8. Weird

17 3 8
                                        

"Hmm

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Hmm... mahal juga harganya." Viens bergumam saat sedang memeriksa harga album dari boygroup favoritnya.

Ia berencana membelinya satu untuk tambahan koleksi. Walaupun mengeluhkan tentang harga, namun tak urung Viens tetap membelinya.

"Lagi liat apaan lo?" Viens mendongak dan mendapati Joshua yang sedang memakan es krim di hadapannya.

"Mau," Viens menunjuk es krim di tangan Joshua. Joshua dengan senang hati menyuapinya. Viens memakan hampir setengah es krim. Bahkan sekarang Joshua sedang menatap miris es krimnya yang telah dilahap Viens.

Tersisa sedikit es krim dan contongnya saja. Nasib Joshua begitu indah.

"Nih, album Seventeen. Gue pengen beli," ujar Viens.

"Gausa beli dulu. Buat nabung aja duitnya." Joshua menyarankan agar perempuan maniak kpop ini berhenti sejenak untuk membeli pernak-pernik idola favoritnya.

"Justru itu. Gue nabung buat beli album," Viens menuturkan bahwa ia menabung hanya untuk membeli album.

"Seenggaknya gue masih ada motivasi buat nabung." Viens menatap Joshua dengan sendu.

"Iya juga sih."

"Shu, aaa." Viens membuka mulutnya dan menyuruh Joshua menyuapkan sisa contong es krim ke mulutnya.

Joshua hanya menatap Viens dan menyuapkan ke mulutnya sendiri sisa contong es krim tersebut.

"Jahat lo babi!" Viens menggigit tangan Joshua dan lari keluar dari kelas begitu saja tanpa mengatakan apapun.

Sementara Joshua merasakan nyeri hebat di tangannya akibat gigitan Viens.

"WOY SIALAN! BALIK GA LO!" Joshua pun melakukan hal yang sama. Mengejar Viens yang sudah sampai di depan kelas sebelah.

Mata dari murid-murid sekitar mengamati bagaimana Viens dan Joshua berlarian. Mereka sudah terbiasa dengan tingkah mereka berdua yang tak ada habisnya.

Gosip-gosip tak sedap kadang muncul tentang kedekatan Viens dengan Joshua dan Steve. Namun Viens tetap acuh tak acuh, untuk saat ini.

Viens berlari kencang tanpa melihat ke belakang. Ia bagai orang tuli yang tak mengindahkan segala sumpah serapah Joshua.

Sampai di lapangan, ia tersandung batu yang tak ia sadari keberadaannya. Alhasil membuatnya terjatuh.

"Anjir!" Viens memekik kencang.

Joshua semakin mempercepat laju larinya. Melihat Joshua yang semakin mendekat, Viens justru tetap mengambil posisi mulai berlari lagi. Tanpa menghiraukan bagaimana luka yang bersangkar di dagu serta lututnya.

Viens berlari terpincang-pincang dan hal itu menjadi kesempatan untuk Joshua segera menangkapnya.

Hap!

BreathTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang