Midnight Cake [edited]

494 112 9
                                        

Hai! Gaiss makasih banget komen vote dan dukungannya yorobuuuuunnn 💚

***

Meja makan pagi itu terlihat kosong, tidak ada Yuta disana. Fuko menarik satu kursi lalu duduk, ia cuma diam.

"Mau sarapan disitu?" Tanya Sachan.

Fuko menoleh lalu menggeleng, ia berjalan menuju kamarnya, "Yuta kemana?"

"Pergi ke Osaka"

"Osaka?"

•••

Semilir angin membelai pipi Yuta dengan lembut, ia menghembuskan nafasnya --malas, dipandanginya rumah Mori, menerka-nerka apa yang ingin ibunya bicarakan pagi ini. Yuta masuk ke ruangan ibunya, disana Mori sedang sibuk berkutat dengan beberapa berkas.

"Oh, cepat sekali" kata Mori seraya membuka kacamatanya.

Yuta mendaratkan bokongnya di sofa, "ada apa?"

"Tanda tangan dan stempel Fuko, sudah dapat?"

"Belum"

"Kalau begitu, sepertinya dia harus tinggal di rumahnu sedikit lama sampai waktunya tiba"

"Kenapa? Apa yang sebenarnya ibu rencanakan? Stempel sangat mudah di palsukan kan?"

"Entahlah, ibu hanya merasa apa yang sedang ibu kerjakan tidak akan kamu sukai"

"Kalau begitu, tidak usah libatkan saya."

"Bagaimana ya, ibu sangat butuh kekutan pertahan kamu untuk menjaga perempuan itu" jelas Mori enteng dan percaya diri.

"Pertahanan? Ini semua bukan soal tandatangan dan stempel kan?"

"Nanti juga kamu akan tahu, jaga Fuko baik-baik ya" pinta Maori.

Yuta hanya merespon dengan lirikan dan smirknya yang khas. Ia ingin tahu lebih banyak tapi yang jelas Mori bukanlah sumber yang bisa ia percaya.

***

Sebuah panggilan masuk ke ponselnya saat Yuta berada di dalam mobil.

"Hallo"

"Tuan Yuta! Siaga 4!"

Yuta melirik rumah Mori, sebenarnya apa yang ibunya rencanakan.

Beberapa penjaga berdiri mengelilingi rumah saat Yuta baru saja sampai pada jam 2 dini hari. Siaga 4 artinya ada yang membobol sistem keamanan tanpa ada kontak fisik atau senjata. Ia melangkahkan kakinya, bergegas masuk rumah dengan 1 ruangan yang menjadi tujuan utama.

Cklek!

Fuko disana ia sedang terlelap diatas kasurnya yang tipis. Yuta melihat sebuah kaus kaki putih melekat di kaki wanita mungil itu, kaus kaki pemberiannya. Ia berbaring menghadap tembok, rambut panjangnya tergerai kesembarang arah. Yuta bisa melihat dengan jelas lekukan leher yang putih dan mulus, punggungnya, tubuhnya yang kecil meringkuk disana.

Sempat terpikir untuk membelikannya sebuah ranjang besar yang empuk dan nyaman, tapi itu cukup berbahaya.

"Sebenarnyakamu siapa" ujar Yuta pelan.

"Tuan" panggil Sachan dari ujung pintu.

Yuta menoleh lalu berdiri, ia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Hampir salah tingkah.

"Fuko tertidur karena baru saja meminum obat" kata Sachan, memberi informasi sukarela sambil tersenyum penuh arti.

Yuta mengangguk lalu pergi tanpa sepatah katapun. Sekarang ia harus bergegas mencarintahu siapa yang berusaha membobol pengamanan rumahnya. Rumahnya selalu clear di 4 tahun terakhir, ini pertamakalinya lagi ia mendapat siaga 4.

Beberapa asisten memberikan informasi terkait pembobolan yang terjadi. Anonim, ya itu bukan hal yang aneh.

"Perketat beberapa penjagaan fisik di gerbang terdepan" titah Yuta, beberapa orang asistennya pun pergi dan segera memenuhi keinginan bosnya.

***

Hari sudah gelap, tengah malam. Yuta menuruni anak tangga sambil melepas kacamatanya dan memijit pelipisnya, kerjaannya sedikit penumpuk akhir-akhir ini.

Lelaki berambut gondrong itu terdiam saat seseorang menyambutnya diujung tangga, dengan baju putih dan rambut hitamnya. Persis seperti Sadako yang baru keluar dari sumur.

Keduanya diam dan salig menatap, entah kenapa Yuta sedikit kaku setiap kali berhadapan dengan Fuko, entah karena takut wanita itu akan histeris, mengamuk atau karena ada hal lain.

Fuko tersenyum dan Yuta mengernyitkan dahinya.

"Ini sudah malam" kata Yuta cuek.

"Saya tahu"

"Tidur"

"Iya, saya tidur tapi nanti"

Hening, sepertinya baru kali ini Yuta bisa mendengar suara Fuko dengan jelas. Lembut dan manis.

"Mau makan kue?"

Entah apa yang ada di pikiran Yuta, mereka berakhir di meja makan dengan kudapan cheesecake strawberry di tengah malam.

Sachan sengaja bersembunyi di balik tembok, ini bukan hal buruk. Perlahan Sachan menarik sudut bibirnya, ia senang dengan respon tuannya. Yap tentu saja, kita sama-sama tahu sekejam apa Tuan Nakamoto.

Yuta mengunyah sesuap cake yang baru saja masuk mulutnya sambil sesekali memperhatikan Fuko.

"Yuta..."

Bersambung
Vote and comment

[EDITING ON PROCESS] YUTA'S Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang