"I have all of this shit in my mind, can't you imagine that? Thinking about suicidal all of the time! I'm exhausted for being like this! Don't you?"
Steve menggeleng dan menatap wajah pucat Viens yang dipenuhi air mata di pipi. Melihat betapa hancur...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Buruan anjir, lama amat milihnya." Viens mulai kesal dengan Steve karena tak kunjung pesan juga apa yang ia inginkan.
"Gue bingung tau. Keliatan enak semua weh," ujar Steve dengan mata berbinar.
"Lo nyari resto mahal, pinter banget lo bikin gue sengsara ya."
Steve terkikik geli mendengar keluhan Viens.
Ini adalah hari ketiga hukuman Viens berlangsung. Ia harus membelikan makanan Steve selama seminggu karena ia kalah taruhan dengan Steve.
Disinilah mereka berada. Di restoran yang tak pernah Viens datangi. Entah bagaimana cara Steve tahu tentang restoran mewah ini. Setahu Viens, Steve tak pernah ke restoran. Ya, ini sepengetahuan Viens saja.
Biasalah, mereka lebih sering nongkrong di warung Mang Udin.
"Lo pesen juga gih."
"Gamau. Ga ada yang murah, Steve." Mata indah Viens bergulir kesana kemari menatap harga di menu.
"Hari ini gue ulang taun, jadi gue traktir deh." Viens mengernyitkan alisnya.
"Ultah lo dua puluh September, bego."
"Iya juga. Ga apalah, gue kan baik hati. Jadi khusus hari ini gue traktir," sahut Steve.
Viens hanya menatap malas Steve.
"Sesuai perjanjian dong tai. Kan gue yang traktir."
"Kalo lo traktir gue, tapi lo sendiri ga makan. Gue jelas gamau ege. Gue ga sekejam itu."
"Heleh, howak howak," ejek Viens dengan nada yang menyebalkan menurut Steve.
"Ck, ga percayaan lo. Split bill aja, mau ga?"
Viens tampak berpikir sebentar lalu mengiyakan ajakan Steve.
"Oke, deal!"
Mereka mulai memesan menu yang tampak menarik di mata mereka. Walaupun sebetulnya semua tampak sedap di mata. Tapi kembali lagi, mereka sadar tak akan bisa menghabiskan itu semua.
Malam pun tiba. Viens sedang duduk termenung di dalam kamarnya. Ia memandangi hujan dari balik jendela. Sangat menenangkan kepalanya. Namun ketenangan itu tak bertahan lama, karena ia baru saja teringat sesuatu.
Ya, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaannya tiap malam. Mengganggu Steve yang sedang bermain game mobile.
"Hehe, ini waktu yang pas banget. Lagian siapa suruh jadi orang songong," senyum Viens terpampang jelas di wajah manisnya.
Senyum nakal tentunya. Ia mencari kontak Steve di ponselnya dan menekan icon memanggil.
Sedangkan di seberang Steve tampak berkali-kali mengumpat karena ia hampir menang dari lawannya. Namun sayang sekali, usaha Viens dalam mengganggu Steve berhasil.