Malam hari di kediaman Alina, terlihat sedang melakukan makan malam. Di meja makan ada mama, papa dan juga Alina yang tengah sibuk menyantap hidangan malam mereka dengan tenang tanpa ada obrolan.
Alina menyelesaikan makan malamnya dengan segelas air. Gadis berpiyama pendek itu menatap kedua orang tuanya secara bergantian. Tidak ada yang keluar dari bibirnya, ia hanya melirik sambil sesekali menggigit bagian dalam mulutnya.
"Mau minta apa?" Raka-papa Alina langsung memberi pertanyaan membuat Alina tersenyum malu.
"Hehehe. Tau aja sih Papa." balas Alina dengan cengiran andalan miliknya.
Sinta-mama Alina ikut tersenyum melihat interaksi anak dan suaminya. Sambil menyuap nasi di piringnya, wanita berumur empat puluh tahunan itu berucap. "Paling minta ganti hp, tuh, Pa."
"Ihh. Enggak, Ma. So tau nih sih Mama." jawabnya cepat.
"Terus mau apa?" Raka bertanya kembali.
"Minta izin nikah muda, boleh, Pa?" ucapan tanpa dosa yang gadis itu keluarkan membuat mamanya tersedak.
Raka yang mendengar sekaligus melihat dua wanita paling berharga dalam hidupnya hanya bisa menghela napas pasrah. Ia tau sifat ajaib anaknya dan ia juga tau tingkat keseriusan istrinya.
"Gausah macem-macem Alina. Kamu dari sore bikin Mama naik darah terus!" omel Sinta setelah meminum air untuk menetralisirkan tenggorokan.
"Ish. Kalo Alin bilang Alin udah dudun anak Akbar gimana? Mama percaya, ga?" ujarnya kembali membuat Raka tambah pusing.
Walaupun ia tau Alina tidak akan melakukan hal itu, tetap saja, ia juga sedikit emosi jika Alina dengan enaknya mengucapkan kalimat yang mengagetkan.
Sinta meletakan sendoknya kasar. Matanya menatap tajam mata anaknya yang duduk persis di hadapanya.
"Bapakmu dudun! Mau Mama penggal kepalamu, Alin?!" emosinya meluap.
Alina berusaha sekeras mungkin menahan tawanya. Karena sejak awal ia memang hanya ingin menghibur mamanya atau hanya sekedar membuat rumah dengan dua lantai ini bersuara. Ia sama sekali tidak serius dengan ucapannya.
"Apasih, sih Mama. Psikopat banget jadi Emak," menjeda. "Lagian Papa cowo. Mana bisa dudun. Emang Papa punya janin. Aneh ih." jawabnya kembali membuat Sinta geram, kesal, marah dan ingin memakan Alina hidup-hidup.
Alina kembali menatap papanya yang sejak tadi hanya diam. Raka memilih tetep diam dengan tangan yang menumpuh kepala.
"Boleh, ya, Pa..."
Raka menonggak. "Terserah-"
"Mas!" Sinta memanggil dengan suara tinggi.
"Alin ga serius, Ma. Dia bercan-" ucapan Raka terpotong.
"Bercanda apanya. Tadi siang anak itu udah ngomong masalah cucu. Kalo yang di omongin sekarang beneran gimana? Emang Papa mau punya anak hamil di luar nik-"
Tawa puas Alina pecah. Gadis itu bahkan sampai memegangi perutnya saking puasnya tertawa. Matanya berair, bibirnya bahkan kaku hingga tidak bisa bicara apapun selain tertawa.
"Aku bercanda, Ya Allah..." ucapnya di sela tawa menggelengar miliknya. "Serius banget sih Mama. Ampunnnn."
Raka perlahan terkekeh. Mau di tahan sekuat apapun, tetap tidak bisa. Pasalnya wajah istrinya terlampau serius.
"Udah. Sana kamu ke kamar. Bikin geger aja bisanya." titah papanya di terima.
Alina beranjak, membawa piring serta gelas kosong miliknya untuk di bawa pada wasthafel.
"Alin..." Sinta memanggil.
Alina yang masih mencuci tangan menjawab dalam jarak kurang lebih dua meter. "Kenapa, Ma? Mama mau cucu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Tragedi Cinta
Teen FictionTragedi Cinta. Keluar Zona beranak. *** Akbar dan Alina adalah sepasang kekasih yang hubungannya sudah tidak menjadi rahasia. Alina yang banyak tingkah serta memiliki paras yang cukup kuat bertemu dengan Akbar yang cuek dan masa bodo. Sifat Akb...
