4. Date

35 10 73
                                        

"Kaos lo ganti yang lain kek

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kaos lo ganti yang lain kek. Masa lo mau pake kaos partai sih?" Steve jengah melihat kaos yang dikenakan Viens.

Pasalnya hari ini adalah hari dimana Viens berkencan dengan Andreas. Steve mengira kalau Viens akan berpakaian feminim dan menunjukkan keanggunan. Namun nyatanya Viens, tetaplah Viens.

Viens berpakaian sederhana dan cenderung nyeleneh di mata Steve. Kaos merah berlogo banteng*, serta celana jeans kulot. Lalu dipadukan dengan sepatu sneakers putih.

"Jangan salah, ni kaos kebanggaan gue tau!" Ujar Viens bangga.

"Tapi liat sikon dong. Lo lagi ngedate, bukan mau kampanye pemilihan umum," jawab Steve.

"Ganti kek outfit lo. Sepet mata gue liatnya!" Sambungnya.

Viens menggeleng kuat.

"Terserah gue dong mau kaya gimana. Lagian gue suka sama dia, bukan berarti gue mau pacaran atau jalan sama dia," sahut Viens sembari merapikan rambutnya.

"Lah, gunanya lo suka dia buat apa coba?"

"Apakah suka harus jalan atau pacaran? Engga kan. Gue cuma suka, sebatas suka." Viens mulai menyemprotkan parfum aroma vanila.

"Berarti gue salah dong?"

"Iya salah! Motivasi lo bilang ke dia itu apa sih Steve? Lo tau sendiri gue gasuka hal kaya gini." Viens membalikkan badannya menghadap Steve.

"Yah, gue kan cuma pengen lo bisa deket aja sama orang."

"Cuma? Lo tau ga, kalo nanti gue jauhin Andreas dengan tiba-tiba karena ilfeel, dia bakal mikir apa tentang gue ha?" Viens membalikkan lagi badannya membelakangi Steve.

Steve tampak diam. Harusnya ia sudah memprediksikan bahwa Viens akan kesal, namun Viens tak menunjukkannya.

"Batal aja deh, Viens. Gue ga enak sama lo tai." Seketika itu juga Viens membanting lipgloss yang ada di tangannya hingga wadahnya retak.

Hal ini membuat Steve kaget bukan main.

"Heh babi, lo liat gue sekarang! Gue udah dandan, rapi, cakep. Dan lo bilang apa? Batal? Seenak jidat lu bilang batal?" Jika sudah seperti ini, tandanya Steve harus waspada. Sepertinya Viens sedang dalam mode senggol bacok.

"Engga-engga, engga jadi Viens. Sok mangga we kalo mau jalan mah, hehe." Steve tersenyum kikuk mencoba mencairkan suasana.

"Gue tetep jalan sama dia. Karena lo bilang ke Andreas kalo gue yang ngajak jalan. Mau gamau gue harus tepatin janji yang engga gue bikin." Viens tetap datang apapun yang terjadi. Ini menyangkut harga dirinya.

Steve bangun dan merangkul bahu Viens.

"Cakep banget temen gue!" Pujian Steve tampak seperti ledekan bagi Viens.

Viens membuka salah satu dari koleksi lipstick nya. Kemudian ia dengan cepat mencorat-coret wajah Steve.

"Kena lo!"

BreathTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang