"Ada sedikit laporan lagi yang belum Saya serahkan, Pak."

"Taruh di meja!" seru Jungkook. Lantas, dia bersandar ke punggung sofa. Sejak menit-menit lalu dia kehilangan gairah, menatap malas pada tumpukan berkas yang baru saja datang. Tak lama Jungkook mengerang letih, matanya terpejam.

"Anda baik-baik saja, Pak?" 

"Sejujurnya aku cape. Berkas-berkas itu membuatku muak. Yuna, apa tak ada satupun laporan berbeda yang bisa menghiburku? Penawaran kerja sama dari perusahaan besar barangkali?"

"Saya membawa laporan sesuai fakta yang terjadi, Pak. Dan bukankah perusahaan kita memang dalam keadaan surut?" Tentu pernyataan sekian berdasarkan hasil yang ditangkap sejauh pengamatan Yuna.

"Aku tahu. Kau tidak perlu mengingatkan soal itu." Kepala Jungkook mulai terserang pusing. "Rasanya aku ingin pulang, tapi di rumah pasti lebih membosankan lagi.

"Anda ingin sesuatu, Pak? Kalau mau Saya akan mengambilkan obat penenang. Mungkin yang Anda perlukan hanya tidur." Perhatian kecil terhadap sang Direktur biasa terbilang, selama pimpinannya ini mengalami guncangan emosional di tahun-tahun teranyar.

"Ucapanmu ada benarnya juga. Sekalian buatkan teh kamomil untukku. Maaf kalau merepotkanmu."

"Baik, Pak!" angguk si sekretaris sebelum meninggalkan ruangan dan bergegas menyiapkan permintaan sang direktur.

-

"Ini teh dan juga obatnya, Pak."  Yuna meletakkan secangkir teh hangat juga sebotol pil obat penenang. "Saya tidak tahu apakah Anda sudah makan atau belum. Obat itu dikonsumsi setelah makan, jadi saya bawakan saja makanan ini."

"Makanan apa?"

"Samgyetang."

"Kau membelinya?"

"Tidak. Saya memasaknya sendiri di rumah." mendadak Yuna malu-malu saat menjawab pertanyaan sekian, spontan dia menunduk dengan sudut bibir yang sedikit naik.

"Jadi kau menyerahkan bekal makan siangmu padaku?" Tanpa sungkan Jungkook membuka kotak bekalnya. "Kelihatan enak, kebetulan sekali aku tidak sempat makan di rumah."

"Bapak boleh menghabiskannya bila suka."

"Lalu, kau makan apa jika kuhabiskan?"

"Saya bisa makan di kafetaria dengan teman-teman yang lain."

"Wah, kalau begitu aku tidak akan segan lagi."

"Selamat makan, Pak," kata Yuna jangka dia menarik langkah dari sana.

"Rasanya lumayan, cukup bagus untuk ukuran seorang wanita yang kelihatan tak mahir apa-apa selain berdandan." Jungkook mengoceh seorang diri sambil menikmati makan siang gratis dari sekretarisnya yang menawan.

-----

"Sora, Tuan sudah pulang?"  baru tiba di rumah, Jimin langsung masuk ke dalam menjumpai si asisten rumah tangga.

"Belum, Nyonya. Anda ingin makan malam?"

"Nanti saja, di mana putraku?"

"Minguk ada di kamarnya. Dia bilang mau mengerjakan tugas sekolah." Sora menjawab terang-terangan sembari dia membersihkan meja.

"Apa tadi pagi Tuan memberitahu akan pulang terlambat?"

"Tidak, Nyonya."

"Siapkan makan malamnya jika suamiku sudah pulang ya. Aku akan ke kamar Minguk."

-----

Catatan kaki:

Samgyetang (makanan korea); sup yang terbuat dari daging ayam, ginseng dan berbagai bumbu rempah untuk pelengkap rasa. Samgyetang merupakan sup daging ayam utuh yang diisi dengan nasi ketan, akar ginseng, kurma korea serta bawang putih.


(END) SolipsisticTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang