Hari-hari dilewati Jimin tanpa ada perubahan rutinitas. Dia tetap meneruskan kariernya di Jeopark. Namun, ada satu fakta yang berlaku. Sudah tiga bulan dia tak serumah dengan suaminya. Dimulai sejak malam di mana pria itu mengumumkan niat untuk bercerai.
Diam-diam Jimin pergi dari kediaman mereka, hanya secarik kertas berisi kalimat singkat sebagai pesan perpisahan. Maaf atas semua kesalahanku padamu juga putra kita. Akan kucoba menerima keputusanmu. Semoga kau selalu berbahagia. Begitulah isi catatan pendek yang ditulis oleh Jimin. Dia menempelnya di permukaan cermin di kamar mandi.
Pagi ini Jimin sedang memanaskan air di dalam panci di dapur, berencana menyiapkan sarapan pagi untuk dia dan putranya. Begitu air mendidih, Jimin memasukkan gandum cepat saji yang ditambahkan dengan susu cair. Dia memasak bubur gandum ini dengan api sedang selama dua menit agar mengembang, sesekali mengaduknya pelan-pelan.
Begitu bubur gandum matang, dengan hati-hati Jimin menuangkannya ke dalam mangkuk keramik. Dia mendinginkannya sekejap, sebelum membubuhkan potongan tipis buah pisang dan avocad di atasnya. Sebagai pelengkap, dia menaburkan bubuk brown sugar untuk menambahkan rasa manis yang pas.
Di ruang lain, Minguk tampak duduk melamun. Ekspresi murung terukir di parasnya sampai derit pintu membangunkannya dari lamunan. Dia menoleh dan segera bangkit kala melihat ibunya berdiri di sana.
"Minguk, kenapa belum turun? Ayo, nanti kita terlambat, Sayang." Lalu, kakinya berayun menyusul ibunya ke dapur.
-----
"Kenapa belum dimakan? Biasanya lahap kalau Mama menghidangkan ini." Sudah lima menit Minguk cuma mengamati mangkuknya.
"Kapan Papa menjemputku, Ma? Aku ingin pulang."
"Kenapa? Kau tidak suka tinggal bersama, Mama? Kita jadi punya kesempatan untuk meluangkan waktu berdua." Minguk hela napasnya pelan-pelan, entah bagaimana caranya mengatakan unek-unek yang terpendam. Di sisi lain, keheningan tersebut memancing dugaan negatif di benak Jimin.
"Papamu baru datang lusa. Jadi, suka ataupun tidak, tetaplah menunggunya di sini."
"Bukan itu yang kupikirkan. Mama salah paham. Aku senang akhirnya Mama bisa lebih sering bersamaku. Bagi Mama, mungkin keadaan kita tidak berpengaruh apa-apa. Kita berdua masih menjalani hari dengan baik. Tapi, Papa tidak seperti ini." Kontan Jimin mendongak, berikutnya dia mendesah berat menunjukkan penyangkalan.
"Mama tahu papamu baik-baik saja. Saat dia kemari untuk menjemputmu minggu lalu, Mama yakin tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Justru dia jauh bugar dan bersemangat dari dugaanmu."
"Aku tidak sepolos itu lagi, Ma. Umurku hampir sepuluh tahun, aku sudah mengerti apa yang terjadi pada keluarga kita. Papa pura-pura kuat, aku tahu dia stres, Ma." Dahi Jimin berkerut sekarang.
Minguk memang lebih cerdas dari anak-anak seusia dia. Situasi menempa kepribadian dan cara pikirnya menjadi naik beberapa tingkat. Dia tampak keras diluar, sebaliknya begitu rapuh di dalam. Rasa cinta untuk ayah ibunya sebanding, lebih luas dari rasa kecewa yang dia tuai dari kenyataan retaknya ikatan keluarga serta rencana perpisahan ayah ibunya.
"Apa yang kau maksud dengan stres, Minguk?! Papamu sendiri yang menginginkan kita seperti ini."
"Tidak, kenapa Mama masih pura-pura tidak memahaminya? Papa--" Suara Minguk merendah, "Dia hanya tidak tahu caranya meminta dengan benar atau bagaimana membuat seseorang betah di dekatnya. Mama yang sedang marah, papa juga tidak pasti sampai kapan bisa menyadari kesalahannya. Tetapi, Mama dan Papa malah sama-sama berperang untuk menang. Itu membuatku heran, kenapa cuma aku yang mengalah di sini? Apa Mama sungguh menerima semuanya?!" Masih hendak menutupi sebagian luka untuk dirinya sendiri.
-----
"Ini kopinya, Tuan, " kata Sora sembari menata cangkir berikut tatakan ke atas meja. "Tuan sakit? Wajah Anda pucat sekali. Apa perlu saya bawakan obat dan bekal untuk makan siang?"
Penampilan Jeon Jungkook berubah drastis. Badannya jauh kurus, rambut-rambut halus di wajah pun seakan lolos dari perhatian. Kondisinya seketika mengundang simpati Sora.
"Tidak usah, aku makan di kantor saja nanti."
"Tuan yakin tidak apa-apa?"
"Jangan berlebihan! Lelah karena bekerja adalah hal yang wajar. Terima kasih untuk kopinya, Sora." Bergegas bangkit sekadar menghindari pandangan prihatin dari orang-orang. Sejujurnya, Jungkook membenci saat tatapan yang tertuju padanya mengandung rasa iba.
"Ya Tuhan, tolong kembalikan kedamaian keluarga ini--kasihan sekali dia."
-----
"Kau senang dengan peningkatan yang kita dapat?" Kim Woobin mengumumkan di tengah-tengah pertemuan santai mereka. Sambil meresapi aroma dan candu pahitnya kopi, mereka silih bertukar kata seputar pekerjaan.
"Semua berkat dirimu. Harus dengan apa membayar rasa terimakasihku? Sudah kupikirkan berulang-ulang, tetapi tak ada yang bernilai pantas." Jungkook menghirup dalam-dalam batang nikotin di belah jemarinya.
"Bicara tentang angka, aku jadi merindukan Paman Jeon. Aku kalah telak jika kau terus membahas soal bentuk terima kasih dan kita tak pernah selesai dengan nominal total yang sama."
"Otakku sedang sakit dan caramu bicara seperti mengulang sejarah." Lelucon berbalut sindiran halus bagi Kim Woobin, batinnya mencelus mengenang masa silam. Berujung tawa sumbang datang bersamaan.
"Problematika satu-persatu sudah ditangani, apa lagi yang menjadi bebanmu sekarang?"
"Anggap saja aku kena sial. Perusahaan atau keluarga, tak ada yang berhasil dalam hidupku." Jeon Jungkook layaknya pria dewasa yang terperangkap pada kubangan putus asa. "Mungkin dosaku di masa lalu tidak termaafkan, sampai aku yang hidup di masa kini pun harus menampung rumitnya ujian kehidupan." Jungkook mengisap dalam-dalam pangkal balutan tembakau tersebut, seperti dia seutuhnya menikmati aroma dan rasa pahit asam yang mengalir di kerongkongannya. Tiada peduli kendati lawan bicaranya terperanjat sebab menemukan asbak berisikan banyak puntung rokok. Bukan hanya tiga atau empat batang, ada banyak di situ.
"Rokok tidak mampu memperbaiki masalah. Tetapi, aku percaya itulah yang mengubah penampilanmu. Kau kelihatan kacau, Jungkook. Sangat berbeda dengan pertemuan kita di beberapa bulan sebelumnya." Sebentuk ejekan lantang terucap dari mulut Kim Woobin, mengundang sedikit humor menggelitik dari kata-kata yang pedas. Jungkook tertawa menyedihkan di hadapan rekannya.
"Biarpun begitu, benda ini bisa mempertahankan sisa kewarasanku."
-----
KAMU SEDANG MEMBACA
(END) Solipsistic
Storie d'amoreWarnig! Kookmin Genderswitch. Istri cantik atau suami rupawan belum tentu menjamin siapapun tidak pernah kecewa. Beginilah realitas yang tengah dihadapi oleh pasangan ini. Jungkook dan Jimin berputar dalam perdebatan yang itu-itu saja. Sampai salah...
