Acara Besar

144 34 27
                                        


Pisau bedah berlumuran darah ada di benaknya sekarang.

Yuta melihat dengan jelas luka di bagian belakang tubuh Fuko.

"Columbia" kata Fuko dengan suara yang bergetar.

Hanya itu yang Fuko katakan. Yuta diam, berharap Fuko melanjutkan kalimatnya.

"Rumah itu kecil, terakhir aku hanya duduk di meja makan sambil melihat beberapa orang mati tertembak. Darah meraka sangat banyak." Lanjutnya lalu berbalik menghadap Yuta, "ibu mati dengan pedang yang panjang tertusuk di dadanya dan ayah..." perlahan Fuko mengatur nafasnya lagi.

"kepalanya putus."

Mendengar semua penuturan Fuko rasanya sangat mengerikan, perasaan aneh mulai menggerayangi sekujur tubuh Yuta. Ia bergidik ngeri, padahal itu hal biasa yang Yuta lakukan. Jangankan memutuskan kepala manusia dengan sebilah pedang, menguliti kulit wajah seseorang hidup-hidup pun pernah ia lakukan.

"Lion, ngga mungkin sejahat itukan?"

Hening, jawaban apa yang Fuko harapkan? Yuta tersenyum tipis ditengah kekalutannya mencerna apa yang baru saja ia dengar. Ia menggelengkan sedikit kepalanya lalu menarik tangan Fuko untuk mendekat. Diambilnya piyama Fuko lalu memakaikannya lagi seperti semula.

Dengan lemas, Yuta berjalan menuju bar yang ada didekat meja makan, menuangkan whiskey kedalam gelas tanpa es. Fuko benar-benar bertemu dengan orang yang salah, tapi kenapa tetap mengatakan hal-hal yang indah saat melihat mata Yuta? 

Ditempat lain, Mouri sedang membuka sebuah arsip foto. Dipandanginya sebuah foto saat ia masih menjadi seorang asashin --pembunuh bayaran saat itu dan hidup dalam lingkup ganasnya mafia Columbia. Wanita cantik itu menghisap batang rokoknya lalu menghembuskan asapnya, frustasi.

Acara besarpun dimulai, jam menunjukan pukul 2 dini hari. Beberapa mobil terparkir di sebuah rumah tua besar pinggiran Tokyo. Acara ini berlangsung seperti acara lelang barang antik, mafia berdatangan dari berbagai negara, mereka di dominasi oleh mafia-mafia lanjut usia.

Yuta berada dalam mobil bersama dengan Fuko yang sama sekali ngga ngerti acara apa yang ia hadiri.

"bawa dia masuk" titah Maori pada bodyguard-nya.

"biar aku yang bawa Fuko masuk." Sergah Yuta, segera sebelum bodyguard itu menyentuh Fuko dengan kasar.

Saat itu Fuko ngga menyangka kalau ia akan melihat sosok yang cukup berpengaruh dalam hidupnya, ia segera mengeratkan cengkramannya pada lengan Yuta, Yuta pun menyadari gerak gerik Fuko yang aneh. Fuko masuk ke fase paniknya.

"tenang, saya disini. Semuanya baik-baik aja." Bisik Yuta sambil merangkul Fuko masuk kedalam gedung.

Secara singkat, acara ini sebenarnya acara lelang 'harta karun' yang diadakan Maori dan aliansi mafia yang dibentuknya. 'Harta karun' tersebut berupa transponder dalam bentuk manusia. Fuko. Bisa dibayangkan berapa keuntungan yang didapat? 'Harta karun' yang dikunci oleh transpondernya pun bernilai sangat tinggi, apalagi harga lelangnya? Ngga asing bagi mereka untuk melelang manusia layaknya barang antik seperti ini.

Sesampainya didalam gedung, Fuko dan Yuta masuk ke ruangan. Didalamnya ada sebuah jeruji besi berukuran 2x1meter. Dengan tatapan nyalang penuh emosi yang tertahan, Yuta melirik Maori.

"apa maksudnya kandang ini?"

"masukan gadis itu kesana." Jawab Maori singkat.

"jangan gila!" balas Yuta pelan tapi penuh penekanan. "kamu dan aliansimu itu hanya butuh chip transponder yang ada ditubuh Fuko, persetan dengan harta itu. Kita lakukan bedah saja dan jangan sentuh Fuko lagi."

Maori menghembuskan nafasnya, "Yuta sayang, ini semua ngga semudah itu. Ibu sangat tahu kondisi chip didalam tubuh gadis ini. Bedah? Itu ngga mungkin. Permainan ini semakin menarik karena wanita ini pembawa transpondernya. Permaian yang dibuat orang Jepang selalu menarik kan? Ini bukan cuma lelang biasa. Ibu yakin kamu juga akan ikut dalam permainan ini."

"mungkin itu akan jadi tawaran yang menarik kalau bukan Fuko"

"memangnya kenapa kalau Fuko?" suara wanita yang lembut tiba-tiba terdengar, Yuta berbalik, memeriksa suara siapa itu.

"Tiffany?"

Si pemilik suara tersenyum simpul lalu menghampiri Fuko yang berdiri disamping Yuta. "kamu terlihat jauh lebih cantik sekarang" katanya ramah.

Dengan gemetar Fuko melirik Yuta, matanya seakan minta pertolongan. Yuta berusaha untuk bersikap tenang kali ini, sambil benaknya menggerutu 'what the fuck is going on?!'.

Meski begitu, mau ngga mau Fuko tetap masuk kedalam jeruji besi itu.

"ingat apa yang saya bilang? Saya ngga pergi kemanapun, saya disini. Tolong percaya" Kata Yuta pelan sambil menatap Fuko lekat-lekat sebelum matanya ditutup kain.

Yuta berjalan keluar gedung, ia melihat sekeliling dan memperhitungkan sesuatu. Ia menganalisa jumlah penjaga yang ada dan semua jalan yang bisa dilalui. Jauh dari tempat dimana Yuta berdiri, seseorang dalam mobil lengkap dengan laptop diatas pahanya –menyoroti Yuta dengan teleskop.

"oke..." katanya pelan lalu menyimpan teleskop dikursi sampingnya.

Yuta menarik nafasnya panjang, ia melirik jam. Waktunya hanya sedikit, kurang dari 45 menit dan acara akan dimulai 10 menit lagi.

"para hadirin berbahagia selamat datang..." ucap Tiffany memulai sambutannya.

Yuta duduk disamping Maori di kursi tamu paling depan. Diatas podium ada jeruji tempat Fuko berada, jeruji itu di tutupi kain berwarna merah.

"kenapa harus tiffany?" bisik Yuta pada Maori.

"karena dia pemilik idenya." Jawab Maori singkat.

Beberapa tahun lalu...

"Yuta!" panggil seorang anak perempuan. Anak itu jauh lebih tinggi dan dewasa dari Yuta, dia tersenyum dan Yuta menyambutnya dengan kerutan di dahi.

'sruuukk' suara susu kemasan yang diminum Yuta. Ia hanya diam.

"Yuta, kamu ngga tau ibu kamu dimana? Ah! Aku lupa dia bahkan ngga anggap kamu anaknya ya?"

Yuta yang saat itu masih sekolah dasar hanya bingung dengan perkataan lawan bicaranya.

"apa kamu tau kalau ibu kamu bunuh banyak orang?"

"ibuku ngga seperti itu Kak Tiffa..." balas Yuta pelan.

Suara musik dan riuh tepuk tangan para tamu membuyarkan lamunan Yuta, Tiffany tampak begitu sumringah saat menjelaskan aturan permainannya.

"intinya hadirin sekalian, hanya perlu menggunakan nona manis yang ada didalam sini untuk membuka tempat dimana 'harta karun' itu disimpan. Hanya saya dan gadis ini yang tau alamatnya. Well, pelelang yang ambil harta paling besar akan mendapatkannya dan bebas melakukan apapun supaya mendapatkan alamat dari gadis ini."

"bebas melakukan apapun ya? Apa dia cantik? Kan lumayan bonus" kata salah seorang hadirin berperawakan besar dengan perut buncit.

"tentu" balas Tiffany sambil tersenyum. "baik selanjutnya, inilah transponder kita!"

Bersamaan dengan itu tirai dibuka dan Yuta berdiri melangkahkan kakinya keluar rumah itu. Ia berdiri menghadap sebuah mobil kemudian lampu diseluruh rumah itu padam.


Bersambung...

ayo tebak-tebakkan, ada apa niiiccchhh! kenapa nicccchhh ko lampunya mati huhu...

[EDITING ON PROCESS] YUTA'S Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang