Bercerita tentang seorang gadis cantik, yang terkenal dengan sifat baiknya dan sedikit polos dan juga sedikit manipulatif.
Gadis itu sangat suka membaca novel, apalagi yang bergenre transmigrasi. Lalu bagaimana jika dia masuk ke novel yang tak perna...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy reading
"Hah~kali ini apa yang terjadi? Apa kalian tau kalau sampai kalian terlambat membawa nya nyawanya pasti tidak dapat ditolong, jadi jangan biarkan hal ini terjadi lagi" penjelasan Dika selaku dokter pribadi keluarga Miller itu mampu membuat kepala Gibran berdenyut nyeri begitu dengan hatinya.
Rasanya Gibran tidak bisa mendeskripsikan perasaan nya saat ini, rasa marah, sedih, kecewa bercampur aduk menjadi satu.
Gibran menatap ke arah Karina yang terdiam dengan pandangan lurus ke arah ruang rawat Alina. Digenggamnya tangan istrinya dengan lembut untuk memberikan ketenangan.
Gibran tau, walaupun Karina tidak mengatakan apapun tapi dia yakin kalau Karina menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Alina.
"Apa kami bisa menjenguk Alina" Suara Karina terdengar setelah diam beberapa saat.
"Ya kalian bisa menjenguknya"
"Terimakasih Dika" Dika hanya mengangguk kan kepala nya dan segera berlalu pergi dari sana, karena masih banyak pasien lain yang harus ditangani nya.
Ceklek
Gibran membuka pintu itu perlahan, hal pertama yang dia lihat adalah Alina yang terbaring di ranjang pesakitannya dengan masker oksigen yang melekat diwajah mungil itu.
Kini mereka semua berada diruang rawat Alina, namun Alina masih belum siuman, Dokter Dika mengatakan Alina akan segera siuman, namun satu jam lamanya mereka berada disini dan tidak ada tanda tanda Alina akan terbangun.
Di Ruangan tersebut hening, hanya Isak tangis yang terdengar, bahkan Kenzo yang sejak masuk kesini tidak pernah bergerak seinci pun dari samping adiknya, ia duduk disebelah kiri brankar tempat adiknya terbaring sedang kan mommy dan daddy nya berada disebelah kanan.
Dia sangat menyayangi Alina lebih dari apapun, bahkan ia lebih menyayangi Alina dibandingkan Alika meski ia baru mengenal adiknya itu.
"Uhh" Lirihah kecil Alina langsung mendapat perhatian keluarga yang ada di sana, semuanya mendekat ke arah brankar tempat Alina terbaring.
"Mom disini sayang" Tangan nya terus menggenggam tangan mungil Alina.
Kelopak matanya terbuka dengan pelan, menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retina nya.
Begitu kelopak mata itu terbuka dengan sempurna, tatapan nya langsung mengedar memperhatikan sekitar, ia hanya memandang keluarga nya dengan tatapan polos miliknya.