Prologue

1K 70 12
                                    

Prologue


Anna berlari di tengah hujan deras yang mengguyur kota malam ini. Dia terus berlari, tidak peduli apapun dan tidak mau menolehkan kepalanya barang sejenak untuk melihat ke belakangnya. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah lari, lari dan lari walau rasa sakit masih terasa pada salah satu bagian ditubuhnya. Walau detak jantungnya terus bertalu-talu seolah ingin meledak karena ketakutan. Benar, dia harus terus berlari saat ini. Dia harus terus berlari kalau masih ingin selamat atau setidaknya merasa terbebas...

***

Tujuh tahun yang lalu, Jun pernah merasa menjadi lelaki yang paling bodoh karena telah ditipu oleh seseorang. Tujuh tahun yang lalu, dia pernah mengenal seorang perempuan yang terlihat polos, katakan saja perempuan itu perempuan baik-baik yang tidak akan pernah kalian duga kalau ternyata perempuan itu punya sifat buruk dan berhasil menjadi penipu. Dan tujuh tahun yang berjalan ini, dengan terus mencoba menyangkal dan tidak mau mengakuinya bahwa Jun tidak bisa melupakan malam itu.

Bukan malam dimana dia terbangun sendirian dan merasa kesal karena telah ditinggalkan dan ditipu.

Tapi malam sebelum semua itu terjadi, malam dimana menurut Jun (walau terus menepisnya) adalah malam paling panas dan bergairah menurutnya. Dan kalau Jun bisa jujur pada perasaannya sendiri, malam itu adalah malam terindah untuknya sebelum berubah menjadi malam yang terburuk baginya.

Jadi, haruskah dia melupakan malam terindah sebelum menjadi malam terburuknya itu?

Seolah dirimu diberi izin untuk masuk ke surga, menikmati surga itu dalam hitungan beberapa jam tapi setelahnya kalian dicempelungkan ke dalam neraka, disiksa bertahun-tahun tanpa limit waktu yang jelas. Bahkan hingga saat ini, setelah tujuh tahun berlalu, semuanya masih terasa menyiksa bagi Jun. Otaknya tidak pernah bisa lepas dari semua ingatan itu. Otaknya seolah dirancang, diberi dan ditanami sebuah chip yang isinya hanyalah ingatan akan malam itu. Terindah juga terburuk!

Jun tersenyum, lebih terlihat licik dan sedikit menyeramkan walau dia memiliki wajah yang tampan bukan main. Kemudian temannya (satu-satunya teman yang dia miliki sebenarnya) kini memberi komentar. "Jadi, kau masih ingin membalaskan dendam mu padanya?"

"Dendam?" Jun menatap balik Jimin, menaikan sebelah alisnya saat menambahkan. "Sebutan dendam sepertinya tidak cukup! Aku ingin mengambil kembali uang yang perempuan sialan itu ambil dariku!"

"Apa benar kau hanya ingin mengambil kembali uang itu darinya?"

Jun kembali menaikan sebelah alisnya, menatap Jimin dengan pandangan sedikit kesal. "Apa maksudnya?"

Sedang Jimin, dia justru tersenyum dengan senyuman paling menyebalkan (Ingin sengaja mengejek sepertinya) sebelum dia menjawab. "Ini sudah tujuh tahun berlalu setelah perempuan itu menipumu. Kalau kau memang ingin mendapatkan kembali uangmu yang sudah dibawa lari oleh perempuan itu, bukankah seharusnya kau mencobanya sehari setelah kau tahu kalau kau sudah ditipu?" Jimin melebarkan senyumannya dan menambahkan. "Dengan kekuasaanmu, kau bisa mendapatkan uang itu sejak dulu. Kau juga bisa menuntut perempuan itu, memenjarakannya kalau perlu! Tapi kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang kau mencoba mengambil kembali uangmu yang aku pikir pasti tidak seberapa dibanding dengan kekayaan yang kau miliki sekarang ini. Ini semua terlalu aneh dan tidak masuk akal, Jun!"

Terlalu aneh dan tidak masuk akal katanya?
Memangnya Jimin tahu perasaan apa yang sudah Jun rasakan selama tujuh tahun ini setelah kejadian malam itu? Rasa kecewa yang teramat saat pertama kali Jun membuka matanya malam itu, lalu bayang-bayang akan semua kejadian yang terus menganggunya selama ini. Dan lagi, memangnya kenapa kalau baru sekarang Jun mencoba mendapatkan kembali uangnya yang sudah diambil oleh perempuan penipu itu tujuh tahun yang lalu? Memangnya apa salahnya? Itukan uangnya Jun, dan Jun punya hak untuk mengambilnya kembali.

Kim Jun masih menatap kesal Jimin, benar-benar semakin kesal setelah mendengar semua ucapan Jimin yang sebenarnya agak masuk akal itu. "Apa kalau kau jadi aku, kau akan merelakan 50juta dollar mu begitu saja?"

"Tentu saja tidak!" Dengan ekspresi berlebihannya (Jimin memang tipikal lelaki yang penuh dengan ekspresi dan berbanding terbalik dengan Jun yang hanya tahu ekspresi marah saja) lalu dia menambahkan. "Jangankan 50juta dollar, 100 dollar pun aku akan menagihnya. Tapi masalahnya, aku tidak akan bisa bersabar hingga tujuh tahun untuk mendapatkan uangku kembali. Saat tahu aku kehilangan uangku walau hanya sedikit saja, aku pasti akan segera mencarinya, tidak sepertimu!"

"Itu karena aku harus menyelesaikan kuliahku dulu!" Sepasang mata Jun yang tajam itu melotot bahkan hingga urat-urat dilehernya mengencang dan dia tidak peduli karena dia masih ingin menjelaskan lebih banyak lagi. "Kau tahu kalau aku harus pergi lagi ke Boston sehari setelah penipuan itu terjadi. Jadi aku tidak punya waktu untuk mencari si penipu kecil itu!"

"Benar!" Jimin menganggukan kepalanya (sok mengerti), membuat Jun sedikit merasa puas tapi kemudian rasa kepuasannya itu segera hilang saat mulut Jimin kembali berkomentar, "Tapi seingatku kau pulang kembali setelah dua tahun manamatkan belajarmu di sana. Itu artinya, kau masih bisa mencari perempuan itu lima tahun yang lalu."

"Aku sibuk!" Kini Jun berdiri bangun dari duduknya, terlihat seperti marah (wajahnya memang tipikal wajah lelaki tampan yang dingin dan sulit disentuh/didekati dan sekali lagi, hanya marah yang bisa dia tunjukan). "Jika saja ayahku tidak sakit waktu itu, mungkin aku sudah bisa mencari si penipu itu dan mendapatkan uangku kembali."

"Kim Jun, ayolah!" Jimin justru kembali tersenyum, sama sekali tidak merasa takut dengan Jun yang terlihat marah itu (mungkin menjadi teman dari Jun satu-satunya yang mampu bertahan lama membuatnya kebal pada ekspresi marah dari lelaki itu). Jimin tersenyum meremehkan sebelum menambahkan. "Kau semakin terlihat lucu jika terus menyagkalnya."

"Menyangkal?" Jun mengernyitkan dahinya, berpura-pura tidak mengerti. Sungguh, Jun punya IQ tinggi jadi dia sudah dipastikan bisa mengerti dengan ucapan terselubung dari temannya ini tapi dia ingin terus berpura-pura dan tentu untuk terus menepisnya. "Menyangkal apa dan untuk apa?"

Dengan santainya Jimin bangun berdiri, memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya lalu memandang Jun dengan pandangan geli saat dia berkata. "Yang tidak bisa kau lupakan itu bukan uang 50juta dollarmu, tapi orang yang mengambil uangmu itu bukan? Yang tidak bisa kau lupakan itu bukan kejahatan yang dilakukannya, tapi si penjahatnya yang sudah melakukannya itukan? Singkatnya, kau tidak bisa melupakan Park Anna bukan? Satu-satunya perempuan yang sudah berhasil membuatmu jatuh sejatuh-jatuhnya. Satu-satunya perempuan yang ada dalam pikiranmu selain ibumu tujuh tahun ini, benarkan?"

Jun mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, giginya saling bergemeretak menahan amarah kemudian mulutnya bergerak hanya untuk berkata. "Brengsek!"

To Be Continued







Halo halo semuanya, apa kabar?

Aku kembali dengan cerita yang lebih dark (ga gelap2 amat sih hehe) tapi yang pasti cerita ini akan mengandung banyak adegan dewasa dan aku ga sarankan untuk kalian membaca ceritaku yang ini. 

Kenapa?

Jeng jeng jeng...

Karena cerita ini hanya sebatas promo dimana chapter 6 keatas akan aku publish di: karyakarsa.com (Oke, aku memang pantas dihujat karena sudah bertindak menyebalkan setelah hilang dari dunia orens sebulan lebih malah kembali dengan yg lain hiks)

tapi tenang, aku akan tetep nyelesain si rubah dan kawan2 nya yang belum tertuntaskan disini kok, apalagi untuk kalian yang selalu setia nungguin up ceritaku ini hehe...

terima kasih banyak untuk kalian yang selalu ngedukung cerita2ku yah. kalian the best lah pokonya....

stay safe untuk kita semua yah guys :)

The Worst ContractTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang